Gelombang Protes Berdarah di Kashmir Pakistan, 24 Orang Tewas dan Ratusan Ditangkap

AKURAT.CO Wilayah Kashmir yang dikelola Pakistan dilanda krisis serius setelah gelombang protes besar yang berlangsung hampir dua pekan menewaskan sedikitnya 24 orang dan melumpuhkan aktivitas masyarakat. Bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan juga menyebabkan puluhan korban luka serta ratusan orang ditangkap.
Menurut laporan Reuters, kerusuhan dipicu oleh kontroversi menjelang pemilihan Majelis Legislatif Kashmir yang dijadwalkan berlangsung pada 27 bulan depan. Kemarahan warga memuncak setelah pemerintah menetapkan 12 dari total 45 kursi parlemen daerah untuk para pengungsi asal Kashmir yang sebelumnya meninggalkan wilayah yang dikuasai India dan kini menetap di Pakistan.
Keputusan tersebut memicu penolakan luas. Komite Aksi Awami Bersama (Joint Awami Action Committee/JAAC), koalisi berbagai organisasi masyarakat sipil, menyerukan aksi mogok total sejak 9 bulan ini. Situasi semakin memanas setelah pemerintah melarang aktivitas kelompok tersebut.
Bentrokan Berdarah Tewaskan 24 Orang
Ketegangan yang awalnya berupa aksi protes berubah menjadi bentrokan berdarah di berbagai wilayah Kashmir. Sejumlah pejabat pemerintah yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa sedikitnya 20 warga sipil tewas dan puluhan lainnya mengalami luka-luka dalam periode 6 hingga 14 bulan ini.
Di pihak aparat, Kepala Kepolisian Regional Liaquat Ali Malik mengatakan empat anggota polisi tewas dan 97 lainnya terluka saat menghadapi massa demonstran. Selain itu, aparat juga telah menahan sedikitnya 515 orang yang diduga terlibat dalam kerusuhan.
Internet Diputus, Jalan Utama Ditutup
Untuk meredam eskalasi konflik, pemerintah memberlakukan berbagai pembatasan ketat. Sejumlah jalan utama ditutup, layanan internet dihentikan, dan akses media dibatasi di banyak wilayah Kashmir.
Meski demikian, ribuan pendukung JAAC tetap melanjutkan aksi duduk di luar kota Rawalakot, sekitar 100 kilometer di selatan ibu kota regional Muzaffarabad. Mereka mendirikan tenda-tenda dan bertekad melanjutkan protes hingga tuntutan mereka dipenuhi.
Ekonomi Lumpuh, Warga Kehilangan Mata Pencaharian
Gelombang demonstrasi dan penutupan wilayah telah memberikan dampak besar terhadap kehidupan ekonomi masyarakat. Kawasan Upper Adda di Muzaffarabad, yang biasanya menjadi pusat perdagangan dan aktivitas ekonomi, kini nyaris sepi.
Sebagian apotek dan toko kebutuhan pokok hanya beroperasi dalam waktu terbatas, sementara sebagian besar pertokoan masih tutup. Bank-bank juga menghentikan layanan ATM dan transaksi langsung akibat gangguan internet dan komunikasi satelit. Stasiun pengisian bahan bakar bahkan diperintahkan tutup oleh pemerintah.
Kondisi ini membuat para pekerja harian menjadi kelompok yang paling terdampak. Banyak warga mengaku kehilangan seluruh sumber penghasilan sejak aksi mogok dimulai.
"Saya belum mendapatkan uang sepeser pun sejak tanggal 9," kata seorang buruh harian dari desa terpencil.
Keluhan serupa datang dari pengemudi ojek motor yang menyebut situasi saat ini sangat berat bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
"Bagi orang yang mampu mungkin masih bisa bertahan, tetapi bagi pekerja kasar seperti kami, kondisi ini sama saja dengan menghancurkan diri sendiri," ujarnya.
Pakistan Hadapi Dilema Politik
Krisis yang berkembang di Kashmir kini menjadi tantangan besar bagi pemerintah Pakistan. Selama bertahun-tahun Islamabad kerap mengkritik tindakan India dalam menangani demonstrasi dan gerakan anti-pemerintah di Kashmir yang dikuasai New Delhi.
Namun kini, Pakistan menghadapi gelombang kemarahan serupa di wilayah Kashmir yang berada di bawah administrasinya sendiri. Situasi tersebut menempatkan pemerintah dalam posisi sulit, terutama menjelang pemilu regional yang semakin dekat.
Dengan ribuan demonstran masih bertahan di jalanan dan aktivitas ekonomi yang terus terhambat, kekhawatiran akan meluasnya kerusuhan di Kashmir semakin meningkat dalam beberapa pekan ke depan.
Sumber: Asiatoday
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Link Nonton Piala Dunia 2026 Resmi dan Legal, Kualitas HD Bukan di Score808
- 2Di Balik Penolakan Keras Singapura ke Ekspor Satu Pintu DSI: Risiko Kehilangan Ratusan Miliar Dolar Arus Ekspor dan Devisa
- 3Prediksi Skor Uzbekistan vs Kolombia di Piala Dunia 2026: Debutan Asia Hadapi Ujian Berat dari Los Cafeteros
- 4Prediksi Skor Swiss vs Bosnia dan Herzegovina: Nati Diunggulkan, Tapi Jangan Remehkan Ancaman Tim Balkan
- 5Prediksi Skor Ghana vs Panama di Piala Dunia 2026: Duel Seimbang, Akankah Black Stars Bangkit?
- 6Prediksi Skor Belgia vs Mesir Lengkap dengan Statistik Head to Head dan Susunan Pemain
- 7Prediksi Skor Turki vs Paraguay: Saatnya Crescent-Stars Bangkit atau La Albirroja Ciptakan Kejutan?
- 8Prediksi Skor Austria vs Yordania di Piala Dunia 2026: Das Team Diunggulkan, Mampukah Debutan Asia Membuat Kejutan?
- 9Pramono Anung Resmikan Koridor Rasuna Said, 109 Tiang Monorel Mangkrak Resmi Disingkirkan
- 10Halte Setiabudi Integritas Jadi Media Perkenalan Nilai-nilai Positif kepada Masyarakat




