Acaraki di PIK 2 Ubah Jamu Jadi Gaya Hidup Baru Anak Muda

AKURAT.CO Jamu tak lagi sekadar minuman tradisional yang identik dengan resep turun-temurun.
Di tangan generasi baru pelaku industri herbal, jamu kini hadir lebih modern dan dekat dengan gaya hidup urban tanpa kehilangan akar budayanya.
Hal ini terlihat di gerai Acaraki yang mengusung konsep Jamu Experience Cafe.
Melalui konsep ini, pengunjung tidak hanya menikmati minuman, tetapi juga diajak melihat langsung proses peracikan jamu, mengenal bahan-bahannya, hingga memahami nilai budaya di baliknya.
Founder & Director PT Acaraki Nusantara Persada, Jony Yuwono, mengatakan pendekatan ini bertujuan mendekatkan jamu kepada generasi muda.
“Ketika pertama kali buka pada 2018, mungkin yang datang lebih banyak generasi tua. Tapi ternyata anak muda juga tertarik, hanya perlu dilibatkan. Lewat konsep ini, kami ingin memperlihatkan proses pembuatan jamu secara langsung agar mereka bisa mengenal dan menikmatinya,” ujarnya.
Menurut Jony, modernisasi bukan untuk menggeser tradisi, melainkan menjadi jembatan agar jamu tetap relevan di tengah budaya populer yang serba cepat dan praktis.
Di gerai ini, jamu diolah dengan sentuhan kreatif yang lebih akrab di lidah anak muda.
Beras kencur dipadukan dengan susu, kunyit asam disajikan bersama es krim, daun kelor diolah dengan teknik seduh ala matcha, hingga jahe yang diracik menggunakan metode Vietnam drip.
Baca Juga: Pendaftaran 30 Ribu Manajer Koperasi Merah Putih Resmi Dibuka, Ini Syaratnya
Pengunjung juga dapat menyesuaikan rasa dengan tambahan gula, madu, atau soda sesuai selera.
“Modernisasi tidak harus memutus akar. Justru ini cara agar tradisi tetap hidup,” kata Jony.
Ia menambahkan, jamu memiliki fleksibilitas untuk berkembang mengikuti preferensi masyarakat.
“Jamu itu sangat subjektif. Kami meracik sesuai keinginan pelanggan. Yang penting nyaman di lidah dulu, supaya bisa menjadi bagian dari gaya hidup,” jelasnya.
Salah satu pengunjung, Nadya Safitri (24), mengaku awalnya bukan penikmat jamu. Ia lebih terbiasa mengonsumsi kopi susu atau matcha.
“Saya datang karena penasaran. Ternyata kunyit asam dengan es krim rasanya ringan dan menyenangkan. Jadi seperti minum menu kafe, tapi tetap ada rasa rempah,” ujarnya.
Menurutnya, konsep seperti ini membuat jamu terasa lebih ramah bagi mereka yang belum terbiasa.
“Kalau jamu botolan mungkin saya ragu, tapi kalau disajikan seperti ini jadi tertarik mencoba,” tambahnya.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala BPOM RI, Taruna Ikrar, mengapresiasi inovasi tersebut. Ia menilai modernisasi jamu harus tetap dibarengi dengan jaminan keamanan dan mutu.
Ia juga menekankan bahwa Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan produk herbal, dengan kekayaan sekitar 30.000 spesies tanaman obat.
Namun, potensi tersebut harus didukung pengembangan berbasis ilmiah dan kepatuhan terhadap regulasi.
“Jamu bukan sedang ditinggalkan, tetapi menemukan jalannya. Dari warisan leluhur menuju masa depan kesehatan global,” ujarnya.
Kehadiran Acaraki di PIK 2 menunjukkan bahwa jamu masih memiliki ruang besar di tengah perubahan zaman.
Tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang dengan pendekatan baru yang lebih relevan bagi generasi masa kini.
Baca Juga: 3 Titik Serangan Sistem Perbankan yang Paling Rentan Dibobol Menurut BSSN
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini






