Siapa Densus 88 Anti Teror? Apa Tugasnya di Indonesia? Ini Sejarah dalam Menangkap Teroris Jamaah Islamiyah

AKURAT.CO Densus 88 Anti Teror adalah satuan khusus di bawah Kepolisian Republik Indonesia yang bertugas dalam penanganan terorisme.
Dibentuk pada tahun 2003, unit ini dikenal dengan kemampuan operasionalnya yang tinggi dan dilengkapi dengan peralatan serta teknologi canggih.
Nama "Densus 88" berasal dari angka "88" yang merupakan simbol dari tahun berdirinya satuan ini, serta angka yang melambangkan simbolisasi penanganan cepat dan tepat dalam memberantas terorisme.
Tugas dan Fungsi Densus 88
Densus 88 memiliki beberapa tugas utama yang meliputi:
1. Penanganan Terorisme:
Menghadapidan menangani ancaman teroris, baik dalam bentuk aksi kekerasan maupun rencana teror.
2. Intelijen:
Mengumpulkan dan menganalisis informasi intelijen yang berkaitan dengan aktivitas teroris.
3. Operasi Khusus:
Melakukan operasi khusus untuk menangkap dan menetralkan ancaman teroris.
4. Koordinasi dan Kerjasama:
Bekerja sama dengan lembaga keamanan nasional dan internasional dalam memerangi terorisme.
Baca Juga: Densus 88 Anti Teror Polri Diapresiasi Kemenag Usai JI Membubarkan Diri
Sejarah Penangkapan Teroris Jamaah Islamiyah
Jamaah Islamiyah (JI) adalah organisasi teroris yang beroperasi di Asia Tenggara dan dianggap sebagai salah satu ancaman utama keamanan nasional Indonesia.
Densus 88 memiliki peran signifikan dalam menangkap anggota dan pemimpin JI, termasuk beberapa operasi besar seperti:
1. Operasi Bali (2002):
Setelah serangan bom Bali pada tahun 2002, yang menewaskan lebih dari 200 orang, Densus 88 bekerja sama dengan intelijen internasional untuk menangkap para pelaku dan otak di balik serangan tersebut. Beberapa anggota JI, termasuk Imam Samudra dan Amrozi, berhasil ditangkap dan diadili.
2. Operasi Dr. Azhari (2005):
Dr. Azahari Husin, salah satu pemimpin JI dan ahli bom, tewas dalam operasi yang dipimpin oleh Densus 88 di Batu, Malang. Operasi ini merupakan salah satu keberhasilan terbesar Densus 88 dalam memberantas jaringan teroris di Indonesia.
3. Penangkapan Abu Dujana dan Zarkasih (2007):
Densus88 berhasil menangkap dua pemimpin utama JI, Abu Dujana dan Zarkasih, yang dianggap sebagai tokoh kunci dalam perencanaan dan pelaksanaan serangan teroris di Indonesia.
4. Operasi Santoso (2016):
Santoso, pemimpin kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang berafiliasi dengan ISIS, tewas dalam operasi Densus 88 di Poso, Sulawesi Tengah. Operasi ini menandai berakhirnya salah satu kelompok teroris paling berbahaya di Indonesia.
Baca Juga: Cara Cegah Korupsi dalam Islam, Apakah Pemerintah Indonesia Sudah Melakukan Ini?
Densus 88 Anti Teror telah membuktikan dirinya sebagai garda terdepan dalam melindungi Indonesia dari ancaman terorisme.
Dengan kemampuan dan dedikasinya, unit ini terus berperan penting dalam menjaga keamanan dan stabilitas negara.
Sejarah penangkapan teroris, terutama yang berkaitan dengan Jamaah Islamiyah, menunjukkan komitmen kuat Indonesia dalam memberantas terorisme dan menjaga keamanan warganya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










