Akurat Logo

Ricuh Jelang KTT G7 di Prancis, Ribuan Demonstran Bentrok dengan Polisi di Jenewa

Fitra Iskandar | 15 Juni 2026, 09:17 WIB
Ricuh Jelang KTT G7 di Prancis, Ribuan Demonstran Bentrok dengan Polisi di Jenewa
Ilustrasi protes G7 di Jenewa. Foto: Le Monde

AKURAT.CO Bentrokan antara demonstran dan aparat kepolisian pecah di Kota Jenewa, Swiss, pada Minggu (14/6/2026), sehari sebelum dimulainya Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 di Prancis. Polisi antihuru-hara menembakkan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan massa yang melempar batu dan berbagai benda ke arah petugas.

Aksi protes yang diikuti sekitar 20.000 orang itu awalnya berlangsung damai. Namun situasi berubah tegang ketika sekelompok demonstran berpakaian serba hitam melakukan aksi vandalisme dan bentrok dengan aparat keamanan.

Menurut juru bicara Kepolisian Jenewa, Alexandre Brahier, sekitar 600 anggota kelompok radikal "Black Bloc" turut hadir dalam demonstrasi tersebut.

Mobil Tesla Dibakar dan Bank Dirusak

Kerusuhan dimulai ketika sebuah mobil Tesla dibakar di dekat terminal bus utama kota. Petugas pemadam kebakaran segera dikerahkan untuk memadamkan api, sementara polisi membentuk barikade pengamanan di sekitar lokasi.

Tak lama kemudian, sejumlah demonstran merobohkan pagar kayu pelindung yang dipasang di depan sebuah bank dan menghancurkan kaca jendelanya.

Kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari puluhan pemuda mengenakan hoodie hitam, masker, dan kacamata pelindung terlihat bercampur dengan peserta aksi lainnya, termasuk di belakang spanduk anti-Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Sejumlah demonstran juga menyalakan suar dan melemparkan pecahan aspal ke arah polisi yang mengenakan perlengkapan antihuru-hara.

Bentrok terus berlangsung hingga malam hari, bahkan setelah aparat mengeluarkan perintah pembubaran massa.

Isu Palestina, Perempuan, dan Anti-Trump Warnai Demonstrasi

Meski diwarnai kerusuhan, sebagian besar peserta aksi merupakan kelompok aktivis yang menyuarakan berbagai isu sosial dan politik.

Barisan terdepan demonstrasi didominasi kelompok pembela hak-hak perempuan yang mengenakan kaus ungu sambil membawa poster dan spanduk yang menyoroti ketimpangan gender, minimnya perempuan di posisi eksekutif, serta kesenjangan upah di dunia kerja.

Kelompok lainnya membawa bendera dan poster yang menunjukkan dukungan terhadap warga Palestina di Gaza. Beberapa spanduk juga berisi kritik keras terhadap Presiden AS Donald Trump serta kebijakan negara-negara anggota G7.

Penyelenggara aksi bahkan membagikan buku panduan kepada peserta yang berisi peta zona keamanan, tips menghadapi demonstrasi, hingga langkah-langkah yang harus dilakukan apabila ditangkap polisi.

Pengamanan Ketat KTT G7

KTT G7 yang berlangsung selama tiga hari akan digelar mulai Senin (15/6/2026) di kota resor Evian-les-Bains, Prancis, yang berada di tepi Danau Jenewa.

Para pemimpin negara anggota G7 dijadwalkan membahas berbagai isu global, mulai dari perang di Ukraina, konflik Iran dan Timur Tengah, hingga ketimpangan ekonomi dunia serta akses terhadap mineral strategis.

Menjelang pertemuan tersebut, otoritas Swiss dan Prancis mengerahkan ribuan personel keamanan.

Pemerintah Prancis mengumumkan lebih dari 13.000 polisi dan petugas gendarmerie diturunkan untuk mengamankan area konferensi. Selain itu, sekitar 800 petugas pengawasan perbatasan juga disiagakan, meningkat tajam dibandingkan kondisi normal yang hanya sekitar 60 personel.

Sebagai langkah antisipasi, sejumlah ruas jalan ditutup, pertemuan publik tanpa izin dilarang, dan sebagian besar toko di pusat Kota Jenewa menutup etalasenya dengan papan kayu untuk mencegah kerusakan akibat kerusuhan.

Dari 35 jalur perlintasan perbatasan antara Swiss dan Prancis, hanya tujuh yang tetap dibuka selama pelaksanaan KTT.

Donald Trump Jadi Sasaran Kritik

Presiden AS Donald Trump menjadi salah satu target utama demonstrasi kali ini.

Para aktivis menyuarakan penolakan terhadap berbagai kebijakan Trump, mulai dari tarif perdagangan, konflik Iran, perubahan iklim, hingga isu-isu kontroversial lain yang pernah menyeret namanya.

Juru bicara koalisi NoG7, Francoise Nyffeler, mengatakan para demonstran khawatir terhadap arah kebijakan para pemimpin negara-negara G7.

"Kami sangat khawatir dengan kebijakan Donald Trump dan para pemimpin G7 lainnya. Kami melihat konflik dan perang terus terjadi di berbagai belahan dunia," ujarnya.

Menurut Nyffeler, aksi tersebut juga menjadi bentuk protes terhadap kebijakan yang dianggap memperburuk krisis lingkungan dan ketidakstabilan global.

KTT G7 tahun ini berlangsung di tengah upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik antara Amerika Serikat dan Iran serta membuka kembali jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz, yang menjadi salah satu perhatian utama dunia.

Sumber: PBS

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.