Ucapan Kebangkitan Yesus Kristus yang Tidak Bertentangan dengan Akidah Umat Islam, Memang Ada?

AKURAT.CO Saat umat Kristiani merayakan Paskah, sebagian Muslim sering bertanya: apakah boleh memberi ucapan kebangkitan Yesus Kristus? Pertanyaan ini bukan cuma soal etika sosial, tapi menyentuh batas keimanan.
Dalam doktrin Kristen, kebangkitan Yesus adalah peneguhan keilahiannya—sementara Islam tidak mengenal konsep Yesus sebagai Tuhan. Di sinilah muncul ketegangan: antara semangat toleransi dan kesetiaan pada tauhid. Salah satunya soal muslim memberi ucapan kebangkitan Yesus Kristus.
Banyak yang mencoba menyusun ucapan kebangkitan Yesus Kristus dalam format yang netral, berharap bisa tetap menghargai tanpa menggadaikan akidah.
Tapi mungkinkah itu dilakukan tanpa ikut mengafirmasi keyakinan trinitas? Al-Qur'an secara eksplisit menolak klaim penyaliban dan kebangkitan tersebut.
Baca Juga: Apakah Muslim Boleh Memberi Ucapan Kebangkitan Yesus Kristus? Begini Menurut Islam
Dalam surah an-Nisā’ ayat 157, Allah berfirman bahwa Nabi Isa tidak dibunuh dan tidak disalib, melainkan diserupakan bagi mereka. Maka, ucapan yang mengafirmasi kebangkitan justru berseberangan dengan wahyu.
Karena itu, memberi ucapan kebangkitan Yesus Kristus dalam bentuk yang mengandung pengakuan atas ketuhanannya jelas tidak selaras dengan tauhid. Apalagi dalam surah al-Ikhlāṣ ditegaskan bahwa Allah itu Esa, tidak beranak dan tidak diperanakkan.
Ini prinsip dasar yang tak bisa dinegosiasikan dalam Islam. Maka setiap bentuk ucapan yang menyentuh wilayah keyakinan seperti itu harus dikaji ulang, meskipun niatnya adalah sopan santun.
Namun demikian, bukan berarti Islam melarang keramahan antaragama. Dalam surah al-Mumtahanah ayat 8, Allah membolehkan kita berlaku adil dan berbuat baik kepada non-Muslim yang tidak memusuhi Islam.
Ini membuka ruang untuk memberi ucapan dalam bentuk umum seperti “semoga damai menyertaimu di hari raya ini,” selama tidak masuk ke wilayah keyakinan mereka. Akidah tetap dijaga, adab pun tetap terjaga.
Baca Juga: Menag: Jangan Egois Saat Berdoa di Tanah Suci, Doakan Juga Palestina
Dengan kata lain, jika yang dimaksud dengan ucapan kebangkitan Yesus Kristus adalah bentuk pengakuan atas peristiwa kebangkitan itu sendiri, maka ia bertentangan dengan akidah.
Tapi jika ucapan tersebut diubah menjadi sapaan sosial yang tidak menyentuh aspek teologis, mungkin bisa dimaklumi dalam konteks toleransi. Intinya: kita boleh ramah, tapi jangan sampai kehilangan arah dalam memegang keimanan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK







