Akurat Logo

Perang AS-Iran Telan Rp671 Triliun, Pete Hegseth Dicecar Senat soal Tambahan Dana

Fitra Iskandar | 22 Juli 2026, 09:22 WIB
Perang AS-Iran Telan Rp671 Triliun, Pete Hegseth Dicecar Senat soal Tambahan Dana
Gedung Putih. Foto: Pexel

AKURAT.CO Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) Pete Hegseth menghadapi pertanyaan tajam dan sejumlah aksi protes dalam sidang Senat pada Selasa waktu setempat. Hegseth hadir untuk mempertahankan kebijakan pemerintahan Presiden Donald Trump terkait perang melawan Iran sekaligus meminta tambahan anggaran miliaran dolar untuk membiayai konflik tersebut.

Dalam sidang itu, Hegseth mengungkapkan bahwa perang AS-Iran sejauh ini telah menghabiskan biaya sekitar USD 37,5 miliar atau sekitar Rp671,25 triliun.

Angka itu lebih tinggi dibandingkan perkiraan biaya yang sebelumnya telah disampaikan pemerintah AS. Besarnya pengeluaran tersebut menjadi sorotan karena perang masih terus berlangsung dan belum menunjukkan kepastian kapan akan berakhir.

Pernyataan Hegseth disampaikan ketika Partai Republik di Kongres tengah mendorong paket pendanaan senilai USD 95 miliar, setara sekitar Rp1.700,5 triliun.

Dana tersebut ditujukan untuk kebutuhan militer serta sejumlah agenda prioritas pemerintahan Gedung Putih.

Sidang Senat juga berlangsung tidak lama setelah Pentagon mengumumkan tiga personel militer AS lainnya tewas dalam konflik. Dengan tambahan tersebut, jumlah tentara AS yang meninggal sejak perang berlangsung mencapai 17 orang. Lebih dari 100 personel militer AS lainnya juga dilaporkan mengalami luka sejak awal Juli.

Hegseth Sebut Tambahan Dana Sangat Mendesak

Dalam keterangannya di hadapan para senator, Hegseth menyebut permintaan tambahan anggaran perang sebagai suntikan dana yang "mendesak dan diperlukan".

Menurut dia, pemerintah membutuhkan tambahan anggaran untuk menjaga kesiapan dan kemampuan militer AS menghadapi konflik yang terus berlangsung.

Hegseth juga membela usulan anggaran pertahanan Presiden Donald Trump yang mencapai USD 1,5 triliun. Nilai tersebut setara sekitar Rp26.850 triliun.

Hegseth menyebut anggaran tersebut sebagai investasi besar untuk memperkuat militer AS dalam jangka panjang.

"Tanpa dana ini, kita menghadapi kekurangan kritis," kata Hegseth.

Namun, argumen tersebut mendapat perlawanan dari anggota Partai Demokrat di Senat. Senator Patty Murray, anggota Demokrat senior dalam komite terkait, memperingatkan bahwa AS berisiko kembali terjebak dalam perang berkepanjangan.

Murray bahkan menilai situasi perang saat ini mulai bergerak ke arah yang semakin sulit dikendalikan.

Ia juga mengkritik pernyataan Trump yang berulang kali mengatakan bahwa kesepakatan dengan Iran sudah semakin dekat dan perang akan segera berakhir.

Menurut Murray, pemerintah justru kini meminta tambahan dana sebesar puluhan miliar dolar ketika konflik belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir.

Paket Dana Perang Capai Rp1.074 Triliun

Di tengah perdebatan mengenai biaya perang, paket pendanaan yang tengah didorong Partai Republik mencakup sekitar USD 60 miliar khusus untuk kebutuhan perang atau sekitar Rp1.074 triliun.

Selain dana perang, paket tersebut juga mengalokasikan sekitar USD 12 miliar atau sekitar Rp214,8 triliun untuk kebutuhan keamanan nasional lainnya.

Pemerintah juga menyiapkan USD 10 miliar atau sekitar Rp179 triliun untuk bantuan sektor pertanian. Sementara itu, tambahan USD 10 miliar lainnya atau sekitar Rp179 triliun dialokasikan untuk perubahan aturan pemilu.

Jika seluruh komponen tersebut dijumlahkan, total paket pendanaan mencapai USD 95 miliar, atau sekitar Rp1.700,5 triliun (berdasarkan asumsi kurs Rp17.900 per USD).

Sidang tersebut turut dihadiri Jenderal Dan Caine, Ketua Kepala Staf Gabungan AS, serta Menteri Pertanian Brooke Rollins.

Kehadiran para pejabat dari sektor pertahanan dan pemerintahan tersebut memperlihatkan bahwa dampak perang dengan Iran mulai menjangkau berbagai aspek kebijakan nasional AS.

Konflik tidak hanya menjadi persoalan militer, tetapi juga berpengaruh terhadap anggaran negara, bantuan pertanian, keamanan nasional, hingga perdebatan politik domestik.

Gedung Putih Minta Anggaran Segera Disetujui

Sebelum sidang berlangsung, Gedung Putih mengeluarkan pernyataan yang mendesak Kongres untuk segera menyetujui resolusi anggaran tanpa melakukan perubahan.

Pemerintahan Trump meminta paket tersebut segera disahkan untuk memastikan kebutuhan pendanaan militer dan sejumlah prioritas pemerintah lainnya dapat terpenuhi.

Namun, perdebatan mengenai masa depan perang dan besarnya biaya yang harus ditanggung AS diperkirakan masih akan berlangsung sengit di Kongres.

Pemerintah berpendapat bahwa tambahan anggaran diperlukan untuk mempertahankan kesiapan militer AS di tengah konflik yang terus berlangsung. Sebaliknya, para pengkritik mempertanyakan apakah pengeluaran sebesar itu dapat dibenarkan ketika perang belum memiliki kepastian kapan akan berakhir.

Dengan biaya konflik yang telah mencapai USD 37,5 miliar atau sekitar Rp671,25 triliun, serta permintaan tambahan puluhan miliar dolar, perang melawan Iran kini menjadi tantangan besar bagi pemerintahan Trump.

Bukan hanya dari sisi militer, perang tersebut juga mulai menjadi persoalan serius bagi keuangan negara dan politik dalam negeri Amerika Serikat.

Sumber: Indiatoday

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.