Amerika Serikat Bela Israel Sebut Relawan di Sumud Flotilla Pendukung Teroris

AKURAT.CO Ketegangan kembali memanas di Laut Mediterania setelah pasukan Israel mencegat armada kapal bantuan kemanusiaan Sumud Flotilla yang berlayar menuju Gaza. Penyelenggara misi menyebut tentara Israel melepaskan tembakan ke arah sedikitnya dua kapal pada Selasa, sementara ratusan aktivis dari puluhan negara dilaporkan ditahan.
Video siaran langsung dari armada bantuan memperlihatkan pasukan bersenjata menembakkan proyektil ke arah kapal-kapal Sumud Flotilla yang mencoba menembus blokade laut menuju Jalur Gaza. Namun, pemerintah Israel membantah penggunaan peluru tajam dalam operasi tersebut.
Kementerian Luar Negeri Israel menyatakan pasukannya hanya menggunakan “cara non-mematikan” setelah memberikan beberapa kali peringatan kepada kapal-kapal bantuan.
“Tidak ada peluru tajam yang digunakan dan tidak ada aktivis yang terluka,” demikian pernyataan resmi pemerintah Israel.
Armada bantuan yang dikenal sebagai Global Sumud Flotilla sebelumnya berangkat dari Turki selatan dalam upaya terbaru mengirim bantuan kemanusiaan ke Gaza. Ini menjadi percobaan ketiga setelah misi-misi sebelumnya juga dicegat Israel di perairan internasional.
Penyelenggara flotilla mengklaim seluruh 50 kapal mereka telah dicegat di kawasan timur Laut Mediterania. Sebanyak 428 peserta dari lebih 40 negara dilaporkan ditahan, termasuk 78 warga Turki.
Sementara itu, Israel menyebut sekitar 430 aktivis telah dipindahkan ke kapal milik otoritas Israel dan sedang dibawa menuju wilayah Israel untuk menjalani proses lebih lanjut. Pemerintah Israel menyatakan para aktivis akan diberi akses bertemu perwakilan konsuler masing-masing negara.
Berdasarkan laporan GPCI, di antara yang ditangkap Israel terdapat sembilan WNI. Mereka adalah Herman Budianto Sudarsono dan Ronggo Wirasanu dari GPCI–Dompet Dhuafa yang berada di Kapal Zapyro. Kemudian Andi Angga Prasadewa dari GPCI–Rumah Zakat yang berada di Kapal Josef.
Selain itu, ada Asad Aras Muhammad dari GPCI–Spirit of Aqso serta Hendro Prasetyo dari SMART 171 yang berada di Kapal Kasr-1. Dari media nasional, Bambang Noroyono dari Republika berada di Kapal BoraLize. Sementara itu, Thoudy Badai Rifan Billah dari Republika, Andre Prasetyo Nugroho dari Tempo, dan Rahendro Herubowo dari tim media GPCI dan iNews berada di Kapal Ozgurluk.
Perbedaan jumlah peserta antara pihak Israel dan penyelenggara armada hingga kini belum dijelaskan secara rinci.
Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri Israel telah menegaskan bahwa pihaknya tidak akan membiarkan adanya pelanggaran terhadap blokade laut Gaza yang disebut sah secara hukum oleh pemerintah Israel.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengecam keras tindakan Israel terhadap armada yang ia sebut sebagai “para pembawa harapan”. Erdogan juga mendesak komunitas internasional mengambil langkah terhadap tindakan Israel tersebut.
Di sisi lain, Amerika Serikat justru menjatuhkan sanksi terhadap empat individu yang disebut terkait dengan armada pro-Palestina tersebut. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyebut misi bantuan itu sebagai upaya yang dinilai mendukung kelompok Hamas dan mengganggu proses perdamaian di kawasan.
Pemerintah AS menuduh sejumlah individu yang dikenai sanksi memiliki hubungan dengan organisasi yang dianggap sebagai kedok bagi kelompok bersenjata Palestina, termasuk Hamas.
Salah satu nama yang disorot adalah Saif Abu Keshek, warga negara Spanyol keturunan Palestina yang sebelumnya sempat ditahan Israel setelah dicegat dalam misi bantuan sebelumnya di dekat Yunani.
Selain itu, AS juga menjatuhkan sanksi kepada sejumlah individu dan organisasi lain yang dituduh mendukung Hamas maupun kelompok HASM yang berbasis di Mesir.
Aktivis pro-Palestina membantah tuduhan tersebut dan menilai Israel serta Amerika Serikat sengaja menyamakan dukungan terhadap hak-hak rakyat Palestina dengan dukungan terhadap kelompok militan.
Meski gencatan senjata telah disepakati pada Oktober lalu, berbagai lembaga kemanusiaan internasional menyebut bantuan yang masuk ke Gaza masih sangat terbatas.
Saat ini, sebagian besar dari lebih dua juta penduduk Gaza dilaporkan mengungsi akibat perang berkepanjangan. Banyak warga hidup di tenda darurat, bangunan hancur, hingga area terbuka tanpa akses memadai terhadap makanan, air bersih, dan layanan kesehatan.
Israel sendiri membantah tuduhan menahan pasokan bantuan bagi warga Gaza dan menegaskan bahwa pengawasan ketat dilakukan demi alasan keamanan.
Sumber: Thearabweekly
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal







