Trump Tunda Serangan Udara ke Iran di Menit Akhir, Ketegangan di Ambang Perang Mereda

AKURAT.CO Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara mendadak membatalkan rencana operasi militer terhadap Iran yang semula dijadwalkan berlangsung pada 1–2 Agustus waktu setempat. Keputusan tersebut meredakan ancaman bentrokan besar antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang sebelumnya dinilai tinggal selangkah lagi terjadi.
Pengumuman itu disampaikan Trump melalui platform media sosial Truth Social pada 1 Agustus. Ia mengatakan telah menerima permintaan dari Iran dan sejumlah negara di Timur Tengah untuk menunda serangan karena terdapat kerangka kesepakatan yang mulai disetujui semua pihak.
"Saya telah diminta oleh Iran dan negara-negara Timur Tengah lainnya untuk menunda serangan karena kerangka kesepakatan telah disetujui. Saya setuju membatalkan serangan dengan syarat kesepakatan dapat segera dicapai," tulis Trump. Ia juga menegaskan bahwa Israel ikut berkomitmen dalam langkah tersebut.
Keputusan itu muncul setelah berbagai laporan media Amerika Serikat, termasuk CBS dan The Wall Street Journal, menyebut Washington dan Tel Aviv tengah menyiapkan serangan udara besar-besaran yang menargetkan fasilitas energi Iran, termasuk kilang minyak. Laporan tersebut sempat memicu lonjakan kekhawatiran akan pecahnya konflik berskala regional.
Di balik perubahan sikap Washington, Arab Saudi disebut memainkan peran penting melalui jalur diplomasi. Menurut laporan Axios dan Associated Press (AP), Putra Mahkota Mohammed bin Salman dalam percakapan telepon dengan Trump menyampaikan kekhawatiran bahwa serangan terhadap Iran berpotensi memicu perang yang meluas di kawasan Timur Tengah.
Sumber yang mengetahui isi pembicaraan tersebut mengungkapkan bahwa Riyadh mengkhawatirkan kemungkinan Iran membalas dengan menyerang fasilitas energi di Arab Saudi maupun negara-negara Teluk lainnya. Selain meminta Amerika Serikat menahan serangan, Mohammed bin Salman juga dikabarkan meminta penjelasan mengenai opsi respons militer yang sedang dipertimbangkan Washington.
Ketegangan geopolitik tersebut turut mengguncang pasar energi global. Harga minyak mentah Brent yang pada awal Juli masih berada di bawah 72 dolar AS per barel melonjak hingga menembus level 90 dolar AS di tengah meningkatnya risiko gangguan pasokan dan transportasi laut.
Lembaga riset investasi Melius Research memperkirakan sekitar 10 persen kapasitas pengolahan minyak dunia saat ini tidak beroperasi secara efektif. Kondisi itu dipengaruhi oleh terganggunya jalur pelayaran di Selat Hormuz, serangan terhadap kilang minyak Rusia, serta penghentian ekspor produk minyak oleh China.
Meski serangan berhasil dibatalkan untuk sementara, para analis menilai situasi di Timur Tengah masih jauh dari stabil. Peneliti Carnegie Endowment for International Peace, Andrew Leber, menilai siklus eskalasi dan deeskalasi konflik kini berlangsung semakin cepat.
Sementara itu, Direktur Proyek Iran di International Crisis Group (ICG), Ali Vaez, memperkirakan gencatan senjata sementara dan serangan terbatas masih akan terus terjadi dalam beberapa pekan ke depan. Kondisi tersebut bahkan disebut The New York Times sebagai bentuk baru dari "forever war", yakni konflik berkepanjangan yang terus berulang tanpa penyelesaian permanen.
Sumber: Asiatoday
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Kalender Jawa 16 Oktober 2026: Weton Jumat Legi Disebut Punya Karakter Unik
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK







