IRGC Klaim Tewaskan 5 Pejuang Kurdi, PDKI Sebut 6 Peshmerga Gugur dalam Penyergapan di Iran

AKURAT.CO Ketegangan di wilayah barat laut Iran kembali meningkat setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menewaskan lima anggota Democratic Party of Iranian Kurdistan (PDKI) dalam sebuah operasi militer. Namun, pihak PDKI menyatakan enam pejuang Peshmerga mereka gugur akibat penyergapan yang dilakukan pasukan IRGC.
Bentrokan yang terjadi di sekitar Piranshahr, Provinsi Azerbaijan Barat, pada Rabu malam itu menjadi eskalasi terbaru dalam konflik berkepanjangan antara pemerintah Iran dan kelompok oposisi Kurdi.
Menurut media pemerintah Iran, IRGC menyebut pasukannya berhasil menyergap kelompok bersenjata PDKI yang memasuki wilayah pegunungan perbatasan Iran. Operasi tersebut diklaim menewaskan lima anggota kelompok yang oleh Teheran dikategorikan sebagai organisasi separatis.
Namun, perwakilan PDKI di Amerika Serikat, Hejar Berenji, memberikan versi berbeda. Ia mengatakan enam anggota Peshmerga tewas setelah unit mereka disergap oleh pasukan IRGC yang memiliki persenjataan lengkap ketika menjalankan misi politik dan organisasi di Desa Qizqapan, dekat Piranshahr.
Enam pejuang yang disebut gugur adalah Karo Hormuziari, Fardin Changizi, Mohammad Khaki, Abdullah Mohammadpour, Twana Osmani, dan Mohammad Amin Bayezidi.
Konflik Kurdi di Iran Kembali Memanas
Insiden ini terjadi setelah beberapa hari terakhir wilayah Kurdi di Iran diwarnai serangkaian bentrokan. Sebelumnya, media pemerintah Iran juga melaporkan IRGC menewaskan enam anggota kelompok oposisi bersenjata lainnya di wilayah yang sama.
Di Provinsi Kermanshah, dua anggota IRGC juga dilaporkan tewas dan dua lainnya terluka dalam serangan bersenjata yang diklaim oleh kelompok Kurdi baru. Kelompok tersebut menyatakan aksi itu merupakan balasan atas keterlibatan IRGC dalam penumpasan demonstrasi besar-besaran di Iran pada 2022–2023.
Sejumlah analis menilai meningkatnya intensitas bentrokan menunjukkan situasi keamanan di wilayah Kurdi Iran semakin memburuk.
Presiden American Kurdish Committee, Majeed Gly, mengatakan perkembangan terbaru bukan lagi bentrokan rutin di perbatasan.
"Ini bukan situasi seperti biasanya. Operasi yang terjadi tampaknya berlangsung jauh di dalam wilayah Iran," ujarnya.
Ia menambahkan, kemarahan masyarakat Kurdi meningkat setelah berbulan-bulan wilayah Kurdi di Iran maupun kawasan Kurdistan Irak menjadi sasaran serangan militer Iran.
Menurut Gly, sejak Februari lalu kawasan tersebut telah mengalami lebih dari 850 serangan yang menyebabkan sedikitnya enam warga sipil tewas dan puluhan lainnya mengalami luka-luka.
PDKI: Iran Tingkatkan Tekanan terhadap Warga Kurdi
PDKI menilai penyergapan tersebut merupakan bagian dari kebijakan represif pemerintah Iran terhadap masyarakat Kurdi.
Menurut Berenji, pemerintah Iran meningkatkan tekanan karena menganggap kelompok Kurdi masih menjadi salah satu kekuatan oposisi paling terorganisasi di dalam negeri.
"Perjuangan rakyat Kurdi untuk demokrasi dan hak-hak nasional sudah berlangsung jauh sebelum negosiasi internasional saat ini. Kesepakatan apa pun yang mengabaikan persoalan Kurdi tidak akan menciptakan stabilitas yang sesungguhnya," katanya.
Isu Kurdi Kembali Jadi Sorotan Internasional
Meningkatnya konflik ini kembali menarik perhatian Amerika Serikat dan Israel. Sebelumnya, kelompok-kelompok oposisi Kurdi sempat dipandang sebagai salah satu titik tekanan terhadap Iran selama meningkatnya ketegangan antara Washington, Tel Aviv, dan Teheran.
Laporan sebelumnya menyebut pejabat Amerika Serikat pernah berdiskusi dengan kelompok Kurdi mengenai kemungkinan operasi terhadap pasukan keamanan Iran. Bahkan muncul laporan bahwa Israel mendukung rencana kelompok Kurdi untuk menguasai sejumlah wilayah perbatasan Iran.
Namun rencana tersebut tidak pernah terealisasi karena tidak adanya dukungan strategis yang jelas dari Amerika Serikat dan Israel, ditambah ancaman militer Iran terhadap basis-basis Kurdi di Irak serta penolakan keras Turki terhadap setiap upaya memperkuat kelompok bersenjata Kurdi di kawasan.
Meski demikian, para pengamat menilai persepsi terhadap kekuatan Iran mulai berubah.
"Apa yang berubah adalah persepsi bahwa Iran kini terlihat lebih lemah. Banyak kelompok oposisi tidak lagi merasa setakut sebelumnya terhadap rezim," ujar Gly.
Sementara itu, PDKI menegaskan mereka tidak menginginkan kekacauan, tetapi tetap akan mempertahankan hak untuk membela diri dari tindakan represif IRGC.
"Kami menginginkan Iran yang demokratis, pluralis, sekuler, dan federal, di mana seluruh kelompok etnis dapat hidup dengan hak yang setara. Namun rakyat Kurdi juga memiliki hak untuk mempertahankan diri dari intimidasi dan serangan," kata Berenji.
Sumber: Skynews
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK





