Penelitian USU: Air Minum dalam Kemasan Galon Polikarbonat Aman, BPA Tidak Terdeteksi

AKURAT.CO Masyarakat kini bisa bernapas lega terkait isu keamanan air minum dalam kemasan (AMDK) galon berbahan polikarbonat.
Tim peneliti dari Universitas Sumatera Utara (USU) baru saja merilis hasil penelitian independen yang membuktikan bahwa Bisphenol-A (BPA) tidak terdeteksi dalam air minum galon, bahkan setelah terpapar sinar matahari.
Penelitian ini dipimpin oleh Guru Besar Kimia Organik Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) USU, Juliati Tarigan dan melibatkan empat merek AMDK galon paling populer di Kota Medan.
Keempat merek tersebut terdiri dari dua produk nasional, Aqua dan Prima, serta dua merek lokal, Amoz dan Himudo.
"Kami melakukan pengujian dengan metode High-Performance Liquid Chromatography (HPLC), instrumen canggih yang mampu mendeteksi kandungan BPA hingga level mikrogram per liter (µg/L). Hasilnya, tidak ada BPA yang terdeteksi dalam semua sampel air yang diuji, termasuk yang telah terpapar sinar matahari selama 5 hingga 10 hari," jelas Juliati Tarigan.
Baca Juga: 12 Cara Mudah Download Lagu MP3 Gratis dari Aplikasi dan Situs Legal di Android Tanpa Ribet!
Banyak masyarakat khawatir bahwa BPA dari kemasan galon berbahan polikarbonat (PC) dapat bermigrasi ke dalam air minum, terutama jika terpapar sinar matahari. Namun, penelitian USU membantah anggapan ini.
“Meskipun galon didistribusikan di bawah terik matahari, migrasi BPA ke dalam air minum tidak akan terjadi kecuali suhu mencapai 159 derajat Celsius. Faktanya, suhu tertinggi yang pernah tercatat di Indonesia hanya 38,5 derajat Celsius, jauh di bawah titik pelelehan BPA," tambah Juliati.
Selain itu, secara kimiawi, BPA memiliki kelarutan yang sangat rendah dalam air, sehingga kecil kemungkinan zat ini luruh ke dalam air minum dari kemasan polikarbonat.
Tim peneliti USU mengumpulkan sampel dari berbagai titik distribusi di Kota Medan dan menguji air dalam tiga kondisi berbeda:
1. Tanpa paparan sinar matahari (suhu ruangan).
2. Terpapar sinar matahari selama 5 hari.
3. Terpapar sinar matahari selama 10 hari.
Setiap pengujian dilakukan secara triplo (tiga kali uji coba) untuk memastikan akurasi data.
"Uji triplo penting dalam penelitian pangan agar data yang diperoleh bisa diuji ulang dan dibandingkan dengan hasil sebelumnya. Dengan cara ini, hasil penelitian lebih akurat dan valid," kata Juliati.
Baca Juga: Harga Emas Antam dan Pesan Islam dalam Transaksi Investasi Syariah
Penelitian USU bukan satu-satunya yang membuktikan bahwa BPA tidak terdeteksi dalam air galon polikarbonat. Sejumlah studi di berbagai daerah di Indonesia juga menunjukkan hasil serupa:
- Institut Teknologi Bandung (ITB) (2024) – Meneliti empat merek air galon terpopuler di Jawa Barat, hasilnya tidak ada BPA yang terdeteksi.
- Universitas Islam Makassar (UIM) (2023) – Dalam penelitian yang dipublikasikan di Food Scientia, Journal of Food Science and Technology, tidak ditemukan BPA dalam air galon di Makassar.
- Universitas Muslim Indonesia (UMI) (2023) – Studi yang diterbitkan di Jambura, Journal of Chemistry, juga menemukan bahwa BPA tidak terdeteksi dalam air galon yang disimpan baik di dalam maupun luar ruangan selama 7 hari.
Berdasarkan berbagai penelitian, masyarakat tidak perlu khawatir tentang migrasi BPA dalam air minum kemasan galon polikarbonat. Air minum dalam galon berbahan PC terbukti aman dan bebas dari risiko kesehatan.
Dengan hasil penelitian ini, Juliati Tarigan menegaskan bahwa konsumsi air minum dalam kemasan galon tetap aman, bahkan jika terpapar sinar matahari selama distribusi.
"Masyarakat tidak perlu ragu untuk mengonsumsi air galon. BPA tidak terdeteksi dalam air yang telah diuji, sehingga tidak ada risiko bagi kesehatan," tutupnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










