Akurat
Pemprov Sumsel

Kalender Jawa Weton 20 Januari 2025 Fokusnya Apa? Bagaimana Islam Memandang Hal Ini?

Fajar Rizky Ramadhan | 20 Januari 2025, 07:00 WIB
Kalender Jawa Weton 20 Januari 2025 Fokusnya Apa? Bagaimana Islam Memandang Hal Ini?

AKURAT.CO Kalender Jawa adalah sistem penanggalan tradisional yang masih digunakan oleh masyarakat Jawa hingga hari ini.

Salah satu aspek menarik dari kalender ini adalah konsep weton, yang digunakan untuk menentukan hari baik, sifat seseorang, atau bahkan kecocokan jodoh.

Pada 20 Januari 2025, jika dihitung berdasarkan kalender Jawa, weton hari tersebut jatuh pada Senin Pahing.

Dalam tradisi Jawa, weton dianggap memiliki makna khusus, di mana setiap kombinasi hari dan pasaran (seperti Senin dan Pahing) memiliki sifat tertentu yang dapat digunakan sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, bagaimana Islam memandang hal ini? Apakah konsep seperti weton ini memiliki tempat dalam ajaran Islam?

Untuk menjawabnya, kita perlu merujuk pada Al-Qur'an dan sunnah Rasulullah SAW serta memeriksa apakah praktik ini sesuai dengan akidah Islam atau bertentangan dengannya.

Baca Juga: Bolehkah Niat Puasa Senin Kamis Digabung dengan Niat Puasa Rajab di Pagi Hari?

Pandangan Islam tentang Keyakinan pada Weton

Islam menegaskan bahwa segala sesuatu yang berkaitan dengan kehidupan manusia, termasuk nasib, keberuntungan, atau sifat seseorang, telah ditentukan oleh Allah Swt. Dalam Surat Al-A'raf ayat 188, Allah berfirman:

قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Artinya: "Katakanlah (Muhammad), 'Aku tidak kuasa mendatangkan manfaat bagi diriku sendiri, dan tidak (pula) menolak mudarat, kecuali jika Allah menghendaki. Sekiranya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa keburukan. Aku hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.'"

Ayat ini menegaskan bahwa manusia, bahkan Rasulullah SAW sekalipun, tidak memiliki kemampuan untuk mengetahui hal-hal gaib atau menentukan nasib. Segala sesuatu berada dalam kendali Allah semata.

Dengan demikian, keyakinan bahwa weton dapat menentukan sifat atau nasib seseorang bertentangan dengan konsep tauhid dalam Islam.

Tradisi yang Tidak Bertentangan dengan Syariat

Meski demikian, Islam tidak sepenuhnya menolak tradisi lokal selama tradisi tersebut tidak bertentangan dengan prinsip tauhid dan syariat. Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَاتِ

Artinya: "Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Jika seseorang memanfaatkan weton hanya sebagai bagian dari budaya dan tidak menganggapnya memiliki kekuatan gaib atau pengaruh terhadap takdir, maka hal ini dapat dianggap sebagai tradisi yang netral.

Namun, jika keyakinan terhadap weton sampai pada tingkat yang menganggapnya sebagai penentu nasib atau sebagai sarana mendapatkan keberuntungan, maka ini termasuk dalam perilaku syirik kecil (syirik ashghar), yang sangat dilarang dalam Islam.

Baca Juga: Niat Puasa Senin Kamis, Mudah Diamalkan

Mengembalikan Keyakinan kepada Allah

Islam mengajarkan umatnya untuk menyerahkan segala urusan kepada Allah SWT. Dalam Surat Al-Ikhlas, Allah menegaskan bahwa hanya Dia satu-satunya yang layak disembah:

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَدُ

Artinya: "Katakanlah (Muhammad), 'Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu.'" (QS. Al-Ikhlas: 1-2)

Ayat ini mengingatkan kita untuk hanya bergantung kepada Allah dalam segala hal, termasuk dalam mencari petunjuk dan keberkahan.

Oleh karena itu, daripada bergantung pada weton untuk mencari hari baik atau kecocokan, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak doa, shalat istikharah, dan memohon petunjuk kepada Allah.

Kesimpulannya, Weton sebagai bagian dari budaya Jawa dapat dimaknai sebagai warisan tradisional yang kaya akan nilai historis, selama ia tidak dijadikan pedoman hidup yang bertentangan dengan tauhid.

Islam mengajarkan umatnya untuk menjadikan Allah sebagai satu-satunya tempat bergantung dan mempercayai bahwa segala sesuatu telah diatur oleh-Nya. Tradisi seperti weton sebaiknya dipandang secara proporsional, tanpa melampaui batas akidah.

Dengan demikian, fokus utama bagi umat Islam dalam menghadapi tradisi seperti kalender Jawa dan weton adalah menjaga niat dan keyakinan agar tetap sesuai dengan prinsip tauhid. Segala urusan, termasuk nasib dan rezeki, sepenuhnya berada di tangan Allah.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.