Akurat Logo

Allianz: ISPA Masih Menjadi Penyakit Anak yang Paling Banyak Diklaim Asuransinya, Mengapa Kasusnya Terus Tinggi?

Idham Nur Indrajaya | 23 Juli 2026, 11:14 WIB
Allianz: ISPA Masih Menjadi Penyakit Anak yang Paling Banyak Diklaim Asuransinya, Mengapa Kasusnya Terus Tinggi?
ISPA menjadi penyakit anak dengan klaim asuransi tertinggi menurut Allianz Indonesia. Simak penyebab, data terbaru, dan dampaknya bagi keluarga. Ilustrasi: Gemini Google

AKURAT.CO Batuk, pilek, dan demam pada anak sering kali dianggap sebagai penyakit yang wajar dialami selama masa tumbuh kembang. Banyak orang tua memilih merawat anak di rumah karena menganggap gejalanya akan membaik dengan sendirinya. Namun, ketika keluhan tersebut terjadi berulang hingga membutuhkan pemeriksaan dokter atau perawatan di fasilitas kesehatan, dampaknya bukan hanya dirasakan oleh kondisi kesehatan anak, tetapi juga oleh keuangan keluarga.

Fenomena tersebut tercermin dalam data Allianz Indonesia. Hingga Semester I 2026, Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) masih menjadi penyakit dengan frekuensi klaim kesehatan tertinggi pada kelompok usia 0–21 tahun. Temuan ini sekaligus memperlihatkan bahwa penyakit infeksi yang sering dianggap ringan justru menjadi alasan utama anak-anak membutuhkan layanan kesehatan.

Lantas, mengapa ISPA masih mendominasi penyakit pada anak? Apa yang membuat penyakit ini terus menjadi penyebab klaim kesehatan terbesar? Berikut penjelasannya.

Ringkasan

ISPA pada anak merupakan infeksi yang menyerang saluran pernapasan bagian atas, seperti hidung, tenggorokan, hingga sinus. Penyakit ini umumnya disebabkan oleh virus, meski dalam beberapa kasus juga dapat dipicu oleh bakteri. Gejalanya meliputi batuk, pilek, demam, sakit tenggorokan, hingga hidung tersumbat.

Meski tergolong penyakit yang umum, ISPA memiliki karakteristik yang membuatnya lebih sering dialami anak dibanding orang dewasa. Penyebab utamanya adalah sistem kekebalan tubuh anak yang masih berkembang sehingga belum sekuat orang dewasa dalam melawan berbagai virus yang beredar di lingkungan.

Selain faktor biologis, aktivitas sehari-hari anak juga meningkatkan risiko penularan. Anak usia balita hingga sekolah dasar umumnya mulai aktif bermain bersama teman sebaya, mengikuti kegiatan belajar di sekolah atau tempat penitipan anak, serta berinteraksi dengan banyak orang. Situasi tersebut membuat penyebaran virus penyebab ISPA berlangsung lebih mudah.

Perubahan cuaca juga menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan. Peralihan musim sering diikuti meningkatnya kasus infeksi saluran pernapasan karena daya tahan tubuh sebagian anak menurun. Dalam kondisi seperti ini, virus yang sebelumnya tidak menimbulkan gangguan dapat dengan mudah menyebabkan infeksi.

Di sisi lain, masih banyak orang tua yang menganggap batuk dan pilek sebagai penyakit biasa sehingga penanganannya terkadang terlambat. Padahal, apabila gejala berlangsung cukup lama atau disertai demam tinggi, anak tetap membutuhkan pemeriksaan tenaga medis untuk mencegah komplikasi yang lebih serius.

Hal yang perlu dipahami, tingginya kasus ISPA bukan berarti penyakit ini selalu berbahaya. Justru karena penyakit ini sangat sering terjadi, jumlah anak yang membutuhkan layanan kesehatan menjadi jauh lebih besar dibanding penyakit lain yang kasusnya lebih sedikit.

Dengan kata lain, tantangan utama ISPA bukan hanya tingkat keparahan penyakit, melainkan frekuensi kemunculannya yang tinggi. Dalam satu tahun, seorang anak bahkan dapat mengalami ISPA lebih dari satu kali, terutama ketika daya tahan tubuhnya sedang menurun.

Baca Juga: Kemasan AMDK Bergambar Balita Disorot, Dinilai Berpotensi Langgar Aturan dan Etika Iklan

Baca Juga: Dalam 2 Pekan, Seluruh SPPG Wajib Masukkan Ibu Hamil dan Balita Jadi Penerima Manfaat

Data Allianz: ISPA Jadi Penyakit Anak dengan Klaim Tertinggi

Gambaran tersebut tercermin dalam data klaim kesehatan Allianz Indonesia. Hingga Semester I 2026, perusahaan memberikan perlindungan kepada lebih dari 119 ribu tertanggung berusia 0–21 tahun.

Selama periode Januari hingga Juni 2026, ISPA menjadi penyakit dengan frekuensi klaim kesehatan tertinggi, yakni mencapai 6.269 kasus. Setelah itu disusul oleh diare sebanyak 2.536 kasus dan infeksi tenggorokan sebanyak 1.672 kasus.

Data ini menunjukkan bahwa penyakit infeksi masih menjadi tantangan utama dalam kesehatan anak. Menariknya, ketiga penyakit tersebut bukan merupakan penyakit kronis ataupun penyakit dengan biaya pengobatan paling mahal. Namun, karena jumlah kasusnya sangat tinggi, kebutuhan pelayanan kesehatan pun ikut meningkat.

Jika dibandingkan, jumlah klaim ISPA bahkan hampir 2,5 kali lebih banyak dibandingkan diare dan hampir empat kali lipat dibanding infeksi tenggorokan. Selisih tersebut memperlihatkan bahwa ISPA masih menjadi masalah kesehatan yang paling dominan pada anak-anak.

Temuan Allianz juga selaras dengan Profil Statistik Kesehatan 2025 yang diterbitkan Badan Pusat Statistik (BPS). Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa 40,12% balita mengalami keluhan kesehatan, menjadikan mereka sebagai salah satu kelompok usia dengan proporsi gangguan kesehatan tertinggi di Indonesia.

Kesamaan pola antara data BPS dan Allianz memperlihatkan bahwa tingginya kasus ISPA bukan sekadar fenomena yang terjadi pada peserta asuransi tertentu, melainkan mencerminkan kondisi yang lebih luas di masyarakat. Artinya, penyakit infeksi saluran pernapasan masih menjadi salah satu tantangan kesehatan anak yang perlu mendapat perhatian serius.

Dampak tingginya frekuensi penyakit tersebut juga terlihat dari nilai klaim yang dibayarkan. Sepanjang Januari hingga Juni 2026, Allianz Indonesia membayarkan total klaim kesehatan lebih dari Rp212 miliar kepada tertanggung berusia 0–21 tahun. Besarnya nilai klaim tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan layanan kesehatan anak masih cukup tinggi, terutama untuk menangani penyakit yang sering muncul dalam kehidupan sehari-hari.

Head of Product Allianz Syariah Indonesia Rina Triana mengatakan, ketika anak mengalami sakit, fokus utama setiap orang tua adalah memastikan buah hati mereka memperoleh penanganan medis yang tepat tanpa harus dibebani kekhawatiran mengenai biaya.

"Bagi orang tua, ketika anak sakit, prioritas utama tentu adalah memastikan mereka memperoleh penanganan medis yang terbaik. Karena itu, kesiapan finansial menjadi penting agar perhatian keluarga dapat tetap berfokus pada proses pemulihan anak, tanpa dibayangi kekhawatiran terhadap biaya pengobatan maupun terganggunya berbagai rencana yang telah dipersiapkan untuk masa depan mereka. Perlindungan kesehatan melalui asuransi dapat menjadi salah satu bentuk antisipasi agar keluarga memiliki dukungan finansial ketika menghadapi risiko kesehatan yang tidak terduga," ujar Rina Triana melalui catatan tertulis yang diterima AKURAT.CO, dikutip Kamis, 23 Juli 2026.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa tingginya kasus ISPA bukan hanya persoalan medis, tetapi juga berkaitan dengan kesiapan keluarga menghadapi risiko finansial. Ketika penyakit yang sama terus berulang, biaya konsultasi, obat-obatan, hingga pemeriksaan lanjutan dapat terakumulasi menjadi pengeluaran yang cukup besar.

Di sinilah letak paradoksnya. Banyak orang tua lebih mengkhawatirkan penyakit langka atau penyakit berat karena biaya pengobatannya tinggi. Padahal, berdasarkan data Allianz, justru penyakit yang paling sering menguras pengeluaran keluarga adalah penyakit yang terlihat sederhana seperti ISPA. Frekuensinya yang tinggi membuat kebutuhan berobat menjadi berulang, sehingga dampak ekonominya sering kali lebih besar daripada yang diperkirakan.

Mengapa ISPA Bisa Membebani Keuangan Keluarga?

Ketika membahas ISPA, sebagian besar orang tua mungkin hanya membayangkan biaya konsultasi dokter dan obat-obatan. Padahal, dampak ekonomi dari penyakit ini jauh lebih luas. ISPA memang umumnya dapat sembuh dalam beberapa hari, tetapi karena sering terjadi berulang, total pengeluaran yang harus disiapkan keluarga dapat terus bertambah sepanjang tahun.

Sebagai ilustrasi, bayangkan seorang anak usia tiga tahun mengalami ISPA sebanyak tiga hingga empat kali dalam setahun. Setiap kali sakit, orang tua harus membawa anak ke dokter, membeli obat, mungkin menjalani pemeriksaan tambahan, serta menyediakan waktu untuk mendampingi proses pemulihan. Jika anak harus beristirahat di rumah selama beberapa hari, salah satu orang tua mungkin juga perlu mengambil cuti kerja atau bekerja dari rumah.

Bila dihitung secara keseluruhan, biaya yang dikeluarkan bukan hanya berupa tagihan layanan kesehatan, tetapi juga biaya transportasi, kebutuhan nutrisi tambahan, hingga potensi berkurangnya pendapatan akibat terganggunya aktivitas bekerja. Inilah yang sering kali luput dari perhatian ketika orang tua menganggap ISPA sebagai penyakit "biasa".

Kondisi tersebut menjadi semakin relevan jika melihat Profil Statistik Kesehatan 2025 yang diterbitkan Badan Pusat Statistik (BPS). Laporan itu menunjukkan bahwa sekitar setengah dari pengeluaran kesehatan di Indonesia masih ditanggung langsung oleh rumah tangga (out-of-pocket expenditure).

Artinya, meskipun berbagai program pembiayaan kesehatan telah tersedia, masyarakat masih harus mengeluarkan biaya pribadi dalam jumlah yang cukup besar untuk memperoleh layanan kesehatan. Bagi keluarga yang belum memiliki perencanaan keuangan yang memadai, pengeluaran tak terduga akibat anak sakit berpotensi mengganggu anggaran rumah tangga, termasuk dana pendidikan maupun tabungan jangka panjang.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa dampak ISPA tidak hanya diukur dari jumlah kasusnya, tetapi juga dari konsekuensi ekonomi yang mengikuti setiap episode penyakit.

Bagaimana Orang Tua Dapat Mengurangi Risiko ISPA pada Anak?

Meski ISPA merupakan penyakit yang umum terjadi, risikonya dapat ditekan melalui berbagai langkah pencegahan. Upaya ini menjadi penting karena mengurangi frekuensi penyakit tidak hanya membantu menjaga kesehatan anak, tetapi juga mengurangi beban yang harus ditanggung keluarga.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

  • Memastikan anak memperoleh asupan gizi seimbang untuk mendukung daya tahan tubuh.

  • Melengkapi imunisasi sesuai jadwal yang dianjurkan.

  • Membiasakan anak mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan setelah beraktivitas.

  • Menjaga kebersihan rumah serta memastikan sirkulasi udara berjalan baik.

  • Menghindarkan anak dari paparan asap rokok dan polusi udara.

  • Segera memeriksakan anak ke fasilitas kesehatan apabila gejala tidak kunjung membaik atau disertai demam tinggi.

Di samping upaya pencegahan, orang tua juga perlu mempertimbangkan kesiapan finansial ketika risiko kesehatan datang. Perencanaan keuangan yang baik idealnya tidak hanya berfokus pada tabungan pendidikan atau dana darurat, tetapi juga mengantisipasi biaya kesehatan yang dapat muncul sewaktu-waktu.

Rina mengatakan perlindungan kesehatan memiliki peran dalam menjaga stabilitas keuangan keluarga ketika risiko kesehatan tidak dapat dihindari.

"Perlindungan kesehatan melalui produk asuransi bukan sekadar membantu membiayai pengobatan ketika risiko terjadi. Lebih dari itu, asuransi membantu menjaga stabilitas keuangan keluarga agar tujuan jangka panjang, seperti pendidikan dan berbagai rencana masa depan anak, tetap dapat diwujudkan. Karena itu, penting bagi orang tua untuk memilih perlindungan yang sesuai dengan kebutuhan keluarga dan mempersiapkannya sedini mungkin, bukan ketika risiko sudah terjadi," tambah Rina.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa perlindungan kesehatan bukan hanya berkaitan dengan biaya pengobatan, tetapi juga menjadi bagian dari strategi pengelolaan risiko keuangan keluarga. Dengan demikian, ketika anak membutuhkan perawatan medis, orang tua dapat lebih fokus pada proses pemulihan tanpa harus mengorbankan rencana jangka panjang.

Penyakit yang Paling Sering Terjadi Justru Kerap Paling Menguras Biaya

Ada satu pelajaran penting yang dapat dipetik dari data Allianz Indonesia. Selama ini banyak keluarga lebih mengkhawatirkan penyakit berat karena identik dengan biaya pengobatan yang mahal. Namun, data klaim menunjukkan gambaran yang berbeda.

Penyakit yang paling sering mengharuskan anak mendapatkan layanan kesehatan justru adalah penyakit infeksi yang umum ditemui sehari-hari, seperti ISPA, diare, dan infeksi tenggorokan. Ketiganya mungkin tidak selalu membutuhkan perawatan intensif, tetapi frekuensi kemunculannya yang tinggi membuat biaya pengobatan terus berulang.

Artinya, tantangan terbesar bagi keluarga bukan hanya menghadapi penyakit dengan biaya tinggi, tetapi juga mengelola risiko penyakit yang sering datang tanpa diduga. Semakin sering seorang anak sakit, semakin besar pula peluang terganggunya aktivitas belajar, pekerjaan orang tua, hingga stabilitas keuangan rumah tangga.

Karena itu, menjaga kesehatan anak sebaiknya tidak hanya dipandang sebagai upaya menghindari penyakit serius, melainkan juga mengurangi kemungkinan terjadinya penyakit yang paling sering menyerang. Pendekatan preventif seperti menjaga kebersihan, memenuhi kebutuhan gizi, dan membangun kebiasaan hidup sehat dapat memberikan manfaat yang jauh lebih besar dibanding hanya berfokus pada pengobatan setelah anak sakit.

Hari Anak Nasional Jadi Momentum Meningkatkan Perhatian pada Kesehatan Anak

Momentum Hari Anak Nasional menjadi pengingat bahwa investasi terbaik bagi masa depan anak bukan hanya pendidikan, tetapi juga kesehatan. Anak yang tumbuh sehat memiliki peluang lebih besar untuk belajar, berkembang, dan meraih potensi terbaiknya.

Data Allianz Indonesia yang menempatkan ISPA sebagai penyakit dengan klaim kesehatan tertinggi pada kelompok usia 0–21 tahun menunjukkan bahwa penyakit infeksi masih menjadi tantangan nyata bagi banyak keluarga. Temuan tersebut diperkuat oleh data BPS yang mencatat sekitar 40,12% balita mengalami keluhan kesehatan, sehingga upaya pencegahan perlu menjadi perhatian bersama.

Bagi orang tua, temuan ini dapat menjadi bahan evaluasi untuk tidak hanya fokus pada penanganan saat anak sakit, tetapi juga membangun kebiasaan hidup sehat dan menyiapkan perencanaan keuangan yang lebih matang. Sebab, kesehatan anak dan ketahanan finansial keluarga merupakan dua hal yang saling berkaitan dalam mewujudkan masa depan yang lebih baik.

Pada akhirnya, penyakit seperti ISPA mungkin sulit dihilangkan sepenuhnya. Namun, dengan langkah pencegahan yang tepat, deteksi dini, serta kesiapan menghadapi risiko kesehatan, dampaknya terhadap tumbuh kembang anak maupun kondisi ekonomi keluarga dapat diminimalkan.

Pantau terus perkembangan informasi mengenai kesehatan anak dan berbagai langkah pencegahannya agar setiap keputusan yang diambil dapat membantu menjaga kesehatan buah hati sekaligus melindungi rencana masa depan keluarga.

Baca Juga: Mengapa Balita Lebih Rentan Keracunan Makanan? Ini Penyebab dan Cara Mencegahnya

Baca Juga: Dalam 2 Pekan, Seluruh SPPG Wajib Masukkan Ibu Hamil dan Balita Jadi Penerima Manfaat


FAQ

Mengapa ISPA menjadi penyakit dengan klaim asuransi tertinggi?

ISPA menjadi penyakit dengan klaim kesehatan tertinggi karena merupakan infeksi yang sangat sering dialami anak-anak. Sistem kekebalan tubuh yang masih berkembang, tingginya aktivitas di sekolah atau tempat bermain, serta mudahnya penularan virus membuat ISPA lebih sering membutuhkan penanganan medis dibanding banyak penyakit lainnya.

Apa saja penyakit anak yang paling banyak diklaim menurut Allianz Indonesia?

Berdasarkan data Allianz Indonesia Semester I 2026, tiga penyakit dengan frekuensi klaim kesehatan tertinggi pada kelompok usia 0–21 tahun adalah ISPA sebanyak 6.269 kasus, diare sebanyak 2.536 kasus, dan infeksi tenggorokan sebanyak 1.672 kasus. Data tersebut menunjukkan bahwa penyakit infeksi masih mendominasi kebutuhan layanan kesehatan anak.

Mengapa anak lebih rentan terkena ISPA?

Anak memiliki sistem kekebalan tubuh yang belum berkembang sempurna sehingga lebih mudah terinfeksi virus penyebab ISPA. Selain itu, interaksi yang tinggi dengan teman sebaya, perubahan cuaca, dan paparan polusi atau asap rokok juga dapat meningkatkan risiko penyakit ini.

Bagaimana cara mencegah ISPA pada anak?

Pencegahan ISPA dapat dilakukan dengan menjaga pola makan bergizi, melengkapi imunisasi, membiasakan anak mencuci tangan, menjaga kebersihan rumah, memastikan ventilasi yang baik, menghindari paparan asap rokok, dan segera memeriksakan anak ke dokter apabila gejalanya tidak kunjung membaik.

Mengapa penyakit yang terlihat ringan bisa membebani keuangan keluarga?

Meski umumnya tidak memerlukan perawatan jangka panjang, penyakit seperti ISPA dapat terjadi berulang kali. Akumulasi biaya konsultasi dokter, obat-obatan, pemeriksaan, transportasi, hingga waktu kerja orang tua yang terganggu membuat pengeluaran keluarga dapat meningkat secara signifikan dalam satu tahun.

Apa manfaat menyiapkan perlindungan kesehatan sejak dini?

Perlindungan kesehatan membantu keluarga menghadapi pengeluaran medis yang tidak terduga sehingga tujuan keuangan jangka panjang, seperti dana pendidikan anak atau tabungan keluarga, tidak mudah terganggu ketika anak membutuhkan perawatan kesehatan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.