Akurat
Pemprov Sumsel

Apa Itu Fried Rice Syndrome Yang Sedang Viral? Ini Penjelasan Pakar Keamanan Pangan

Syifa Ismalia | 31 Oktober 2023, 15:27 WIB
Apa Itu Fried Rice Syndrome Yang Sedang Viral? Ini Penjelasan Pakar Keamanan Pangan

AKURAT.CO Baru-baru ini viral istilah "Fried Rice Syndrome" dan kemunculan kembali kabar tentang seorang pria yang meninggal setelah makan spageti bersuhu ruangan pada tahun 2008.

HealthTok memperingatkan pengguna TikTok dengan beberapa informasi Fried Rice Syndrome yang meresahkan namun penting untuk diketahui tentang memasak dan menyimpan makanan dengan benar.

Serangkaian video menjadi viral di platform media sosial, mengacu pada laporan tahun 2008 tentang seorang pria berusia 20 tahun yang meninggal setelah makan spageti pada suhu ruangan yang terkontaminasi bacillus cereus.

Laporan kasus yang didokumentasikan di National Library of Medicine menjelaskan bahwa dalam waktu 30 menit setelah dikonsumsi, pria tersebut mengalami berbagai gejala, seperti sakit kepala, sakit perut, mual, dan diare. Dia meninggal dalam tidurnya malam itu.

Kasus serupa juga ternyata terjadi pada Maret 2021, ketika seorang pria asal Inggris mengalami gejala yang sama setelah mengonsumsi sisa mie lo mein. Dia akhirnya hidup, tetapi membutuhkan beberapa kali amputasi.

Pengguna TikTok menciptakan istilah "Fried Rice Syndrome" untuk infeksi bakteri. Namun apa penyebab penyakit ini dan bagaimana cara mencegahnya?

Dikutip dari People, Lawrence Goodridge, profesor Keamanan Pangan di Universitas Guelph, mengatakan bahwa baccilus cereus dapat ditemukan dalam berbagai makanan bertepung seperti pasta, gandum utuh, dan banyak lagi. “Beras selalu menjadi yang terbesar,” ujarnya.

Bakteri tersebut terbentuk sebagai spora selama proses memasak, tetapi bakteri tersebut hanya tumbuh jika dibiarkan pada suhu ruangan.

“Ketika mereka tumbuh di dalam makanan, mereka menghasilkan racun, yang dapat membuat kita muntah atau diare. Jika Anda memakan makanan tersebut, Anda akan sakit,” jelas Goodridge.

Ia mengatakan meskipun hal ini perlu diwaspadai, jarang ditemukan kasus kematian akibat bakteri tersebut.

Goodridge mengatakan bahwa sebagian besar kasus menyebabkan masalah perut dan sakit kepala.

Baca Juga: 7 Cara Cepat Mengatasi Lidah Terbakar Akibat Makanan Panas

“Kebanyakan orang yang mengonsumsi makanan tersebut dalam waktu setengah jam hingga lima atau enam jam akan jatuh sakit,” katanya.

"Penyakit itu akan berlangsung sekitar 24 jam. Hanya pada sebagian kecil kasus yang akan menjadi lebih parah, yang bisa menyebabkan orang diamputasi atau meninggal, seperti yang terjadi di TikTok," lanjutnya.

Bahkan sangat jarang terjadi penyakit akibat hal ini, apalagi jika dibandingkan dengan bakteri bawaan makanan lainnya seperti salmonella.

Goodridge mengatakan di AS ada sekitar 63.000 kasus per tahun, dan di Kanada, sekitar 36.000 kasus.Jjumlah ini relatif kecil jika dibandingkan dengan penyakit akibat bakteri lainnya.

Namun, masih ada langkah-langkah yang dapat diambil oleh koki rumahan untuk mencegah bakteri tersebut.

Salah satunya adalah dengan merebus nasi (atau makanan dengan bahan tersebut) dengan benar untuk memasaknya.

“Zona bahayanya adalah kisaran suhu antara 40 derajat dan 140 derajat Fahrenheit. Itu adalah kisaran di mana bakteri dan bakteri yang ditularkan melalui makanan lainnya tumbuh paling cepat,” jelasnya.

Baca Juga: 5 Tempat Kuliner Di Cipete Yang Wajib Dijajal, Dari Makanan Tradisional Hingga ‘Kebule-bulean’

"Ada pepatah yang mengatakan. Jaga makanan panas tetap panas dan makanan dingin tetap dingin. Jika nasi tidak akan segera dikonsumsi, kamu bisa menjaga suhunya lebih tinggi dari 140 derajat Fahrenheit, dan jika tidak akan dikonsumsi untuk sementara waktu, dinginkan hingga empat derajat Celcius, 40 derajat Fahrenheit dalam waktu tiga jam, dua hingga tiga jam. Anda bisa melakukannya dengan memasukkannya ke dalam lemari es."

Goodridge menambahkan bahwa saat menyimpan sesuatu yang besar seperti sepanci nasi, makanan harus dibagi menjadi porsi yang lebih kecil. Karena ketika suhu turun "melalui zona bahaya", bakteri akan tumbuh pada kisaran suhu dingin tersebut.

"Jika Anda hanya memasukkan panci besar ke dalam lemari es, maka pendinginannya akan memakan waktu lebih lama. Saat suhu turun melewati zona berbahaya, pendinginan akan memakan waktu lebih lama dan bakteri dapat berkembang biak," tambahnya.

Dia juga merekomendasikan untuk hanya menyimpan sisa makanan hingga empat hari, dan memanaskannya kembali hingga setidaknya 165 derajat Fahrenheit untuk membunuh bakteri yang berpotensi membahayakan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

S
R