Inggris Siapkan Operasi Militer di Selat Hormuz, Ratusan Pelaut dan Kapal Perang Mulai Bergerak
AKURAT.CO Ratusan pelaut Inggris dilaporkan bersiap di atas kapal militer RFA Lyme Bay yang berada di dekat Gibraltar untuk kemungkinan operasi besar menuju Selat Hormuz, jalur vital dunia yang kini terganggu akibat konflik di kawasan Teluk.
Ketegangan di Selat Hormuz telah memicu lonjakan harga bahan bakar, pupuk, hingga pangan global setelah jalur pelayaran strategis itu praktis lumpuh dan menghambat ribuan kapal dagang.
Pemerintah Inggris menyebut misi tersebut masih bergantung pada perkembangan diplomasi internasional. Operasi pengamanan baru akan dilakukan jika konflik mereda dan kesepakatan politik tercapai.
Inggris dan Prancis Susun Misi Internasional di Teluk
Kapal RFA Lyme Bay kini sedang dimuati amunisi dan drone pemburu ranjau laut berteknologi sonar sebelum bergabung dengan kapal perusak HMS Dragon serta armada sekutu lainnya.
Pasukan gabungan itu nantinya akan melintasi Terusan Suez menuju kawasan Teluk Persia sebagai bagian dari misi internasional yang dipimpin Inggris dan Prancis.
London dan Paris disebut telah menggalang dukungan puluhan negara untuk menjalankan operasi defensif guna melindungi kapal dagang, memulihkan jalur pelayaran internasional, serta membersihkan ranjau laut setelah situasi memungkinkan.
Menteri Angkatan Bersenjata Inggris Al Carns menyebut langkah tersebut sebagai respons nyata terhadap krisis global yang kini mengancam stabilitas ekonomi dunia.
Selat Hormuz Lumpuh, Ribuan Kapal Tertahan
Selat Hormuz diketahui menjadi salah satu jalur energi paling penting di dunia karena sebelumnya mengalirkan sekitar 20 persen pengiriman minyak dan gas alam cair global.
Namun sejak konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel pecah pada 28 Februari lalu, Iran disebut menutup jalur tersebut sehingga lebih dari 6.000 kapal tertahan.
Prioritas utama operasi nantinya adalah membuka satu jalur aman agar sekitar 700 kapal yang terjebak bisa keluar dari Teluk. Jalur kedua kemudian akan dibuka bagi kapal yang hendak masuk.
Meski begitu, proses pembersihan penuh Selat Hormuz diperkirakan bisa memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.
Ancaman Ranjau Laut dan Drone Jadi Fokus Utama
Militer Inggris memperkirakan Iran kemungkinan telah menempatkan berbagai jenis ranjau laut, termasuk ranjau bawah laut yang dapat aktif melalui suara, cahaya, maupun pergerakan kapal.
Untuk mengatasi ancaman tersebut, Inggris menyiapkan sistem drone bawah laut otonom yang mampu memindai dasar laut menggunakan sonar dengan kecepatan lebih tinggi dibanding kapal penyapu ranjau konvensional.
Meski demikian, hingga kini belum ada bukti pasti bahwa ranjau benar-benar telah dipasang di jalur pelayaran tersebut.
Diplomasi AS-Iran Mulai Bergerak
Di tengah persiapan militer, jalur diplomasi antara Washington dan Teheran juga mulai menunjukkan perkembangan.
Presiden Donald Trump mengklaim kesepakatan dengan Iran sebagian besar telah dinegosiasikan, meski proses finalisasi masih berlangsung.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan pemerintah AS masih memberi peluang bagi diplomasi untuk berhasil sebelum mengambil langkah lain terhadap Iran.
Teheran juga mengakui adanya kemajuan negosiasi, namun menegaskan belum ada kesepakatan final dalam waktu dekat.
Menurut pejabat AS, kerangka awal perundingan mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai imbalan atas pencabutan blokade laut terhadap Iran.
Harga Minyak Dunia Mulai Bergerak Turun
Harapan tercapainya kesepakatan mulai memengaruhi pasar global. Harga minyak dunia dilaporkan turun sekitar 6 persen ke level terendah dalam dua pekan terakhir seiring meningkatnya optimisme terhadap penyelesaian konflik.
Namun para analis menilai krisis energi global belum akan berakhir dalam waktu cepat meski gencatan senjata berhasil dipertahankan.
Sumber: RFI
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 8Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








