Akurat Logo

Demokrat AS Rahm Emanuel Peringatkan Israel: Hubungan dengan Washington Terancam Jika Kebijakan terhadap Palestina Tak Berubah

Fitra Iskandar | 9 Juli 2026, 16:17 WIB
Demokrat AS Rahm Emanuel Peringatkan Israel: Hubungan dengan Washington Terancam Jika Kebijakan terhadap Palestina Tak Berubah
Rahm Emanuel. Foto: AW

AKURAT.CO Politikus senior Partai Demokrat Amerika Serikat, Rahm Emanuel, melontarkan peringatan keras kepada pemerintah Israel terkait masa depan hubungan strategis dengan Washington. Dalam pidatonya di Universitas Tel Aviv pada Rabu waktu setempat, Emanuel menilai Israel berisiko kehilangan dukungan politik dari Amerika Serikat apabila tidak segera mengubah kebijakannya terhadap Palestina.

Emanuel, yang disebut-sebut tengah mempertimbangkan maju dalam pemilihan presiden AS 2028, mengatakan aliansi antara Washington dan Tel Aviv kini berada di titik kritis akibat meningkatnya ketidakpuasan publik Amerika terhadap kebijakan Israel, khususnya di Jalur Gaza dan Tepi Barat.

"Tanpa diragukan lagi, aliansi ini berada di persimpangan jalan. Hubungan ini tidak bisa terus bertahan seperti sekarang. Jika ingin tetap kuat, diperlukan perubahan besar dan arah baru," ujar Emanuel.

Kebijakan Netanyahu Dinilai Menggerus Dukungan Publik AS

Mantan Wali Kota Chicago dan Kepala Staf Presiden Barack Obama itu secara terbuka mengkritik pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Menurutnya, sejumlah kebijakan Israel, mulai dari perluasan permukiman Yahudi di Tepi Barat, meningkatnya kekerasan yang dilakukan pemukim, hingga pembatasan distribusi bantuan kemanusiaan ke Gaza, telah menyebabkan dukungan masyarakat Amerika terhadap Israel terus menurun.

Emanuel menilai dukungan politik Amerika selama puluhan tahun tidak lagi bisa dianggap sebagai sesuatu yang pasti, terutama di kalangan generasi muda dan pemilih Partai Demokrat.

Isu Israel bahkan menjadi salah satu topik paling kontroversial menjelang pemilu sela Amerika Serikat pada November mendatang. Sejumlah kandidat progresif dari Partai Demokrat mulai memenangkan pemilihan pendahuluan dengan membawa agenda penghentian bantuan militer kepada Israel.

Dukungan Demokrat terhadap Israel Turun Tajam

Berdasarkan survei Reuters/Ipsos, tingkat pandangan positif pemilih Demokrat terhadap Israel merosot drastis dari 59 persen pada 2018 menjadi hanya 22 persen pada Mei tahun ini.

Sementara itu, dukungan dari Partai Republik masih relatif kuat, meskipun sebagian pendukung Presiden Donald Trump juga mulai menyerukan penghentian bantuan militer kepada Israel.

Emanuel menilai dukungan tanpa syarat dari Washington selama bertahun-tahun justru membuat pemerintahan Netanyahu mengabaikan berbagai kekhawatiran Amerika Serikat dan terus menjalankan kebijakan yang memicu kekerasan, memperburuk stabilitas kawasan, serta meningkatkan isolasi diplomatik Israel di tingkat internasional.

Hingga berita ini ditulis, kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu belum memberikan tanggapan atas kritik tersebut.

Usulkan Penghentian Subsidi Pertahanan Khusus

Dalam pidatonya, Emanuel juga mengusulkan perubahan besar dalam hubungan pertahanan kedua negara. Ia menyarankan agar Israel tidak lagi menerima subsidi militer khusus dari Amerika Serikat senilai sekitar US$3,8 miliar per tahun, melainkan membeli persenjataan Amerika dengan skema yang sama seperti negara-negara sekutu lainnya.

"Perdana Menteri dan pemerintahannya telah membawa Israel ke jalan buntu," tegas Emanuel.

Sebagai politikus berdarah Yahudi, Emanuel memiliki hubungan pribadi yang erat dengan Israel. Ia pernah menjadi sukarelawan yang membantu militer Israel saat Perang Teluk 1991, sementara ayahnya lahir di Yerusalem.

Kritik Strategi Netanyahu di Gaza dan Lebanon

Emanuel juga menilai pemerintahan Netanyahu terlalu mengandalkan operasi militer tanpa disertai strategi diplomatik jangka panjang.

Menurutnya, Israel gagal mengubah keberhasilan militernya menjadi keuntungan strategis di kawasan.

Ia menyoroti tidak adanya rencana pascaperang di Gaza setelah konflik dengan Hamas maupun strategi untuk memperkuat pemerintah Lebanon sebagai mitra dalam menghadapi Hizbullah.

Sebaliknya, Netanyahu sebelumnya menyatakan pemerintahannya terus berupaya memperluas hubungan diplomatik dengan negara-negara Timur Tengah. Israel juga telah memulai pembicaraan damai dengan Lebanon yang didukung Amerika Serikat sejak Juni lalu.

Dorong Perdamaian Baru di Timur Tengah

Dalam pidatonya, Emanuel mengusulkan langkah-langkah membangun kepercayaan guna menghidupkan kembali proses perdamaian Israel-Palestina yang terhenti sejak 2014.

Ia mengusulkan negara-negara Arab memainkan peran sentral dalam proses tersebut yang pada akhirnya dapat membuka jalan bagi normalisasi hubungan diplomatik antara Israel dan negara-negara anggota Liga Arab.

Namun, kritik Emanuel tidak hanya ditujukan kepada Israel. Ia juga menilai kepemimpinan Palestina gagal menjalankan pemerintahan secara efektif dan masih dibayangi praktik korupsi.

Selain itu, ia menuding banyak negara Arab selama ini hanya memberikan dukungan simbolis terhadap perjuangan pembentukan negara Palestina tanpa langkah nyata.

Hingga saat ini, Otoritas Palestina belum memberikan tanggapan resmi atas pernyataan Emanuel.

Sumber: thearabweekly

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.