Akurat Logo

Kenapa BAB Keluar Darah? Kenali Penyebab, Warna Darah, dan Kapan Harus Waspada

Idham Nur Indrajaya | 15 Juli 2026, 19:24 WIB
Kenapa BAB Keluar Darah? Kenali Penyebab, Warna Darah, dan Kapan Harus Waspada
Kenapa BAB keluar darah? Kenali penyebab, warna darah, gejala berbahaya, cara mengatasi, dan kapan harus segera ke dokter. Ilustrasi: Gemini Google

AKURAT.CO Melihat darah saat buang air besar (BAB) sering kali memicu rasa panik. Banyak orang langsung mengira penyebabnya adalah wasir, padahal kenapa BAB keluar darah tidak selalu sesederhana itu. Darah yang muncul bisa berasal dari berbagai bagian saluran pencernaan, mulai dari anus hingga lambung. Dalam beberapa kasus, BAB berdarah memang disebabkan oleh kondisi ringan, tetapi pada kondisi lain bisa menjadi tanda penyakit yang memerlukan penanganan medis segera.

Karena itu, penting untuk tidak mengabaikan darah yang keluar saat BAB, terlebih jika terjadi berulang, disertai nyeri, atau muncul bersama gejala lain seperti penurunan berat badan dan tubuh mudah lelah. Dengan mengenali penyebab, warna darah, serta gejala penyerta, Anda dapat mengetahui kapan kondisi ini masih dapat ditangani dengan perubahan gaya hidup dan kapan harus segera berkonsultasi ke dokter.

Ringkasan

BAB keluar darah terjadi karena adanya perdarahan di saluran pencernaan. Lokasi perdarahan dapat berada di anus, rektum, usus besar, usus halus, lambung, hingga kerongkongan. Penyebabnya pun beragam, mulai dari wasir (hemoroid), fisura ani, infeksi saluran cerna, penyakit radang usus, polip usus, tukak lambung, hingga kanker kolorektal.

Beberapa penyebab BAB berdarah yang paling sering ditemukan meliputi:

  • Wasir atau hemoroid.

  • Fisura ani (robekan kecil pada anus).

  • Infeksi saluran pencernaan.

  • Penyakit radang usus (Inflammatory Bowel Disease/IBD).

  • Divertikulitis.

  • Polip usus.

  • Tukak lambung.

  • Kanker kolorektal atau kanker lambung.

Namun, satu hal yang sering terlupakan adalah warna darah dapat menjadi petunjuk awal mengenai lokasi perdarahan. Meski tidak dapat menggantikan diagnosis dokter, informasi ini membantu memperkirakan penyebab yang mendasarinya.

Kenapa Warna Darah Saat BAB Bisa Berbeda?

Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah mengapa ada orang yang mengeluarkan darah merah terang saat BAB, sementara yang lain justru mendapati feses berwarna hitam pekat.

Jawabannya berkaitan dengan lokasi perdarahan di dalam saluran pencernaan.

Semakin dekat sumber perdarahan dengan anus, darah umumnya masih berwarna merah segar karena belum mengalami proses pencernaan. Sebaliknya, jika perdarahan berasal dari lambung atau usus bagian atas, darah akan bercampur dengan asam lambung dan enzim pencernaan sehingga warnanya berubah menjadi hitam.

Memahami perbedaan warna ini dapat membantu dokter menentukan pemeriksaan lanjutan yang paling tepat.

Darah Merah Terang

Darah merah terang biasanya menunjukkan perdarahan dari saluran cerna bagian bawah, terutama anus atau rektum.

Kondisi ini paling sering disebabkan oleh:

  • Wasir (hemoroid).

  • Fisura ani.

  • Perdarahan pada rektum.

  • Sebagian kasus divertikulitis.

Biasanya darah tampak menempel di permukaan feses, terlihat pada tisu toilet, atau menetes ke kloset setelah buang air besar.

Darah Merah Gelap atau Marun

Jika darah tampak lebih gelap atau berwarna marun, kemungkinan perdarahan berasal dari usus besar atau usus halus.

Beberapa kondisi yang dapat menyebabkannya antara lain:

  • Polip usus.

  • Penyakit radang usus.

  • Divertikulitis.

  • Tumor usus.

Perdarahan jenis ini sering kali tidak disadari sejak awal karena darah sudah bercampur dengan feses.

Feses Hitam Pekat (Melena)

Feses berwarna hitam seperti aspal dikenal sebagai melena. Kondisi ini hampir selalu menunjukkan adanya perdarahan di saluran pencernaan bagian atas.

Penyebab yang sering ditemukan meliputi:

  • Tukak lambung.

  • Gastritis.

  • Varises esofagus.

  • Sindrom Mallory-Weiss.

  • Kanker lambung.

Selain warnanya yang hitam pekat, feses biasanya berbau lebih menyengat dibandingkan BAB normal.

Kenapa BAB Keluar Darah? Penyebabnya Tidak Selalu Wasir

Banyak masyarakat menganggap setiap BAB berdarah pasti disebabkan oleh wasir. Padahal, anggapan tersebut tidak selalu benar.

Dalam praktik medis, dokter tidak hanya melihat ada atau tidaknya darah. Warna darah, jumlah perdarahan, usia pasien, frekuensi BAB berdarah, hingga keluhan lain seperti nyeri perut, diare, demam, atau penurunan berat badan menjadi petunjuk penting untuk memperkirakan sumber masalah.

Sebagai contoh, seseorang berusia 25 tahun yang mengalami BAB berdarah setelah sembelit berat kemungkinan besar mengalami fisura ani atau wasir. Sebaliknya, jika seseorang berusia di atas 50 tahun mengalami BAB berdarah tanpa rasa sakit yang terjadi berulang selama beberapa minggu, dokter biasanya akan mempertimbangkan kemungkinan polip usus atau kanker kolorektal sehingga pemeriksaan seperti kolonoskopi mungkin diperlukan.

Inilah alasan mengapa BAB berdarah sebenarnya bukanlah sebuah penyakit, melainkan gejala yang dapat muncul akibat berbagai kondisi dengan tingkat keparahan yang sangat berbeda.

Penyebab BAB Keluar Darah yang Paling Sering Terjadi

Dikutip dari informasi medis yang dipublikasikan Halodoc dan Alodokter, terdapat beberapa penyebab BAB berdarah yang paling sering ditemukan di layanan kesehatan. Sebagian tergolong ringan dan dapat membaik dengan pengobatan sederhana, sementara sebagian lainnya membutuhkan pemeriksaan serta penanganan lebih lanjut.

Penyebab yang paling umum meliputi:

  • Wasir (hemoroid) akibat pembengkakan pembuluh darah di anus.

  • Fisura ani, yaitu robekan kecil pada jaringan anus yang sering dipicu BAB keras atau mengejan terlalu kuat.

  • Infeksi saluran pencernaan yang menyebabkan diare berdarah.

  • Penyakit radang usus, seperti kolitis ulseratif dan penyakit Crohn.

  • Divertikulitis, yaitu peradangan pada kantong kecil di usus besar.

  • Polip usus, yang dapat menyebabkan perdarahan tanpa keluhan berarti.

  • Kanker kolorektal, terutama pada pasien dengan usia lebih tua atau memiliki riwayat keluarga.

Meski demikian, tidak semua penyebab menunjukkan gejala yang sama. Ada kondisi yang disertai nyeri hebat saat BAB, sementara ada pula yang hampir tidak menimbulkan rasa sakit sehingga sering terlambat disadari. Pada bagian berikutnya akan dibahas lebih rinci bagaimana membedakan setiap penyebab tersebut, gejala khas yang menyertainya, serta kapan BAB berdarah menjadi tanda kondisi darurat yang tidak boleh ditunda penanganannya.

Baca Juga: Harga Obat Naik, Pasien Penyakit Kronis Berpotensi Hadapi Pengeluaran Lebih Besar

Baca Juga: Hukum Menggunakan Tato untuk Pengobatan Penyakit Menurut Islam

Apa Saja Penyebab BAB Keluar Darah? Kenali Perbedaannya

Meski sama-sama menyebabkan keluarnya darah saat buang air besar, setiap penyakit memiliki mekanisme, gejala, dan tingkat keparahan yang berbeda. Mengenali ciri khas masing-masing kondisi dapat membantu Anda memahami kapan cukup melakukan perawatan sederhana dan kapan harus segera mencari pertolongan medis.

1. Wasir (Hemoroid), Penyebab BAB Berdarah yang Paling Umum

Wasir atau hemoroid merupakan penyebab BAB berdarah yang paling sering ditemukan. Kondisi ini terjadi ketika pembuluh darah di sekitar anus atau rektum membengkak akibat tekanan berlebihan, misalnya karena sering mengejan saat sembelit, duduk terlalu lama, atau kehamilan.

Ciri khas wasir meliputi:

  • Darah merah terang setelah BAB.

  • Darah terlihat di tisu atau permukaan feses.

  • Benjolan di sekitar anus.

  • Gatal atau rasa tidak nyaman di area dubur.

Pada tahap awal, wasir umumnya dapat membaik dengan meningkatkan konsumsi serat, memperbanyak minum air putih, serta menghindari kebiasaan mengejan terlalu keras.

2. Fisura Ani

Fisura ani adalah robekan kecil pada lapisan anus yang sering kali disebabkan oleh tinja berukuran besar dan keras.

Berbeda dengan wasir, fisura ani hampir selalu menimbulkan rasa nyeri tajam ketika buang air besar. Bahkan, sebagian penderita masih merasakan nyeri beberapa jam setelah selesai BAB.

Tanda-tandanya antara lain:

  • Darah merah segar dalam jumlah sedikit.

  • Nyeri hebat saat BAB.

  • Sensasi terbakar di anus.

  • Sulit BAB karena takut rasa sakit kembali muncul.

Kondisi ini sering membaik setelah sembelit berhasil diatasi dan tinja menjadi lebih lunak.

3. Penyakit Radang Usus (Inflammatory Bowel Disease)

Penyakit radang usus atau Inflammatory Bowel Disease (IBD), seperti kolitis ulseratif dan penyakit Crohn, merupakan peradangan kronis pada saluran pencernaan.

Tidak seperti wasir, BAB berdarah akibat IBD biasanya disertai gejala lain, seperti:

  • Diare berkepanjangan.

  • Nyeri perut berulang.

  • Berat badan turun.

  • Tubuh mudah lelah.

  • Demam.

Karena bersifat kronis, penyakit ini memerlukan pengobatan jangka panjang untuk mengendalikan peradangan.

4. Divertikulitis

Divertikulitis terjadi ketika kantong-kantong kecil (divertikula) yang terbentuk di dinding usus besar mengalami peradangan atau infeksi.

Perdarahan akibat divertikulitis kadang muncul secara tiba-tiba tanpa rasa sakit yang berarti. Namun, sebagian pasien juga mengalami:

  • Nyeri perut kiri bawah.

  • Demam.

  • Mual.

  • Perubahan pola BAB.

Kondisi ini lebih sering ditemukan pada orang berusia lanjut.

5. Polip Usus dan Kanker Kolorektal

Salah satu alasan mengapa BAB berdarah tidak boleh disepelekan adalah kemungkinan adanya polip usus atau kanker kolorektal.

Yang perlu diwaspadai, kondisi ini sering kali tidak menimbulkan rasa sakit, sehingga banyak orang menganggap perdarahan hanya berasal dari wasir.

Gejala yang patut dicurigai meliputi:

  • BAB berdarah berulang.

  • Perubahan pola BAB selama beberapa minggu.

  • Berat badan turun tanpa sebab jelas.

  • Tubuh mudah lelah akibat anemia.

Semakin cepat ditemukan, peluang keberhasilan pengobatan kanker usus besar akan semakin tinggi.

6. Tukak Lambung dan Perdarahan Saluran Cerna Atas

Jika darah berasal dari lambung atau usus bagian atas, feses biasanya berubah menjadi hitam pekat (melena).

Perdarahan jenis ini dapat disebabkan oleh:

  • Tukak lambung.

  • Gastritis.

  • Varises esofagus.

  • Sindrom Mallory-Weiss.

  • Kanker lambung.

Melena hampir selalu memerlukan evaluasi medis karena menunjukkan adanya perdarahan yang telah melewati proses pencernaan.

Insight Editorial: Kesalahan yang Sering Dilakukan Saat Mengalami BAB Berdarah

Salah satu kesalahan paling umum di masyarakat adalah menyimpulkan penyebab BAB berdarah hanya berdasarkan informasi dari internet atau pengalaman orang lain.

Sebagai ilustrasi, seseorang berusia 35 tahun mengalami BAB berdarah selama dua minggu. Karena tidak merasa nyeri, ia menganggap kondisinya hanya wasir dan membeli salep secara mandiri. Namun, setelah perdarahan terus berulang, pemeriksaan kolonoskopi menemukan adanya polip usus yang berpotensi berkembang menjadi kanker jika tidak diangkat.

Ilustrasi tersebut menunjukkan bahwa warna darah, lokasi perdarahan, usia, dan gejala penyerta jauh lebih penting dibanding sekadar ada atau tidaknya rasa nyeri.

Dalam praktik medis, dokter biasanya mempertimbangkan beberapa faktor berikut sebelum menentukan penyebab:

  • Warna darah.

  • Jumlah perdarahan.

  • Frekuensi BAB berdarah.

  • Riwayat penyakit keluarga.

  • Perubahan pola BAB.

  • Penurunan berat badan.

  • Riwayat konsumsi obat tertentu, seperti pengencer darah.

Pendekatan inilah yang membuat pemeriksaan dokter tetap menjadi langkah terbaik ketika BAB berdarah terjadi berulang.

Kapan BAB Berdarah Menjadi Kondisi Darurat?

Dikutip dari informasi medis Halodoc dan Alodokter, BAB berdarah sebaiknya segera diperiksakan ke dokter, terutama bila penyebabnya belum diketahui.

Namun, ada beberapa kondisi yang memerlukan penanganan lebih cepat karena berpotensi mengancam keselamatan pasien.

Segera pergi ke fasilitas kesehatan apabila mengalami:

  • Perdarahan dalam jumlah banyak.

  • BAB berdarah berlangsung lebih dari satu minggu.

  • Feses berwarna hitam pekat seperti aspal.

  • Muntah darah.

  • Pusing hingga hampir pingsan.

  • Kulit pucat.

  • Sesak napas.

  • Penurunan berat badan tanpa sebab jelas.

  • Nyeri perut hebat.

  • Demam tinggi disertai diare berdarah.

Gejala-gejala tersebut dapat menunjukkan kehilangan darah yang cukup banyak atau adanya penyakit serius pada saluran pencernaan.


Apa yang Harus Dilakukan Jika BAB Keluar Darah?

Langkah pertama ketika mengalami BAB berdarah adalah tidak panik, tetapi juga tidak mengabaikannya.

Apabila darah hanya sedikit dan diduga berkaitan dengan sembelit atau wasir, beberapa langkah berikut dapat membantu mengurangi keluhan:

  • Perbanyak konsumsi makanan tinggi serat.

  • Minum air putih sekitar 2 liter per hari.

  • Hindari mengejan terlalu kuat.

  • Berolahraga secara rutin.

  • Jaga kebersihan area anus.

  • Berendam atau mandi dengan air hangat untuk membantu meredakan nyeri akibat wasir.

Namun, apabila perdarahan terus berulang, jangan menunda pemeriksaan karena pengobatan harus disesuaikan dengan penyebabnya. Misalnya, infeksi memerlukan antibiotik, penyakit radang usus membutuhkan obat antiinflamasi, sedangkan polip atau kanker mungkin memerlukan tindakan operasi.

Bagaimana Dokter Menentukan Penyebab BAB Berdarah?

Untuk mengetahui penyebab perdarahan secara pasti, dokter dapat melakukan beberapa pemeriksaan, antara lain:

Kolonoskopi

Kolonoskopi menggunakan selang berkamera yang dimasukkan melalui anus untuk melihat kondisi usus besar dan rektum. Pemeriksaan ini sering menjadi pilihan utama jika dicurigai terdapat polip, kanker, atau radang usus.

Gastroskopi

Gastroskopi dilakukan melalui mulut untuk memeriksa kerongkongan, lambung, dan usus dua belas jari apabila diduga terjadi perdarahan saluran cerna bagian atas.

Pemeriksaan Darah

Tes darah membantu mengetahui apakah pasien mengalami anemia akibat kehilangan darah serta mendeteksi tanda infeksi atau peradangan.

Pemeriksaan Feses

Pemeriksaan tinja dapat mendeteksi darah samar yang tidak terlihat oleh mata serta mengetahui kemungkinan infeksi bakteri atau parasit.

Angiografi dan Pemeriksaan Penunjang Lain

Jika sumber perdarahan sulit ditemukan, dokter dapat menggunakan angiografi atau pemeriksaan pencitraan lain untuk melihat kondisi pembuluh darah di saluran pencernaan.

Bisakah BAB Berdarah Dicegah?

Tidak semua kasus BAB berdarah dapat dicegah. Namun, risiko beberapa penyebab yang paling umum dapat dikurangi dengan menjaga kesehatan saluran pencernaan.

Beberapa langkah yang dianjurkan meliputi:

  • Konsumsi serat sekitar 25–30 gram per hari.

  • Minum air putih yang cukup.

  • Jangan menunda keinginan BAB.

  • Hindari duduk terlalu lama di toilet.

  • Berolahraga secara rutin.

  • Menjaga berat badan ideal.

  • Mengurangi konsumsi alkohol.

  • Melakukan pemeriksaan kolonoskopi sesuai anjuran dokter, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat keluarga kanker usus besar.

Kesimpulan

Kenapa BAB keluar darah? Jawabannya bergantung pada sumber perdarahan di saluran pencernaan. Penyebabnya bisa sesederhana wasir atau fisura ani, tetapi juga dapat berkaitan dengan penyakit yang lebih serius seperti radang usus, polip, tukak lambung, hingga kanker kolorektal.

Karena BAB berdarah merupakan gejala, bukan diagnosis, pemeriksaan medis tetap diperlukan apabila perdarahan terjadi berulang, jumlahnya banyak, atau disertai gejala lain seperti nyeri hebat, anemia, penurunan berat badan, atau BAB berwarna hitam.

Mengenali warna darah, gejala penyerta, dan faktor risiko dapat membantu mempercepat penanganan serta mencegah komplikasi yang lebih berat. Jangan ragu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan jika Anda mengalami BAB berdarah, terutama ketika penyebabnya belum diketahui secara pasti.

Pantau terus informasi kesehatan terpercaya agar Anda dapat mengenali tanda-tanda gangguan saluran pencernaan lebih dini dan mengambil keputusan yang tepat untuk menjaga kesehatan diri maupun keluarga.


Baca Juga: 6 Manfaat Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur, Lakukan Kebiasaan Sederhana Ini untuk Kesehatan!

Baca Juga: Temon Sakit Apa? Ini Riwayat Penyakit yang Dimilikinya hingga Penyebab Meninggal Dunia

FAQ

Apakah BAB keluar darah selalu karena wasir?

Tidak. Wasir memang menjadi penyebab paling umum, tetapi BAB berdarah juga dapat disebabkan oleh fisura ani, infeksi saluran cerna, penyakit radang usus, polip usus, tukak lambung, hingga kanker kolorektal. Oleh karena itu, perdarahan yang berulang sebaiknya tetap diperiksakan ke dokter.

BAB berdarah tanpa rasa sakit apakah berbahaya?

BAB berdarah tanpa rasa sakit tetap perlu diwaspadai karena dapat menjadi tanda polip usus, divertikulitis, atau bahkan kanker kolorektal. Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk memastikan penyebabnya.

Apa arti darah merah terang saat BAB?

Darah merah terang biasanya berasal dari saluran cerna bagian bawah, seperti anus atau rektum. Kondisi ini paling sering berkaitan dengan wasir atau fisura ani, meskipun penyebab lain juga tetap mungkin terjadi.

Kenapa BAB berwarna hitam seperti aspal?

Feses hitam pekat atau melena umumnya menunjukkan perdarahan pada lambung atau saluran cerna bagian atas. Darah berubah warna setelah bercampur dengan asam lambung dan enzim pencernaan sehingga memerlukan evaluasi medis.

Kapan BAB berdarah harus diperiksa ke dokter?

Segera periksa ke dokter jika BAB berdarah berlangsung lebih dari satu minggu, jumlah darah semakin banyak, disertai nyeri hebat, penurunan berat badan, demam, pusing, muntah darah, atau feses berwarna hitam.

Bagaimana cara mengatasi BAB berdarah di rumah?

Jika penyebabnya ringan, seperti wasir atau fisura ani, Anda dapat meningkatkan konsumsi serat, minum air putih yang cukup, menghindari mengejan terlalu keras, menjaga kebersihan anus, serta berendam dengan air hangat. Namun, bila perdarahan terus berulang, pemeriksaan dokter tetap diperlukan.

Apa pemeriksaan yang biasanya dilakukan dokter untuk mencari penyebab BAB berdarah?

Dokter dapat melakukan kolonoskopi, gastroskopi, pemeriksaan darah, pemeriksaan feses, hingga angiografi atau pemeriksaan pencitraan lain sesuai lokasi perdarahan yang dicurigai. Pemeriksaan tersebut membantu menentukan penyebab sehingga terapi yang diberikan menjadi lebih tepat sasaran.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.