Akurat Logo

Data BPS: 4 dari 10 Balita Mengalami Keluhan Kesehatan, Apa Penyebabnya?

Idham Nur Indrajaya | 23 Juli 2026, 11:03 WIB
Data BPS: 4 dari 10 Balita Mengalami Keluhan Kesehatan, Apa Penyebabnya?
Data BPS menunjukkan 4 dari 10 balita mengalami keluhan kesehatan. Simak penyebabnya, penyakit yang paling sering menyerang, dan dampaknya bagi keluarga. dok. Allianz Indonesia

AKURAT.CO Setiap orang tua tentu ingin melihat anak tumbuh sehat dan mampu meraih cita-citanya. Berbagai persiapan dilakukan sejak dini, mulai dari memilih makanan bergizi, memastikan imunisasi lengkap, hingga menabung untuk biaya pendidikan. Namun, ada satu hal yang sering datang tanpa diduga, yakni masalah kesehatan. Ketika anak jatuh sakit, perhatian keluarga bukan hanya tertuju pada proses penyembuhan, tetapi juga pada biaya pengobatan yang harus dikeluarkan.

Kondisi ini menjadi semakin relevan setelah Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan bahwa 40,12% balita di Indonesia mengalami keluhan kesehatan, menjadikan kelompok usia ini sebagai salah satu yang paling rentan mengalami gangguan kesehatan. Angka tersebut menunjukkan bahwa sekitar 4 dari 10 balita pernah mengalami keluhan kesehatan, sebuah fakta yang mengingatkan bahwa menjaga kesehatan anak sama pentingnya dengan mempersiapkan masa depan mereka.

Lantas, apa yang menyebabkan balita lebih mudah mengalami gangguan kesehatan? Mengapa penyakit yang terlihat ringan justru dapat berdampak besar bagi keluarga? Berikut penjelasannya.

Ringkasan

Berdasarkan Profil Statistik Kesehatan 2025 yang diterbitkan BPS, sebanyak 40,12% balita mengalami keluhan kesehatan. Angka ini menempatkan balita sebagai salah satu kelompok usia dengan proporsi keluhan kesehatan tertinggi di Indonesia.

Secara umum, kondisi tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh satu faktor. Balita berada dalam fase pertumbuhan yang membuat sistem kekebalan tubuhnya masih berkembang. Pada masa ini, tubuh anak masih belajar mengenali berbagai virus, bakteri, maupun zat asing yang ada di lingkungan sekitar.

Akibatnya, penyakit seperti infeksi saluran pernapasan, diare, hingga infeksi tenggorokan lebih mudah menyerang dibandingkan pada anak yang usianya lebih besar atau orang dewasa.

Selain faktor biologis, lingkungan juga berperan besar. Balita mulai aktif bermain, berinteraksi dengan teman sebaya, hingga memasuki lingkungan pendidikan seperti kelompok bermain atau taman kanak-kanak. Aktivitas tersebut meningkatkan peluang terpapar berbagai kuman penyebab penyakit.

Kondisi cuaca yang tidak menentu juga menjadi faktor yang sering memicu meningkatnya kasus infeksi saluran pernapasan. Ketika daya tahan tubuh anak menurun, virus yang sebenarnya umum ditemukan di lingkungan sekitar menjadi lebih mudah menyebabkan penyakit.

Yang menarik, tingginya angka keluhan kesehatan pada balita tidak selalu berarti seluruh kasus tergolong berat. Sebaliknya, banyak di antaranya merupakan penyakit yang sering dianggap ringan dan dapat sembuh dalam beberapa hari. Namun, justru frekuensi kejadiannya yang tinggi membuat persoalan ini perlu mendapat perhatian.

Artinya, tantangan terbesar bukan hanya pada tingkat keparahan penyakit, melainkan seberapa sering balita mengalami gangguan kesehatan dalam masa pertumbuhannya. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memengaruhi aktivitas belajar, tumbuh kembang anak, hingga produktivitas orang tua yang harus mendampingi proses pemulihan.

ISPA Masih Mendominasi Penyakit Anak, Ini Gambaran dari Data Allianz

Temuan BPS tersebut sejalan dengan pengalaman yang dihimpun Allianz Indonesia melalui data klaim kesehatan para nasabahnya. Hingga Semester I 2026, perusahaan asuransi tersebut memberikan perlindungan kepada lebih dari 119 ribu tertanggung berusia 0–21 tahun.

Selama periode Januari hingga Juni 2026, Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) menjadi penyakit dengan frekuensi klaim tertinggi, yakni mencapai 6.269 kasus. Setelah itu disusul diare sebanyak 2.536 kasus dan infeksi tenggorokan sebanyak 1.672 kasus.

Data tersebut memberikan gambaran bahwa penyakit infeksi masih menjadi tantangan utama bagi anak-anak di Indonesia. Ketiga penyakit tersebut umumnya bukan termasuk penyakit kronis, tetapi memiliki tingkat kejadian yang tinggi sehingga membuat banyak keluarga harus berulang kali membawa anak berobat dalam satu tahun.

Jika dicermati, pola ini juga memperkuat data BPS. Artinya, tingginya proporsi balita yang mengalami keluhan kesehatan memang tercermin dalam praktik pelayanan kesehatan sehari-hari, bukan sekadar angka statistik.

Di sisi lain, frekuensi penyakit yang tinggi juga berdampak pada besarnya biaya pelayanan kesehatan. Sepanjang Januari hingga Juni 2026, Allianz Indonesia membayarkan total klaim kesehatan lebih dari Rp212 miliar kepada tertanggung berusia 0–21 tahun.

Besarnya nilai klaim tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan layanan kesehatan anak masih cukup tinggi. Bagi keluarga yang harus menghadapi kondisi serupa tanpa perencanaan keuangan yang memadai, biaya pengobatan berpotensi menjadi pengeluaran tak terduga yang mengganggu anggaran rumah tangga.

Head of Product Allianz Syariah Indonesia Rina Triana mengatakan, ketika anak sakit, fokus utama orang tua tentu memastikan buah hatinya memperoleh penanganan medis terbaik tanpa harus terbebani persoalan biaya.

"Bagi orang tua, ketika anak sakit, prioritas utama tentu adalah memastikan mereka memperoleh penanganan medis yang terbaik. Karena itu, kesiapan finansial menjadi penting agar perhatian keluarga dapat tetap berfokus pada proses pemulihan anak, tanpa dibayangi kekhawatiran terhadap biaya pengobatan maupun terganggunya berbagai rencana yang telah dipersiapkan untuk masa depan mereka. Perlindungan kesehatan melalui asuransi dapat menjadi salah satu bentuk antisipasi agar keluarga memiliki dukungan finansial ketika menghadapi risiko kesehatan yang tidak terduga," ujar Rina Triana melalui catatan tertulis yang diterima AKURAT.CO, dikutip Kamis, 23 Juli 2026.

Pernyataan tersebut menggarisbawahi bahwa persoalan kesehatan anak tidak hanya berkaitan dengan aspek medis. Di balik setiap kunjungan ke dokter atau rumah sakit, terdapat konsekuensi ekonomi yang juga harus dipersiapkan oleh keluarga.

Inilah yang menjadi paradoks. Penyakit seperti ISPA, diare, atau infeksi tenggorokan sering kali dianggap sebagai penyakit "biasa". Namun karena dapat terjadi berulang dalam satu tahun, akumulasi biaya konsultasi dokter, obat-obatan, pemeriksaan laboratorium, hingga waktu kerja orang tua yang terpaksa berkurang dapat menjadi beban finansial yang tidak kecil.

Alih-alih hanya melihat penyakit dari tingkat keparahannya, keluarga juga perlu memperhatikan frekuensi kemunculannya. Sebab, penyakit yang ringan tetapi sering terjadi justru dapat memberikan dampak ekonomi yang lebih besar daripada yang selama ini diperkirakan.

Baca Juga: Kematian Balita Diduga Dianiaya Ibu Tiri di Bekasi Jadi Alarm Perlindungan Anak

Baca Juga: Usul Menkes: Perluas MBG untuk Penderita TBC, Ibu Hamil hingga Balita

Mengapa Penyakit Anak Bisa Mengganggu Kondisi Keuangan Keluarga?

Saat membahas kesehatan anak, perhatian banyak orang tua biasanya tertuju pada proses penyembuhan. Padahal, ada aspek lain yang tidak kalah penting, yakni dampak finansial yang muncul ketika anak harus menjalani pengobatan.

Menurut Profil Statistik Kesehatan 2025 yang diterbitkan BPS, sekitar setengah dari pengeluaran kesehatan di Indonesia masih ditanggung langsung oleh rumah tangga (out-of-pocket expenditure). Artinya, masyarakat masih mengeluarkan biaya pribadi dalam jumlah besar untuk mendapatkan layanan kesehatan.

Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun berbagai fasilitas kesehatan telah tersedia, keluarga tetap perlu menyiapkan dana khusus ketika risiko kesehatan datang. Tanpa perencanaan yang baik, biaya berobat dapat mengganggu pos pengeluaran lain yang sebenarnya telah dipersiapkan jauh hari, seperti dana pendidikan anak, tabungan, maupun kebutuhan sehari-hari.

Sebagai ilustrasi, bayangkan seorang balita mengalami ISPA sebanyak tiga kali dalam setahun. Setiap kali sakit, orang tua harus membawa anak ke dokter, membeli obat, mungkin melakukan pemeriksaan tambahan, hingga mengambil cuti kerja untuk mendampingi proses pemulihan.

Jika setiap episode penyakit menghabiskan biaya ratusan ribu hingga jutaan rupiah, maka dalam satu tahun total pengeluaran dapat mencapai jutaan rupiah. Belum termasuk biaya transportasi, konsumsi selama menjalani perawatan, maupun potensi hilangnya pendapatan karena orang tua harus meninggalkan pekerjaan.

Inilah alasan mengapa penyakit yang sering dianggap ringan tetap perlu mendapat perhatian. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh anak yang sedang sakit, tetapi juga terhadap stabilitas keuangan keluarga.

Mengapa Orang Tua Perlu Menyiapkan Perlindungan Sejak Dini?

Banyak keluarga telah menyusun berbagai rencana untuk masa depan anak, mulai dari memilih sekolah terbaik hingga menyiapkan tabungan pendidikan. Namun, risiko kesehatan sering kali baru dipikirkan setelah anak mengalami sakit.

Padahal, perencanaan keuangan yang sehat idealnya tidak hanya mencakup dana pendidikan atau dana darurat, tetapi juga strategi untuk menghadapi pengeluaran kesehatan yang datang secara tiba-tiba.

Rina mengatakan perlindungan kesehatan memiliki peran lebih luas dibanding sekadar membantu membayar biaya pengobatan.

"Perlindungan kesehatan melalui produk asuransi bukan sekadar membantu membiayai pengobatan ketika risiko terjadi. Lebih dari itu, asuransi membantu menjaga stabilitas keuangan keluarga agar tujuan jangka panjang, seperti pendidikan dan berbagai rencana masa depan anak, tetap dapat diwujudkan. Karena itu, penting bagi orang tua untuk memilih perlindungan yang sesuai dengan kebutuhan keluarga dan mempersiapkannya sedini mungkin, bukan ketika risiko sudah terjadi," tambah Rina.

Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa perlindungan kesehatan merupakan salah satu komponen dalam manajemen risiko keluarga. Dengan adanya perlindungan yang sesuai kebutuhan, keluarga memiliki ruang finansial yang lebih baik untuk menghadapi situasi darurat tanpa harus mengorbankan rencana jangka panjang.

Namun demikian, perlindungan kesehatan bukanlah satu-satunya solusi. Orang tua tetap perlu menerapkan pola hidup sehat sejak dini, memastikan anak memperoleh asupan gizi seimbang, menjaga kebersihan lingkungan, melengkapi imunisasi, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala. Langkah-langkah preventif tersebut tetap menjadi fondasi utama untuk menurunkan risiko penyakit pada anak.

Penyakit Ringan Justru Bisa Menjadi Beban Terbesar

Ada satu paradoks yang sering luput dari perhatian. Banyak keluarga merasa lebih khawatir terhadap penyakit berat karena biaya pengobatannya mahal. Padahal, berdasarkan data yang ada, penyakit yang paling sering dialami anak justru merupakan penyakit infeksi yang relatif umum, seperti ISPA, diare, dan infeksi tenggorokan.

Masalahnya bukan semata-mata pada tingkat keparahan penyakit, melainkan pada frekuensi kemunculannya. Ketika penyakit yang sama datang berulang kali, biaya yang dikeluarkan keluarga akan terus bertambah sedikit demi sedikit hingga akhirnya menjadi beban yang cukup besar.

Fenomena ini juga memberikan pelajaran penting bahwa menjaga kesehatan anak tidak hanya bertujuan menghindari penyakit serius, tetapi juga mencegah gangguan kesehatan ringan yang sering muncul dan berdampak pada kualitas hidup keluarga.

Dengan kata lain, investasi terbesar orang tua bukan hanya menyiapkan biaya ketika anak sakit, melainkan menciptakan lingkungan yang mendukung anak agar tetap sehat dalam jangka panjang.

Hari Anak Nasional Jadi Pengingat Pentingnya Menjaga Masa Depan Anak

Momentum Hari Anak Nasional menjadi pengingat bahwa membangun masa depan anak tidak cukup hanya dengan memberikan pendidikan terbaik atau mendukung mereka meraih cita-cita. Kesehatan merupakan fondasi yang menentukan apakah setiap rencana tersebut dapat berjalan sesuai harapan.

Data BPS yang menunjukkan sekitar 4 dari 10 balita mengalami keluhan kesehatan memperlihatkan bahwa risiko kesehatan pada anak masih menjadi tantangan nyata di Indonesia. Di sisi lain, data Allianz Indonesia mengenai tingginya kasus ISPA, diare, dan infeksi tenggorokan memperkuat gambaran bahwa penyakit infeksi masih mendominasi masalah kesehatan anak.

Bagi orang tua, temuan tersebut menjadi pengingat untuk lebih memperhatikan upaya pencegahan sekaligus menyiapkan perencanaan keuangan yang lebih menyeluruh. Sebab, ketika risiko kesehatan datang, keluarga tidak hanya membutuhkan layanan medis yang berkualitas, tetapi juga kesiapan finansial agar proses pemulihan anak dapat berlangsung tanpa mengganggu tujuan jangka panjang.

Pada akhirnya, masa depan anak tidak hanya dibangun melalui pendidikan dan kesempatan belajar, tetapi juga melalui kesehatan yang terjaga sejak dini. Ketika kedua aspek tersebut berjalan beriringan, peluang anak untuk tumbuh optimal dan meraih cita-citanya pun menjadi lebih besar.

Pantau terus perkembangan informasi mengenai kesehatan anak dan perencanaan keuangan keluarga agar setiap keputusan yang diambil dapat membantu menciptakan masa depan yang lebih sehat dan lebih terjamin.


Baca Juga: BGN Wajibkan SPPG Salurkan 300 porsi ke Ibu Hamil hingga Balita

Baca Juga: BGN Bantah Isu Balita Meninggal Akibat MBG, Orang Tua Tegaskan Murni Karena Sakit

FAQ

Apa penyebab balita lebih mudah mengalami keluhan kesehatan?

Balita memiliki sistem kekebalan tubuh yang masih berkembang sehingga lebih rentan terhadap infeksi virus, bakteri, maupun perubahan lingkungan. Selain itu, aktivitas bermain, interaksi dengan anak lain, serta paparan cuaca yang berubah-ubah membuat risiko terkena penyakit seperti ISPA, diare, dan infeksi tenggorokan menjadi lebih tinggi dibanding kelompok usia yang lebih besar.

Apa penyakit yang paling sering menyerang anak di Indonesia?

Berdasarkan data klaim Allianz Indonesia Semester I 2026, tiga penyakit dengan frekuensi tertinggi pada kelompok usia 0–21 tahun adalah Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA), diare, dan infeksi tenggorokan. Ketiga penyakit tersebut umumnya dapat ditangani, tetapi memiliki tingkat kejadian yang cukup tinggi sehingga perlu diwaspadai oleh orang tua.

Mengapa penyakit ringan pada anak tetap perlu diperhatikan?

Penyakit yang tergolong ringan sering kali terjadi berulang dalam satu tahun. Akumulasi biaya konsultasi dokter, obat-obatan, pemeriksaan, hingga waktu yang harus diluangkan orang tua dapat memberikan dampak finansial yang cukup besar apabila tidak diantisipasi sejak awal.

Bagaimana cara menjaga kesehatan balita agar tidak mudah sakit?

Orang tua dapat mengurangi risiko penyakit dengan memberikan makanan bergizi seimbang, memastikan imunisasi lengkap, membiasakan anak menjaga kebersihan tangan, menciptakan lingkungan yang bersih, memberikan waktu istirahat yang cukup, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala apabila diperlukan.

Mengapa keluarga perlu menyiapkan dana kesehatan anak?

Biaya kesehatan sering muncul secara tiba-tiba dan dapat mengganggu anggaran rumah tangga. Dengan memiliki dana darurat atau perlindungan kesehatan yang sesuai kebutuhan, keluarga memiliki kesiapan finansial ketika anak membutuhkan perawatan medis tanpa harus mengorbankan kebutuhan penting lainnya.

Apa hubungan kesehatan anak dengan masa depan keluarga?

Anak yang sehat memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh, belajar, dan berkembang secara optimal. Sebaliknya, masalah kesehatan yang terjadi berulang dapat mengganggu aktivitas belajar anak sekaligus memengaruhi kondisi ekonomi keluarga karena adanya biaya pengobatan dan potensi berkurangnya produktivitas orang tua.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.