Akurat Logo

Selenggarakan ABCD Land, Takeda Perkuat Langkah Pencegahan DBD bagi Keluarga Indonesia

Wahyu SK | 19 Juni 2026, 23:08 WIB
Selenggarakan ABCD Land, Takeda Perkuat Langkah Pencegahan DBD bagi Keluarga Indonesia
Melalui ABCD Land, diharapkan semakin banyak keluarga Indonesia menjadikan perlindungan terhadap DBD sebagai bagian gaya hidup sehat. Foto: Takeda

AKURAT.CO PT Takeda Innovative Medicines menyelenggarakan kegiatan edukasi publik bertajuk "ABCD Land - Ayo Bersama Cegah DBD!" pada 20-21 Juni 2026 di Urban Forest, Jakarta.

Kegiatan ini merupakan bagian dari inisiatif Langkah Bersama Cegah DBD yang telah dijalankan Takeda sejak 2023, bersama mitra dari Kementerian Kesehatan, organisasi profesi, komunitas, dan masyarakat luas.

ABCD Land diselenggarakan bertepatan peringatan Hari Dengue ASEAN (ASEAN Dengue Day), momentum tahunan yang menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi dengue sebagai salah satu tantangan kesehatan masyarakat terbesar di kawasan Asia Tenggara.

DBD di Tengah Ancaman Perubahan Iklim

Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Di Indonesia, DBD menjadi beban kesehatan dan ekonomi yang semakin signifikan.

Studi ilmiah terbaru dari Universitas Gadjah Mada (UGM) memperkirakan total beban ekonomi DBD mencapai hampir Rp9 triliun pada tahun 2024, dengan lebih dari dua juta kasus rawat inap.

Baca Juga: Takeda dan Halodoc Perkuat Upaya Bersama Cegah DBD di Momentum Pekan Imunisasi Dunia 2026

Studi ini juga menunjukkan bahwa BPJS Kesehatan menanggung sekitar Rp3 triliun untuk pembiayaan layanan kesehatan terkait DBD. Sementara pasien peserta BPJS dan keluarganya masih harus menanggung tambahan biaya sekitar Rp3,5 triliun untuk pengeluaran langsung maupun kehilangan pendapatan selama masa sakit, dan pasien non-BPJS beserta keluarganya menanggung beban sekitar Rp2,2 triliun.

Urgensi pencegahan DBD semakin meningkat seiring dampak perubahan iklim yang kian nyata. Peluang terbentuknya El Niño mencapai 80 persen pada periode Juni hingga Agustus 2026, dan berpotensi berlanjut dengan probabilitas di atas 90 persen hingga akhir tahun.

Sebagian besar model prakiraan iklim memperkirakan El Niño kali ini akan mencapai intensitas sedang hingga kuat.2 Kondisi ini diperkirakan memengaruhi suhu udara dan pola curah hujan di berbagai wilayah Indonesia, berpotensi memperluas habitat dan mempercepat siklus hidup nyamuk Aedes aegypti, sehingga meningkatkan risiko penyebaran DBD secara lebih luas dan potensi wabah yang berkepanjangan.

dr. Prima Yosephine, MKM, Direktur Penyakit Menular, Kementerian Kesehatan, mengatakan bahwa beban DBD masih tinggi dan dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan kecenderungan peningkatan.

Ia mengatakan, perubahan iklim dan pola cuaca yang semakin tidak menentu berpotensi meningkatkan risiko penyebaran DBD. Masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan dan melakukan langkah pencegahan sejak dini.

Baca Juga: Takeda Beserta IFRC dan PMI Luncurkan Aliansi United Against Dengue di Indonesia

Pemerintah telah merumuskan Strategi Nasional Penanggulangan Dengue 2021-2025 yang menjadi pedoman dalam memerangi DBD di Indonesia. Upaya ini akan semakin diperkuat melalui Rencana Aksi Nasional (RAN) yang saat ini sedang dikembangkan, dengan pendekatan komprehensif dan kolaboratif yang mencakup edukasi masyarakat, pemberantasan sarang nyamuk melalui 3M Plus, hingga pemanfaatan berbagai inovasi pencegahan yang tersedia, termasuk vaksinasi.

"Tentunya hal ini tidak bisa dilakukan hanya oleh Pemerintah saja. Kami juga mendorong keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat, mulai dari keluarga, sekolah, komunitas, hingga sektor swasta," jar dr. Prima, di Jakarta, Jumat (19/6/2026).

Sejalan dengan yang disampaikan dr. Prima, drg. Ani Ruspitawati, M.M. selaku Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, menegaskan bahwa sebagai kota dengan mobilitas dan kepadatan penduduk yang tinggi, Jakarta menghadapi tantangan tersendiri dalam pengendalian DBD.

Hingga 15 Juni 2026, tercatat 5.700 kasus infeksi dengue di Jakarta. Angka ini menunjukkan bahwa DBD masih menjadi ancaman nyata bagi warga Jakarta, terutama di wilayah dengan mobilitas dan kepadatan penduduk yang tinggi.

Karena itu, pencegahan tidak boleh hanya dilakukan saat kasus meningkat, tetapi harus menjadi kebiasaan yang dijalankan secara rutin di rumah, sekolah, dan tempat kerja.

Baca Juga: FNM Society dan Takeda Dorong Peran Perempuan dalam Kesehatan Masyarakat dan Perlindungan dari Kekerasan

"Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta terus memperkuat berbagai upaya pengendalian dengue, mulai dari peningkatan edukasi dan kesadaran masyarakat, penguatan peran kader Jumantik, penggerakan 3M Plus dan pengendalian vektor, hingga kolaborasi lintas sektor dalam rangkaian peringatan ASEAN Dengue Day dan berbagai kegiatan promotif-preventif lainnya," jelas drg. Ani.

Namun, upaya pemerintah tidak akan optimal tanpa partisipasi aktif masyarakat. Untuk memperkuat program yang telah dicanangkan pemerintah, peran keluarga, sekolah, dan tempat kerja sangat penting dalam menjaga lingkungan agar bebas dari tempat berkembangbiaknya nyamuk.

"Selain itu, kolaborasi antara pemerintah, fasilitas kesehatan, komunitas, media, dan masyarakat menjadi kunci untuk memperkuat edukasi serta meningkatkan kesadaran publik tentang pencegahan DBD," tuturnya.

DBD Mengancam Semua Kelompok Usia

Data Kementerian Kesehatan per Januari 2026 menunjukkan bahwa dalam tujuh tahun terakhir, kematian akibat DBD paling banyak terjadi pada kelompok usia 5-14 tahun, menyumbang 41 persen dari total kematian akibat DBD pada 2025.

Menegaskan bahwa anak-anak merupakan kelompok yang paling rentan terhadap dampak fatal DBD. Namun ancaman ini tidak berhenti di sana. Dalam lima tahun terakhir, kasus DBD paling banyak ditemukan pada kelompok usia 15-44 tahun, mencapai 42 persen dari total kasus pada 2025. Data ini mempertegas bahwa DBD adalah ancaman nyata bagi seluruh kelompok usia, bukan sekadar penyakit anak.

Baca Juga: Kemenkes dan Takeda Serukan Aksi Proaktif Cegah Dengue: Jangan Tunggu Wabah Terjadi

Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, Sp.A, Subsp.T.K.P.S(K), Ketua Satgas Imunisasi Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), menyampaikan, hingga saat ini masih banyak orang tua yang menganggap DBD sebagai penyakit musiman yang hanya perlu diwaspadai pada waktu-waktu tertentu.

Padahal, risiko penularan dapat terjadi kapan saja, dan pada sebagian kasus dapat berkembang menjadi kondisi yang mengancam jiwa, termasuk syok dengue yang memerlukan penanganan segera.

Perlindungan terhadap anak tidak bisa hanya mengandalkan satu langkah. Menerapkan 3M Plus dan mengenali gejala DBD sejak dini tetap penting. Selain itu, pendekatan yang benar-benar komprehensif termasuk perlindungan dari dalam melalui vaksinasi, juga dapat membantu mengurangi risiko hospitalisasi dan komplikasi akibat DBD.

"Karena itu, IDAI mendorong orang tua untuk aktif berkonsultasi dengan dokter anak mengenai langkah perlindungan untuk buah hati mereka. IDAI sudah memberikan rekomendasi untuk vaksin dengue pada anak untuk perlindungan optimal dari DBD," ujarnya.

Andreas Gutknecht, Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, menegaskan komitmen perusahaan dalam mendukung upaya pencegahan DBD di Indonesia.

Menurutnya, DBD masih menjadi penyakit serius yang mengancam jiwa di seluruh Indonesia, dan bebannya terus bertumbuh. Rata-rata kasus dalam lima tahun terakhir hampir tiga kali lipat dibandingkan dua dekade sebelumnya, angka yang menunjukkan bahwa kita belum bisa berpuas diri dan tidak boleh lengah.

"Takeda berkomitmen untuk terus mendukung upaya pencegahan DBD melalui edukasi yang menjangkau masyarakat luas, perluasan akses terhadap perlindungan yang inovatif, serta kemitraan yang erat dengan pemerintah, tenaga kesehatan, organisasi profesi, dan seluruh pemangku kepentingan. Melalui kolaborasi yang berkelanjutan, kita dapat membantu lebih banyak keluarga Indonesia mengambil langkah perlindungan yang tepat sebelum terlambat," ujar Andreas.

Aktivasi ABCD Land - Ayo Bersama Cegah DBD! hadir untuk mengajak masyarakat, khususnya keluarga, memahami pentingnya pencegahan DBD secara menyeluruh dan mengambil langkah perlindungan sejak dini.

Apalagi menjelang musim liburan sekolah, membekali diri dengan pemahaman yang tepat tentang pencegahan DBD menjadi langkah penting agar keluarga dapat menikmati waktu liburan dengan tenang, bukan dibayangi kekhawatiran akan risiko DBD.

Melalui berbagai aktivitas yang menyenangkan dan dapat dinikmati bersama seluruh anggota keluarga, kegiatan yang berlangsung pada 20-21 Juni 2026 di Urban Forest, Jakarta, ini menargetkan lebih dari 1.000 pengunjung selama dua hari penyelenggaraan.

Pengunjung dapat mengikuti berbagai aktivitas edukatif, konsultasi kesehatan, permainan interaktif untuk keluarga, serta sesi berbagi informasi bersama para ahli guna membantu masyarakat mengenali risiko DBD dan langkah pencegahannya secara praktis.

Melalui ABCD Land, Takeda bersama seluruh mitra terkait berharap semakin banyak keluarga Indonesia yang menjadikan perlindungan terhadap DBD sebagai bagian dari gaya hidup sehat sehari-hari.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

W
Reporter
Wahyu SK
W
Editor
Wahyu SK