Iran Balas Serangan AS, Tujuh Rudal Ditembakkan ke Bahrain dan Kuwait

AKURAT.CO Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran meluncurkan serangan rudal ke Bahrain dan Kuwait pada Sabtu (6/6/2026). Teheran mengkalim aksi itu sebagai respons atas serangan militer Amerika Serikat yang kembali menyasar wilayah Iran.
Serangan terbaru tersebut memicu kecaman keras dari negara-negara Teluk dan semakin mengguncang upaya diplomatik yang selama ini berusaha mempertahankan gencatan senjata rapuh di kawasan.
Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan Iran menembakkan tujuh rudal balistik ke arah Bahrain dan Kuwait. Bahrain, yang menjadi lokasi markas Armada Kelima Angkatan Laut AS, menyebut serangan tersebut sebagai bentuk "agresi terang-terangan" dan pelanggaran serius terhadap kedaulatan kedua negara.
Menurut pemerintah Bahrain, ini merupakan serangan kedua terhadap Bahrain dan Kuwait dalam kurun waktu tiga hari terakhir.
Gencatan Senjata Kian Rapuh
Secara resmi, gencatan senjata antara Iran dan koalisi AS-Israel masih berlaku sejak 8 April lalu. Konflik tersebut sendiri pecah hampir 100 hari lalu setelah serangan besar-besaran AS dan Israel yang menewaskan sejumlah pemimpin militer dan politik penting Iran.
Namun situasi kembali memanas setelah militer AS pada Jumat mengumumkan serangan terhadap beberapa fasilitas radar Iran usai berhasil mencegat drone yang bergerak menuju Selat Hormuz.
Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim serangan rudal ke Bahrain dan Kuwait dilakukan sebagai balasan atas operasi militer AS yang menargetkan Pulau Sirik dan Pulau Qeshm di wilayah selatan Iran.
Meski demikian, CENTCOM membantah klaim Iran yang menyebut markas Armada Kelima AS di Bahrain mengalami kerusakan.
"Saat ini tidak ada laporan korban di pihak personel Amerika Serikat. Klaim Iran mengenai kerusakan markas Armada Kelima di Bahrain adalah tidak benar," kata CENTCOM dalam pernyataan resminya.
Selat Hormuz Kembali Jadi Sorotan
Krisis terbaru ini memperburuk kebuntuan negosiasi yang selama beberapa pekan berlangsung antara Washington dan Teheran.
Hingga kini belum ada kesepakatan yang mampu mengakhiri perang maupun membuka kembali aktivitas normal di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi titik penting distribusi minyak dan gas dari kawasan Teluk ke pasar dunia.
Gangguan keamanan di wilayah tersebut terus memicu kekhawatiran pasar global karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling vital di dunia.
Trump Sebut Iran Masih Punya Cadangan Rudal
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan Iran masih memiliki sekitar 21 hingga 22 persen stok rudalnya meskipun Washington berulang kali menyatakan kemampuan militer Teheran telah mengalami kerusakan besar akibat serangan selama beberapa bulan terakhir.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa kemampuan serangan Iran masih cukup signifikan dan menjadi ancaman bagi stabilitas kawasan.
Sebelumnya pada Mei lalu, Trump memperkirakan Iran hanya memiliki sekitar 18 persen dari persediaan rudal yang dimilikinya sebelum perang.
Negosiasi Perdamaian Alami Jalan Buntu
Upaya menjadikan gencatan senjata sebagai perdamaian permanen terus menemui hambatan.
Penasihat militer Pemimpin Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, menyebut proses negosiasi saat ini berada dalam kondisi buntu dan mendesak pemerintahan Trump mengambil langkah baru untuk memecah kebekuan diplomatik.
Dalam wawancara dengan CNN, Rezaei juga meminta pencairan aset Iran yang dibekukan senilai sekitar 24 miliar dolar AS sebagai bagian dari penyelesaian konflik.
Lebanon dan Israel Ikut Terseret Konflik
Di tengah memanasnya konflik Teluk, Lebanon juga kembali menjadi titik panas baru.
Pemerintah Lebanon pada Jumat meminta Iran menghentikan campur tangan dalam urusan domestiknya. Sehari kemudian, Beirut melaporkan sejumlah tentaranya tewas akibat serangan Israel di wilayah selatan negara tersebut.
Sementara itu, bentrokan antara Israel dan kelompok Hezbollah yang didukung Iran masih terus berlangsung setelah kelompok tersebut menolak proposal gencatan senjata terbaru.
Iran sendiri menegaskan bahwa konflik di Lebanon dan perang di kawasan Teluk merupakan bagian dari persoalan yang saling terkait dalam proses negosiasi dengan Amerika Serikat.
Ancaman Baru bagi Stabilitas Kawasan dan Ekonomi Global
Eskalasi terbaru antara Iran, Amerika Serikat, dan sekutu-sekutunya menambah ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.
Selain meningkatkan risiko konflik yang lebih luas, situasi ini juga berpotensi mengganggu pasokan energi global, mengguncang pasar keuangan internasional, dan menambah tekanan politik terhadap Presiden Donald Trump menjelang pemilu paruh waktu di Amerika Serikat.
Dengan serangan rudal yang terus berlanjut dan negosiasi yang masih menemui jalan buntu, prospek perdamaian di kawasan Timur Tengah tampak semakin sulit dicapai dalam waktu dekat.
Sumber: hurriyetdailynews
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 7BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal






