Akurat
Pemprov Sumsel

Apakah Muslim Boleh Memberi Ucapan Kebangkitan Yesus Kristus? Begini Menurut Islam

Fajar Rizky Ramadhan | 20 April 2025, 05:48 WIB
Apakah Muslim Boleh Memberi Ucapan Kebangkitan Yesus Kristus? Begini Menurut Islam

AKURAT.CO Setiap kali umat Kristiani merayakan Paskah, muncul kembali perdebatan klasik: apakah umat Islam boleh memberi ucapan kebangkitan Yesus Kristus? Bagi sebagian orang, ini hanya soal sopan santun dan toleransi sosial.

Tapi bagi sebagian lainnya, ini bukan perkara ringan, melainkan menyentuh jantung keimanan: apakah seorang Muslim boleh memberi ucapan kebangkitan Yesus Kristus yang mungkin itu bertentangan dengan akidah Islam?

Memberi ucapan kebangkitan Yesus Kristus sejatinya bukan sekadar ucapan selamat seperti “selamat ulang tahun” atau “selamat menempuh hidup baru”. Paskah dalam tradisi Kristen adalah perayaan atas kebangkitan Yesus dari kematian, yang diyakini sebagai bukti keilahiannya dan dasar dari doktrin penebusan dosa.

Artinya, ucapan ini membawa beban teologis—yakni pengakuan terhadap kebangkitan Yesus sebagai Tuhan. Di sinilah titik krusialnya: Islam secara tegas menolak konsep ketuhanan Isa Al-Masih.

Dalam Islam, Nabi Isa ‘alaihissalām memang sosok yang sangat mulia, tapi ia bukan Tuhan. Ia adalah utusan Allah, bukan anak Allah. Al-Qur’an menyatakan hal ini dengan sangat jelas dalam surah an-Nisā’ ayat 171:

يا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ ۚ إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللَّهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَىٰ مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِّنْهُ

Artinya: “Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al-Masih, Isa putra Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya.” (QS. an-Nisā’: 171)

Baca Juga: Menag: Jangan Egois Saat Berdoa di Tanah Suci, Doakan Juga Palestina

Maka memberi ucapan kebangkitan Yesus Kristus tidak bisa dianggap netral. Ia berimplikasi pada pengakuan terhadap inti kepercayaan yang bertentangan langsung dengan tauhid. Ulama seperti Ibn al-Qayyim dalam Ahkām Ahl al-Dzimmah menyebut bahwa mengucapkan selamat terhadap perayaan agama lain yang mengandung unsur syirik adalah perbuatan yang dilarang, karena termasuk dalam bentuk ridha terhadap kekufuran mereka, meskipun si pengucap tidak meyakininya.

Prinsip teologis ini juga ditegaskan dalam surah al-Kāfirūn:

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

Artinya: “Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.” (QS. al-Kāfirūn: 6)

Namun demikian, bukan berarti Islam melarang umatnya untuk hidup rukun dan berinteraksi baik dengan pemeluk agama lain.

Islam membolehkan bahkan menganjurkan untuk berbuat adil dan berbuat baik kepada non-Muslim selama tidak memerangi atau menindas umat Islam (lihat QS. al-Mumtahanah: 8).

Maka, sikap ramah, toleran, dan menghargai keyakinan orang lain tetap menjadi bagian dari ajaran Islam. Hanya saja, semua itu dilakukan tanpa harus melanggar batas akidah.

Di tengah semangat toleransi zaman ini, penting bagi umat Islam untuk tetap jernih dalam membedakan antara akhlak sosial dan komitmen ideologis.

Kita bisa tetap menghormati keyakinan orang lain, tanpa perlu ikut mengafirmasi apa yang tidak kita yakini.

Memberi ucapan kebangkitan Yesus Kristus mungkin tampak sederhana, tapi bisa membawa implikasi serius terhadap batas iman yang seharusnya dijaga.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.