Pakar Timur Tengah dan Mantan Negosiator Perdamaian AS: Kesepakatan Amerika-Iran 'Kekalahan Strategis' bagi Israel

AKURAT.CO Kesepakatan damai yang sedang difinalisasi antara Amerika Serikat dan Iran memunculkan kekhawatiran mendalam di Israel serta memicu pertanyaan baru mengenai masa depan hubungan antara Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Pakar Timur Tengah sekaligus mantan negosiator perdamaian AS, Aaron David Miller, menilai kesepakatan tersebut berpotensi menciptakan keretakan baru dalam hubungan Washington dan Tel Aviv, meskipun kedua negara sebelumnya menunjukkan kerja sama militer yang sangat erat selama konflik berlangsung.
"Pada isu program nuklir Iran, Amerika Serikat dan Israel memiliki sudut pandang yang sangat berbeda. Bagi Israel, Iran merupakan ancaman eksistensial," kata Miller dalam wawancara dengan PBS.
Hubungan Trump dan Netanyahu Dinilai Mulai Retak
Menurut Miller, perang yang diluncurkan Amerika Serikat bersama Israel telah memperlihatkan tingkat koordinasi militer yang jarang terjadi dalam sejarah modern.
Ia bahkan menyebut kerja sama militer antara kedua negara selama konflik sebagai salah satu yang paling erat sejak Perang Dunia II.
Namun di balik soliditas di medan perang, Miller melihat adanya tekanan yang semakin besar dalam hubungan politik kedua pemimpin.
Ia menyoroti sejumlah pernyataan Trump yang secara terbuka mengkritik dan bahkan mengejek penilaian politik Netanyahu, sesuatu yang disebutnya belum pernah terjadi sebelumnya dalam hubungan kedua negara.
"Ini situasi yang belum pernah terjadi. Trump memiliki pengaruh politik yang sangat besar terhadap masa depan Netanyahu," ujarnya.
Miller menilai posisi Netanyahu menjadi semakin rentan menjelang dinamika politik domestik di Israel yang terus berkembang.
Israel Khawatir Iran Terlalu Diuntungkan
Kekhawatiran Israel semakin meningkat seiring munculnya laporan mengenai isi kesepakatan damai yang sedang disusun.
Sejumlah informasi yang beredar menyebut kesepakatan itu mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz, penghentian blokade laut terhadap Iran, pencairan aset Iran yang dibekukan, serta pelonggaran sejumlah sanksi ekonomi.
Bagi banyak kalangan di Israel, langkah tersebut dinilai berpotensi memberikan keuntungan besar kepada Teheran tanpa menjamin perubahan mendasar dalam kebijakan keamanan Iran.
Miller menilai perang yang berlangsung selama lebih dari 100 hari tersebut merupakan "perang pilihan" yang gagal menghasilkan keuntungan strategis jangka panjang.
"Pemerintah AS melebih-lebihkan kemampuannya sendiri dan meremehkan kemampuan lawannya," katanya.
Iran Dinilai Tetap Kuat Meski Digempur
Menurut Miller, meskipun Amerika Serikat dan Israel berhasil melemahkan sebagian kemampuan militer Iran, menghancurkan sejumlah fasilitas strategis, dan menargetkan tokoh-tokoh penting, hasil akhir konflik justru belum memenuhi tujuan utama yang diharapkan.
Ia menegaskan bahwa rezim Iran tetap bertahan dan bahkan berhasil menunjukkan kemampuannya mengguncang stabilitas kawasan melalui serangan terhadap sejumlah negara Teluk.
Selain itu, Iran dinilai berhasil membuktikan bahwa mereka mampu menantang kekuatan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel tanpa harus bertarung secara konvensional.
"Iran tidak perlu menyamai kekuatan militer Amerika atau Israel. Mereka cukup memperluas konflik secara horizontal dan mereka berhasil melakukannya," jelasnya.
Selat Hormuz Tetap Jadi Senjata Geopolitik
Miller juga memperingatkan bahwa meskipun Selat Hormuz kemungkinan akan kembali dibuka, Iran diperkirakan tidak akan melepaskan pengaruhnya terhadap jalur pelayaran strategis tersebut.
Menurutnya, Teheran kemungkinan tetap akan berupaya mempertahankan kendali tertentu melalui berbagai mekanisme ekonomi maupun regulasi pelayaran.
Selat Hormuz selama ini menjadi salah satu jalur energi terpenting dunia, dengan sekitar seperlima pasokan minyak global melewati kawasan tersebut.
Karena itu, setiap ancaman terhadap stabilitas selat tersebut dapat langsung berdampak pada harga energi dunia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Di Balik Penolakan Keras Singapura ke Ekspor Satu Pintu DSI: Risiko Kehilangan Ratusan Miliar Dolar Arus Ekspor dan Devisa
- 2Cara Nonton Piala Dunia 2026 Gratis di HP dan Laptop Lewat Link Resmi
- 3Prediksi Skor Meksiko vs Afrika Selatan: Analisis Lengkap, Head to Head, dan Susunan Pemain
- 4Link Nonton Piala Dunia 2026 Resmi dan Legal, Kualitas HD Bukan di Score808
- 5Prediksi Skor Belgia vs Mesir Lengkap dengan Statistik Head to Head dan Susunan Pemain
- 6Menkeu Purbaya Tidak Diganti, Rupiah dan IHSG Kompak Meroket
- 7Prediksi Skor Senegal vs Arab Saudi 10 Juni 2026, lengkap dengan Statistik Head to Head dan Susunan Pemain
- 8Prediksi Skor Korea Selatan vs Ceko di Piala Dunia 2026, Lengkap dengan Riwayat Head to Head dan Susunan Pemain
- 9Kelelahan Usai Pergi Haji, Bos Maktour Minta Pemeriksaan KPK Dijadwal Ulang
- 10Prabowo: Kunjungan Presiden Jerman Jadi Momentum Penting di Tengah Dinamika Global







