Akurat
Pemprov Sumsel

Kisah Zahir bin Haram Mirip Pak Sunhaji, Pedangan dari Suku Baduwi di Masa Nabi yang Sering Direndahkan Orang

Fajar Rizky Ramadhan | 9 Desember 2024, 11:00 WIB
Kisah Zahir bin Haram Mirip Pak Sunhaji, Pedangan dari Suku Baduwi di Masa Nabi yang Sering Direndahkan Orang

AKURAT.CO Di zaman Nabi Muhammad SAW, terdapat banyak kisah yang mengandung hikmah dan pelajaran mendalam tentang kehidupan, iman, dan akhlak mulia.

Salah satu kisah yang sering menjadi perhatian adalah tentang seorang Arab Baduwi bernama Zahir bin Haram.

Zahir, yang hidup di wilayah pedalaman, adalah seorang pria sederhana dengan penampilan fisik yang dianggap tidak menarik oleh sebagian orang di Madinah.

Namun, Nabi Muhammad SAW melihatnya dengan pandangan yang berbeda—sebuah pandangan penuh kasih dan penghargaan terhadap manusia tanpa memandang rupa atau status sosial.

Zahir bin Haram dan Kasih Sayang Nabi

Zahir dikenal sebagai seorang pedagang kecil yang kerap membawa barang dagangan dari pedalaman ke kota. Ia sering menemui Nabi Muhammad SAW, dan Nabi selalu menyambutnya dengan keramahan dan canda.

Nabi pernah berkata, "Zahir adalah sahabatku dari pedalaman, dan aku adalah sahabatnya dari kota."

Ungkapan ini menunjukkan betapa dekatnya hubungan Nabi dengan Zahir, meskipun status sosial Zahir dipandang rendah oleh masyarakat.

Baca Juga: Media Asing Sorot Kasus Gus Miftah Mundur dari Jabatan Usai Viral Video Hina Penjual Es Teh

Namun, tidak semua orang menghormati Zahir. Ada kalanya ia menjadi bahan ejekan karena penampilannya yang dianggap kurang menarik. Di sebuah riwayat, suatu hari Nabi melihat Zahir sedang berdagang di pasar.

Nabi mendekatinya dari belakang dan memeluknya. Zahir terkejut dan mencoba melepaskan diri, hingga ia menyadari bahwa yang memeluknya adalah Nabi Muhammad SAW.

Dalam suasana bercanda, Nabi berkata kepada kerumunan, "Siapa yang mau membeli budak ini?" Zahir pun menjawab dengan nada sedih, "Ya Rasulullah, siapa yang mau membeli orang sepertiku?"

Mendengar hal ini, Nabi langsung menjawab dengan penuh kelembutan, "Tetapi di sisi Allah, engkau sangat berharga."

Jawaban ini tidak hanya menghibur Zahir, tetapi juga menegaskan nilai seseorang di mata Allah bukanlah berdasarkan fisik, kekayaan, atau status sosial, melainkan ketaqwaan dan hatinya.

Pelajaran dari Kisah Zahir

Zahir bin Haram adalah contoh nyata bagaimana Islam mengajarkan penghormatan terhadap setiap individu.

Nabi Muhammad SAW menunjukkan bahwa tidak ada tempat untuk menghina atau merendahkan orang lain, terlepas dari penampilan atau latar belakang mereka.

Allah SWT menilai seseorang berdasarkan hati dan amal perbuatannya, bukan apa yang terlihat oleh mata manusia.

Baca Juga: Usai Viral karena Dihina Gus Miftah, Sunhaji Diangkat Jadi Anggota Kehormatan Banser DIY

Paralel dengan Kisah Pak Sunhaji

Kisah Zahir mengingatkan kita pada banyak cerita di era modern, salah satunya kisah Pak Sunhaji, seorang penjual es teh yang mungkin dikenal sebagai figur sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Ia direndahkan seorang tokoh agama yang kemudian membuatnya viral.

Dalam masyarakat, ada kecenderungan merendahkan profesi tertentu atau menilai seseorang berdasarkan pekerjaan atau status ekonomi mereka.

Namun, seperti Zahir, kisah seperti ini sering kali menyimpan hikmah besar. Pak Sunhaji mungkin adalah simbol kesederhanaan, kerja keras, dan keikhlasan yang sering terlupakan dalam gemerlap kehidupan modern.

Kisah Zahir bin Haram memberikan pelajaran abadi tentang penghormatan dan kasih sayang. Dalam pandangan Islam, setiap manusia berharga, terlepas dari apa yang tampak di permukaan.

Nabi Muhammad SAW telah memberikan contoh nyata bagaimana memperlakukan orang lain dengan cinta dan penghargaan. Ini adalah pengingat bagi kita semua bahwa dalam kehidupan, keimanan dan kebaikan hati adalah ukuran sejati seseorang, bukan harta, rupa, atau status.

Semoga kita dapat meneladani sikap Nabi Muhammad SAW dalam memperlakukan sesama manusia, sebagaimana beliau memperlakukan Zahir bin Haram.

Begitu pula, mari kita belajar untuk menghormati setiap profesi, termasuk mereka yang sederhana namun bekerja dengan penuh kejujuran, seperti Pak Sunhaji.

Allah SWT Maha Melihat, dan bisa jadi orang yang dianggap kecil di mata manusia adalah orang yang besar di sisi-Nya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.