Akurat
Pemprov Sumsel

NU dengan Muhammadiyah Awal Puasa Ramadhan 2025 Bareng atau Tidak? Cek Cara Kedua Ormas Menentukan Awal Puasa

Fajar Rizky Ramadhan | 22 Februari 2025, 13:40 WIB
NU dengan Muhammadiyah Awal Puasa Ramadhan 2025 Bareng atau Tidak? Cek Cara Kedua Ormas Menentukan Awal Puasa

AKURAT.CO NU dengan Muhammadiyah awal puasa Ramadhan 2025 bareng atau tidak? Lalu bagaimana kedua ormas ini menentukan awal puasa?

Setiap tahun, umat Islam di Indonesia sering kali menghadapi perbedaan dalam penetapan awal bulan Ramadhan.

Dua ormas Islam terbesar, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, memiliki metode berbeda dalam menentukan tanggal 1 Ramadhan.

Pertanyaannya, apakah pada tahun 2025 kedua organisasi ini akan memulai puasa pada hari yang sama, atau akan ada perbedaan seperti yang pernah terjadi di tahun-tahun sebelumnya?

Metode NU: Rukyatul Hilal sebagai Basis Penentuan

Nahdlatul Ulama dalam menentukan awal bulan Ramadhan berpegang pada metode rukyatul hilal atau melihat bulan secara langsung.

Prinsip ini sesuai dengan hadis Nabi Muhammad SAW yang mengajarkan umat Islam untuk mulai berpuasa ketika melihat hilal dan mengakhirinya dengan melihat hilal Syawal.

Oleh karena itu, setiap menjelang akhir bulan Sya’ban, tim falakiyah NU bersama pemerintah melalui Kementerian Agama melakukan rukyat atau observasi hilal di berbagai titik di Indonesia.

Baca Juga: Pemerintah Awal Puasa Ramadhan 2025 Kapan? Begini Cara Kementerian Agama Menentukan Awal Puasa

NU menggunakan kriteria imkanur rukyat (kemungkinan hilal terlihat), yang sejak tahun 2022 mengacu pada kesepakatan Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS).

Kriteria ini menetapkan bahwa hilal harus memiliki ketinggian minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat agar bisa dianggap terlihat.

Jika pada 29 Sya’ban hilal belum memenuhi kriteria ini, maka bulan Sya’ban akan digenapkan menjadi 30 hari (istikmal), dan puasa Ramadhan pun dimulai keesokan harinya.

Metode Muhammadiyah: Hisab Wujudul Hilal sebagai Acuan

Berbeda dengan NU, Muhammadiyah menggunakan metode hisab wujudul hilal, yakni perhitungan astronomi yang menentukan awal bulan berdasarkan posisi geometris bulan terhadap matahari.

Dalam metode ini, hilal dianggap sudah "wujud" atau ada di atas ufuk setelah matahari terbenam, tanpa harus terlihat secara langsung.

Muhammadiyah memiliki standar hisab yang sangat ketat dan sistematis, bahkan jauh sebelum hari penentuan mereka sudah bisa mengumumkan awal Ramadhan berdasarkan perhitungan kalender hijriah global.

Selama hilal sudah berada di atas ufuk, meskipun sangat tipis dan sulit diamati, maka keesokan harinya sudah dianggap sebagai awal bulan baru.

Akankah NU dan Muhammadiyah Berpuasa Bersamaan di 2025?

Untuk mengetahui apakah NU dan Muhammadiyah akan memulai puasa pada hari yang sama di tahun 2025, perlu melihat hasil perhitungan astronomi yang sudah dilakukan oleh Muhammadiyah serta potensi rukyat hilal oleh NU.

Jika hilal di Indonesia pada tanggal 29 Sya’ban 1446 H sudah memenuhi kriteria imkanur rukyat NU, maka ada kemungkinan besar kedua ormas akan memulai puasa pada hari yang sama.

Baca Juga: Puasa Ramadhan di Depan Mata, Begini Cara Bayar Utang Qadha Puasa Ramadhan Tahun Lalu

Namun, jika hilal belum memenuhi syarat tersebut, NU kemungkinan besar akan menggenapkan Sya’ban menjadi 30 hari, sementara Muhammadiyah bisa saja sudah memulai puasa lebih dulu.

Dinamika ini memang sering terjadi, dan bagi masyarakat Indonesia, perbedaan ini sudah menjadi hal yang lumrah.

Pada akhirnya, baik NU maupun Muhammadiyah memiliki dasar yang kuat dalam metode mereka, dan umat Islam bisa mengikuti keputusan ormas yang mereka ikuti.

Yang terpenting adalah tetap menjaga persatuan dan menghormati perbedaan dalam penentuan awal Ramadhan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.