Di tengah hiruk pikuk ini, umat Muslim dihadapkan pada tantangan bagaimana seharusnya bersikap dalam menghadapi situasi yang penuh dengan intrik, persaingan, dan terkadang bahkan fitnah.
Sikap Muslim Terhadap Politik
Islam mengajarkan agar umatnya senantiasa berpegang teguh pada prinsip-prinsip kebenaran dan keadilan, termasuk dalam urusan politik. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰ أَنفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ ۚ
"Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian orang-orang yang benar-benar menegakkan keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap diri kalian sendiri atau terhadap kedua orang tua dan kaum kerabat." (QS. An-Nisa: 135).
Baca Juga: Kedudukan Laki-laki dan Wanita dalam Islam, Apakah Setara?
Ayat ini menegaskan bahwa umat Muslim harus menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan, bahkan jika itu berarti harus bersikap objektif dan tidak memihak, meskipun terhadap diri sendiri atau orang terdekat.
Dalam konteks politik, hal ini berarti umat Muslim harus mampu bersikap netral, tidak mudah terprovokasi, dan tidak terjebak dalam politik praktis yang justru dapat merusak ukhuwah (persaudaraan) di antara sesama Muslim.
Menghindari Fitnah dan Mengedepankan Ukhuwah
Salah satu dampak negatif dari hiruk pikuk politik adalah munculnya fitnah dan perpecahan di tengah masyarakat. Dalam hal ini, Nabi Muhammad SAW mengingatkan umatnya melalui hadits:
إِيَّاكُمْ وَالظَّنُّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ
"Jauhilah oleh kalian prasangka buruk, karena prasangka itu adalah sedusta-dustanya perkataan." (HR. Bukhari dan Muslim)
Prasangka buruk sering kali menjadi pemicu utama dari fitnah, yang kemudian dapat mengarah pada perpecahan. Oleh karena itu, umat Muslim diingatkan untuk tidak mudah percaya pada informasi yang belum terbukti kebenarannya dan tidak turut menyebarkan kabar yang dapat memecah belah umat.
Sebaliknya, Islam menganjurkan untuk selalu menjaga ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam) dan menghindari segala hal yang dapat merusaknya. Dalam Al-Qur'an disebutkan:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
"Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai." (QS. Ali Imran: 103)
Ayat ini menekankan pentingnya persatuan dan kesatuan di antara umat Muslim, terutama dalam menghadapi situasi yang penuh dengan perpecahan seperti dalam masa-masa pemilihan.
Sikap Moderat dalam Politik
Selain itu, umat Muslim juga dianjurkan untuk bersikap moderat, tidak berlebihan dalam mendukung salah satu pihak, dan senantiasa menjaga keseimbangan dalam bertindak. Allah SWT berfirman:
Baca Juga: Konsep Demonstrasi dalam Pandangan Islam, Tinjauan Dalil-dalil Syariah
وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا
"Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kalian (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kalian menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kalian." (QS. Al-Baqarah: 143)
Sebagai umat yang disebut "umat yang adil dan pilihan," umat Muslim dituntut untuk bersikap seimbang dalam menghadapi berbagai isu, termasuk politik. Sikap yang moderat ini akan mencegah umat dari fanatisme yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain.
Dalam menghadapi hiruk pikuk politik menjelang Pilkada 2024, umat Muslim di Indonesia perlu bersikap bijaksana, tidak mudah terprovokasi, dan senantiasa mengedepankan prinsip-prinsip keadilan, ukhuwah, serta moderasi.
Dengan demikian, umat Muslim tidak hanya dapat menjaga persatuan dan kesatuan, tetapi juga dapat memberikan kontribusi positif dalam membangun bangsa dan negara yang lebih baik.