Rusia Uji Coba Rudal Nuklir Sarmat, Putin Klaim Perang Ukraina Segera Berakhir

AKURAT.CO Presiden Rusia Vladimir Putin pada Selasa (12/5/2026) mengumumkan keberhasilan uji coba rudal balistik antarbenua terbaru Rusia, Sarmat. Uji coba ini menjadi langkah besar modernisasi kekuatan nuklir Moskow di tengah perang Ukraina yang masih berlangsung.
Putin menyebut rudal nuklir Sarmat akan mulai aktif digunakan militer Rusia pada akhir tahun ini. Rudal tersebut dirancang untuk menggantikan rudal era Soviet Voyevoda yang sudah menua.
“Ini adalah rudal paling kuat di dunia,” kata Putin dalam pernyataannya. Ia mengklaim daya ledak gabungan hulu ledak Sarmat lebih dari empat kali lebih besar dibandingkan rudal Barat sejenis.
Pengumuman itu muncul hanya beberapa hari setelah Putin menyatakan konflik Ukraina mendekati akhir. Pernyataan tersebut disampaikan usai parade militer Hari Kemenangan di Lapangan Merah Moskow yang untuk pertama kalinya dalam hampir dua dekade tidak menampilkan kendaraan tempur berat.
Sejak melancarkan invasi ke Ukraina pada Februari 2022, Putin berulang kali menggunakan retorika nuklir untuk memperingatkan Barat agar tidak meningkatkan dukungan militer kepada Kyiv.
Rudal Sarmat, yang dijuluki “Satan II” oleh negara-negara Barat, menjadi bagian utama dari program modernisasi arsenal nuklir Rusia. Pengembangan rudal ini dimulai sejak 2011 dan ditujukan menggantikan sekitar 40 rudal Voyevoda buatan Soviet.
Putin mengatakan Sarmat memiliki kemampuan lebih presisi dibanding pendahulunya dan mampu menempuh jarak lebih dari 35.000 kilometer melalui lintasan suborbital. Kemampuan tersebut diklaim membuat rudal itu sulit dicegat sistem pertahanan rudal modern mana pun.
Selain Sarmat, Rusia juga mengembangkan sejumlah senjata strategis baru, termasuk kendaraan luncur hipersonik Avangard yang mampu melaju 27 kali lebih cepat dari kecepatan suara. Sistem itu disebut sudah mulai aktif digunakan militer Rusia.
Moskow juga memperkenalkan rudal balistik jarak menengah Oreshnik yang mampu menjangkau target hingga 5.000 kilometer, termasuk hampir seluruh wilayah Eropa. Versi nonnuklir rudal tersebut diketahui telah dua kali digunakan untuk menyerang Ukraina.
Tak hanya itu, Putin mengungkapkan Rusia kini memasuki tahap akhir pengembangan drone bawah laut nuklir Poseidon dan rudal jelajah Burevestnik yang menggunakan reaktor nuklir mini sebagai sumber tenaga.
Poseidon dirancang meledak di dekat garis pantai musuh dan memicu tsunami radioaktif, sedangkan Burevestnik diklaim memiliki jangkauan hampir tak terbatas karena menggunakan tenaga nuklir.
Modernisasi senjata strategis Rusia terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran dunia terhadap perlombaan senjata nuklir baru antara Moskow dan Washington. Perjanjian pengendalian senjata nuklir terakhir antara Rusia dan Amerika Serikat diketahui telah berakhir pada Februari lalu, sehingga untuk pertama kalinya dalam lebih dari 50 tahun tidak ada lagi pembatas resmi terhadap dua arsenal nuklir terbesar dunia.
Putin menegaskan pengembangan sistem senjata baru Rusia merupakan respons terhadap sistem pertahanan rudal Amerika Serikat yang terus diperluas sejak Washington keluar dari perjanjian pembatasan pertahanan rudal era Perang Dingin pada 2001.
“Kami dipaksa memastikan keamanan strategis Rusia dan menjaga keseimbangan kekuatan global dalam realitas baru ini,” ujar Putin.
Sumber: Independent
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 8Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK






