Pengamat Sebut Trump Sedang Menjual 'Kebohongan Besar' soal Iran, Klaim Kemenangan AS Dipertanyakan

AKURAT.CO Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menjadi sorotan setelah muncul kritik tajam terkait kesepakatan yang diklaim mampu mengakhiri konflik dengan Iran. Pengamat kebijakan luar negeri Robert Kagan menuduh Trump tengah menyiapkan narasi politik yang menyesatkan untuk menjual kesepakatan tersebut kepada publik Amerika.
Dalam wawancara dengan CNN, Kagan yang juga penulis kontributor The Atlantic menilai Trump akan berupaya menggambarkan hasil perundingan dengan Iran sebagai bentuk "perubahan rezim" dan "penyerahan tanpa syarat" dari Teheran. Namun, menurutnya, realitas di lapangan justru menunjukkan arah yang berbeda.
"Dia selalu mengandalkan kebohongan besar. Dan saya pikir ini akan menjadi kebohongan besar berikutnya," kata Kagan.
Menurut Kagan, Trump kemungkinan akan membantah bahwa dana yang mengalir ke Iran dalam kesepakatan tersebut merupakan bentuk kompensasi atau reparasi pascaperang. Namun ia menilai fakta bahwa Iran berpotensi menerima dana dalam jumlah sangat besar menjadi indikator penting untuk membaca siapa yang sebenarnya diuntungkan.
"Satu hal yang tampaknya pasti adalah Iran akan mendapatkan miliaran dolar, bahkan mungkin puluhan hingga ratusan miliar dolar, tanpa memberikan imbalan yang sebanding," ujarnya.
Kagan menyebut situasi tersebut sebagai petunjuk paling jelas yang menunjukkan kelemahan posisi Amerika Serikat dalam kesepakatan tersebut.
Ia kemudian membandingkannya dengan praktik reparasi perang dalam sejarah dunia. Menurutnya, negara yang kalah biasanya membayar kompensasi kepada pihak pemenang, bukan sebaliknya.
"Dalam Perang Dunia I, Jerman membayar reparasi kepada Inggris dan Prancis. Jika Jerman yang menang, maka Inggris dan Prancis yang akan membayarnya. Dari situlah kita bisa melihat siapa yang sebenarnya berada di posisi menang atau kalah," jelas Kagan.
Pengamat senior tersebut bahkan menilai kesepakatan itu lebih menyerupai upaya Trump untuk memperoleh legitimasi politik di dalam negeri daripada kemenangan strategis Amerika Serikat di Timur Tengah.
"Trump pada dasarnya membayar Iran agar mendapatkan alasan untuk pulang dan mengatakan kepada rakyat Amerika bahwa semuanya baik-baik saja," kata Kagan.
Pernyataan itu menambah panjang daftar kritik terhadap kebijakan luar negeri Trump, khususnya terkait pendekatannya terhadap Iran. Sejumlah analis menilai bagaimana kesepakatan tersebut dijalankan dan dampaknya terhadap stabilitas kawasan akan menjadi ujian penting bagi pemerintahan Trump dalam beberapa bulan ke depan.
Sementara itu, Gedung Putih belum memberikan tanggapan resmi atas tudingan yang disampaikan Kagan tersebut.
Sumber: CNN,Rawstory
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








