Akurat Logo

Respons Peningkatan Militer China, Amerika Serukan Negara Sekutu di Asia Perbesar Anggaran Pertahanan

Fitra Iskandar | 30 Mei 2026, 10:22 WIB
Respons Peningkatan Militer China, Amerika Serukan Negara Sekutu di Asia Perbesar Anggaran Pertahanan
Pentagon. Foto: AA

AKURAT.CO Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, mendesak negara-negara sekutu Washington di Asia untuk meningkatkan anggaran pertahanan guna menghadapi meningkatnya kekuatan militer China di kawasan Indo-Pasifik.

Seruan tersebut disampaikan Hegseth saat berpidato dalam forum keamanan internasional Shangri-La Dialogue 2026 di Singapura, Sabtu (30/5/2026).

Dalam pidatonya, Hegseth memperingatkan bahwa pembangunan militer China yang berlangsung cepat telah menimbulkan kekhawatiran serius di kawasan dan berpotensi mengganggu keseimbangan kekuatan regional.

“Ada kekhawatiran yang beralasan terkait pembangunan militer China yang bersejarah dan perluasan aktivitas militernya di kawasan maupun di luar kawasan,” kata Hegseth.

Menurutnya, Amerika Serikat membutuhkan sekutu yang lebih kuat dan mandiri agar mampu menciptakan efek gentar terhadap berbagai ancaman keamanan di kawasan.

Ia menegaskan bahwa Washington tidak menginginkan dominasi satu negara atas Indo-Pasifik.

“Jika Pasifik didominasi satu kekuatan hegemonik, keseimbangan kekuatan regional akan runtuh. Tidak ada negara, termasuk China, yang boleh memaksakan hegemoninya dan mengancam keamanan Amerika Serikat maupun para sekutunya,” ujarnya.

AS Dorong Belanja Pertahanan Sekutu Capai 3,5 Persen PDB

Hegseth mengatakan Amerika Serikat berharap negara-negara mitra dan sekutunya di Asia meningkatkan pengeluaran pertahanan hingga mencapai 3,5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Di saat yang sama, Washington berkomitmen menggelontorkan investasi sebesar USD 1,5 triliun atau sekitar Rp24.000 triliun untuk memperkuat kemampuan militernya.

Menurut Hegseth, penguatan pertahanan bersama bertujuan menjaga stabilitas kawasan, bukan memicu eskalasi konflik.

“Yang diinginkan sekutu kami adalah stabilitas, dan Amerika Serikat menghadirkan kekuatan yang terukur, keteguhan yang konsisten, serta kepemimpinan yang percaya diri,” katanya.

Hubungan Militer AS-China Disebut Membaik

Meski menyampaikan kritik terhadap peningkatan kekuatan militer China, Hegseth mengungkapkan hubungan komunikasi antara militer Amerika Serikat dan China saat ini berada dalam kondisi yang lebih baik dibanding beberapa tahun terakhir.

Ia menyebut kedua negara kini semakin sering melakukan kontak langsung antarmiliter guna menjaga jalur komunikasi tetap terbuka.

“Kami lebih sering bertemu dengan mitra China dan terus mempertahankan komunikasi militer-ke-militer yang terbuka,” ujarnya.

Era Sekutu Bergantung pada AS Disebut Berakhir

Dalam kesempatan yang sama, Hegseth juga menegaskan bahwa era ketika Amerika Serikat menanggung sebagian besar biaya pertahanan negara-negara kaya telah berakhir.

Pernyataan tersebut sejalan dengan kebijakan Presiden Donald Trump yang sejak kembali menjabat mendorong sekutu-sekutu AS untuk mengambil peran lebih besar dalam pembiayaan keamanan mereka sendiri.

“Era Amerika Serikat mensubsidi pertahanan negara-negara kaya telah berakhir,” tegas Hegseth.

Ia menambahkan Washington membutuhkan mitra yang berkontribusi aktif dalam sistem pertahanan bersama, bukan sekadar bergantung pada perlindungan Amerika.

“Kami membutuhkan mitra, bukan protektorat. Tidak ada aliansi yang kuat jika tidak semua pihak ikut menanggung tanggung jawab. Tidak ada lagi yang menumpang gratis,” katanya.

Pernyataan Hegseth diperkirakan akan menjadi salah satu sorotan utama dalam Shangri-La Dialogue tahun ini, terutama di tengah meningkatnya rivalitas strategis antara Amerika Serikat dan China di kawasan Indo-Pasifik.

Sumber: Asiaone

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.