Akurat Logo

Takeda dan Halodoc Perkuat Upaya Bersama Cegah DBD di Momentum Pekan Imunisasi Dunia 2026

Wahyu SK | 6 Mei 2026, 12:53 WIB
Takeda dan Halodoc Perkuat Upaya Bersama Cegah DBD di Momentum Pekan Imunisasi Dunia 2026
Kolaborasi Takeda dan Halodoc diharapkan dapat mendorong banyak pihak ambil bagian dalam memperkuat pencegahan DBD di Indonesia. Foto: PT Takeda Innovative Medicines

AKURAT.CO Dalam momentum Pekan Imunisasi Dunia 2026, PT Takeda Innovative Medicines bersama Halodoc mengumumkan kemitraan strategis sebagai upaya bersama mencegah DBD, yang berfokus pada peningkatan edukasi dan akses layanan kesehatan bagi tenaga kesehatan dan masyarakat luas.

Kolaborasi ini menjadi bagian dari kontribusi lintas sektor untuk memperkuat pencegahan DBD di Indonesia. Seiring meningkatnya kesadaran akan pentingnya perlindungan kesehatan yang komprehensif.

Infeksi virus dengue, atau yang lebih dikenal masyarakat dengan DBD, masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang signifikan di Indonesia.

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan rata-rata kasus DBD dalam lima tahun terakhir meningkat hampir tiga kali lipat pada 20 tahun terakhir. Dengan siklus puncak kasus yang kini terjadi lebih cepat, dari sekitar 10 tahun menjadi tiga tahun atau kurang.

Penyakit ini tidak lagi bersifat musiman, melainkan ada sepanjang tahun dan dapat menyerang siapa saja, baik anak-anak maupun orang dewasa.

Beban yang ditimbulkan juga tidak hanya berdampak pada kesehatan individu tetapi turut memengaruhi produktivitas keluarga hingga ekonomi nasional.

Data BPJS Kesehatan mencatat lebih dari satu juta kasus rawat inap terkait DBD pada tahun 2024 dengan beban pembiayaan mencapai sekitar Rp3 triliun.

Baca Juga: Pantangan Setelah Sembuh dari DBD: Ini yang Harus Dihindari agar Tidak Kambuh

Melalui kemitraan ini, Takeda dan Halodoc menghadirkan inisiatif yang mencakup edukasi bagi tenaga kesehatan terkait DBD dan upaya pencegahannya, serta berbagai kegiatan edukasi publik melalui platform digital Halodoc.

Masyarakat juga dapat memperoleh akses konsultasi dokter untuk mendapatkan informasi yang tepat seputar DBD dan langkah-langkah pencegahan yang dapat dilakukan, termasuk di antaranya vaksinasi.

Andreas Gutknecht, Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, menyampaikan bahwa dengue merupakan penyakit yang dapat berkembang menjadi kondisi serius dan mengancam jiwa. Hingga saat ini belum ada obat yang spesifik untuk menyembuhkannya, sehingga penanganannya lebih berfokus pada pengelolaan gejala.

"Karena itu, pencegahan menjadi sangat penting. Sebagai mitra dari Kementerian Kesehatan, Takeda berkomitmen untuk terus mendukung upaya menuju Nol Kematian Akibat Dengue pada Tahun 2030, di antaranya melalui peningkatan pemahaman masyarakat dan kolaborasi lintas sektor. Kami melihat kesamaan tujuan dengan Halodoc dalam meningkatkan literasi publik terkait dengue, terutama dalam hal pencegahaan, dan kemitraan ini menjadi salah satu langkah konkret untuk memperluas jangkauan edukasi tersebut," jelas Andreas, melalui keterangannya, Rabu (6/5/2026).

Senada dengan hal tersebut, Jonathan Sudharta, CEO & Co-founder Halodoc, mengatakan, sebagai ekosistem kesehatan digital dengan lebih dari 20 juta pengguna aktif, Halodoc berkomitmen mempermudah akses layanan tepercaya. Termasuk solusi terintegrasi DBD mulai dari edukasi hingga langkah preventif seperti vaksinasi.

"Mengingat besarnya beban penyakit ini, kemitraan kami dengan Takeda hadir untuk memperkuat edukasi medis yang akurat sekaligus memperluas proteksi bagi masyarakat. Upaya ini membuahkan hasil nyata, di mana akses layanan vaksinasi DBD di Halodoc melonjak hampir dua kali lipat pada kuartal pertama 2026 dibandingkan kuartal keempat 2025. Ke depan, kami berharap dapat menjangkau dan mengedukasi lebih banyak lagi masyarakat Indonesia," terangnya.

Baca Juga: Waspada Penyakit Usai Banjir di Jakarta, ISPA hingga DBD Mengintai

Pekan Imunisasi Dunia Menjadi Pengingat Pentingnya Pencegahan

Upaya kolaboratif ini sejalan dengan momentum Pekan Imunisasi Dunia yang diperingati setiap akhir April. Yang menekankan pentingnya pencegahan sebagai fondasi perlindungan kesehatan masyarakat.

Dalam konteks DBD, langkah pencegahan yang dilakukan secara konsisten dan komprehensif menjadi semakin relevan. Seiring dengan risiko penularan yang terjadi sepanjang tahun dan dipengaruhi oleh perubahan pola cuaca.

Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, Sp.A, Subsp.T.K.P.S(K), Ketua Satgas Imunisasi Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), menekankan bahwa DBD memiliki karakteristik yang unik karena perjalanan penyakitnya tidak selalu dapat diprediksi.

Seorang anak dengan gejala awal DBD yang umum seperti demam tinggi mendadak, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, hingga mual atau muntah. Kadang dapat terjadi perburukan yang cepat yaitu terjadi perdarahan hebat dan syok.

Selain itu, dapat terjadi komplikasi lain seperti kejang dan penurunan kesadaran. Anak-anak menjadi salah satu kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus.

Sekitar 75 persen kasus DBD terjadi pada kelompok usia 5-44 tahun dengan proporsi kematian terbesar, yaitu sekitar 41 persen terjadi pada kelompok usia 5-14 tahun. Yang dapat dipengaruhi oleh daya tahan tubuh yang masih berkembang serta keterlambatan dalam mengenali gejala.

Baca Juga: Gubernur Jakarta Minta Dinkes Waspadai Super Flu dan Lonjakan DBD Saat Musim Hujan

"Karena itu, pencegahan perlu dilakukan secara komprehensif, mulai dari pengendalian lingkungan melalui 3M Plus hingga perlindungan tambahan sebagai bagian dari pendekatan yang komprehensif. Dalam praktiknya, tenaga kesehatan dapat membantu masyarakat memahami berbagai opsi pencegahan yang tersedia, termasuk imunisasi," jelas Hartono.

Sejalan dengan persetujuan BPOM terbaru, imunisasi dengue direkomendasikan bagi anak-anak usia 4 hingga 18 tahun.

"Dalam momentum Pekan Imunisasi Dunia ini, kami mengajak masyarakat untuk semakin meningkatkan kesadaran akan pentingnya pencegahan dan perlindungan diri. Dengan langkah sederhana namun konsisten, kita dapat melindungi diri sendiri sekaligus orang-orang terdekat dari bahaya infeksi DBD," ujar Hartono.

Sementara itu, Dr. dr. Sukamto Koesnoe. SpPD, K-AI, FINASIM, Ketua Satgas Imunisasi Dewasa Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), menekankan bahwa dengue juga memberikan dampak yang signifikan pada kelompok usia dewasa, terutama usia produktif.

Sering kali dengue dianggap sebagai penyakit yang lebih banyak menyerang anak-anak, padahal pada kelompok usia dewasa risikonya tetap tinggi dan dapat berdampak luas. Tidak sedikit pasien dewasa yang harus menjalani rawat inap akibat dengue, yang pada akhirnya mengganggu aktivitas sehari-hari, pekerjaan, hingga produktivitas keluarga.

Selain itu, pada kelompok usia dewasa, khususnya yang memiliki kondisi penyerta atau komorbiditas seperti diabetes, hipertensi, atau gangguan kesehatan lainnya, risiko terjadinya komplikasi akibat dengue dapat menjadi lebih tinggi. Kondisi ini dapat memperberat perjalanan penyakit dan meningkatkan kebutuhan perawatan medis yang lebih intensif.

Baca Juga: Musim Kemarau Tapi Masih Turun Hujan, Waspada DBD Mengintai Jakarta

Padahal, pencegahan yang dilakukan sejak awal dapat membantu mengurangi risiko kondisi yang lebih serius. Karena itu, penting bagi masyarakat untuk menjadikan pencegahan sebagai bagian dari kebiasaan sehari-hari, mulai dari menjaga lingkungan hingga mempertimbangkan langkah perlindungan tambahan sebagai bagian dari pendekatan yang komprehensif.

"Dalam momentum Pekan Imunisasi Dunia ini, kami mengajak masyarakat untuk lebih proaktif dalam melindungi diri dan keluarga, termasuk dengan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan mengenai opsi pencegahan yang tersedia, seperti imunisasi, sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing," jelasnya.

Perubahan pola cuaca yang semakin tidak menentu, termasuk suhu udara yang lebih tinggi, turut meningkatkan risiko penyebaran DBD. Oleh karena itu, langkah pencegahan perlu dilakukan secara terintegrasi, mulai dari pengendalian lingkungan, peningkatan kesadaran, hingga pemanfaatan inovasi kesehatan sebagai bagian dari perlindungan yang lebih menyeluruh terhadap DBD.

Melalui kolaborasi ini, Takeda dan Halodoc berharap dapat mendorong lebih banyak pihak untuk turut ambil bagian dalam memperkuat pencegahan DBD di Indonesia. Upaya bersama yang berkelanjutan diharapkan dapat memberikan dampak nyata dalam menurunkan beban penyakit dan melindungi kesehatan masyarakat secara luas.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

W
Reporter
Wahyu SK
W
Editor
Wahyu SK