Asal-usul Adanya Kalender Jawa Weton di Tengah Masyarakat Jawa

AKURAT.CO Kalender Jawa weton merupakan salah satu warisan budaya yang unik dan masih bertahan kuat di tengah masyarakat Jawa hingga hari ini.
Meskipun zaman telah berubah dan digitalisasi menguasai ritme hidup, sistem penanggalan tradisional ini tetap eksis dan menjadi bagian tak terpisahkan dari banyak aspek kehidupan—mulai dari pernikahan, khitanan, pindah rumah, hingga urusan spiritual dan sosial.
Namun, satu pertanyaan mendasar sering muncul: Dari mana sebenarnya asal-usul kalender Jawa weton ini?
Untuk memahami asal-usulnya, kita perlu menyusuri jejak sejarah panjang penanggalan di Jawa. Sebelum kedatangan Islam, masyarakat Nusantara, khususnya Jawa, telah mengenal sistem penanggalan Saka, sebuah kalender yang berasal dari tradisi Hindu-India.
Kalender ini berbasis pada peredaran matahari (solar calendar) dan telah digunakan dalam penentuan hari-hari penting keagamaan dan pemerintahan sejak abad ke-1 Masehi.
Kalender Saka kemudian mengalami akulturasi besar-besaran ketika Islam mulai masuk dan berkembang pesat di Jawa. Puncaknya terjadi pada masa pemerintahan Sultan Agung Anyakrakusuma, penguasa Mataram Islam pada abad ke-17.
Baca Juga: Kalender Jawa Weton, Apakah Ada di Zaman Nabi?
Dalam upayanya menyatukan elemen budaya lokal dan Islam, Sultan Agung menciptakan kalender Jawa yang baru, yang merupakan hasil sintesis dari tiga sistem: kalender Hijriah (Islam), kalender Saka (Hindu-Buddha), dan sistem pasaran Jawa yang telah lebih dulu dikenal masyarakat.
Sistem pasaran ini adalah inti dari apa yang kita sebut sebagai wetonan. Dalam sistem ini, setiap hari memiliki dua komponen: nama hari dari sistem pekan (Senin–Minggu) dan nama pasaran (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon).
Kombinasi dari dua sistem ini menghasilkan siklus 35 harian (7 x 5), yang dipercaya memiliki nilai-nilai tertentu dan digunakan dalam berbagai keperluan ritual, spiritual, dan sosial budaya.
Praktik ini terus berkembang dan memiliki akar kepercayaan bahwa setiap individu memiliki "weton" yang menentukan karakter, rezeki, dan kecocokan sosial.
Dalam tradisi masyarakat Jawa kuno, weton dianggap sebagai bentuk kosmologi lokal, di mana waktu tidak hanya dilihat secara linier, tetapi sebagai siklus energi yang berulang dan memiliki makna spiritual.
Namun, meskipun unsur kalender Hijriah telah dimasukkan oleh Sultan Agung, kalender Jawa tetap mempertahankan aspek-aspek lokal yang tidak ada dalam tradisi Islam murni. Dalam konteks ini, kalender weton bukanlah ajaran Islam, melainkan bagian dari sinkretisme budaya—yakni perpaduan antara nilai-nilai keislaman dengan sistem kepercayaan lokal yang telah hidup lebih dulu di tengah masyarakat.
Jika ditinjau secara keilmuan dan budaya, kalender Jawa weton merupakan cerminan dari kemampuan adaptif masyarakat Jawa dalam menghadapi perubahan zaman dan perjumpaan antarperadaban.
Namun, dari sisi keagamaan, para ulama banyak yang memberikan catatan kritis. Ketika weton diperlakukan sekadar sebagai sistem penanggalan untuk keperluan sosial atau kultural, maka ia bisa dianggap sebagai bagian dari adat yang netral.
Namun, ketika ia dijadikan dasar keyakinan atau memengaruhi keputusan spiritual seperti menunda akad nikah atau menentukan nasib, maka ini bisa bertabrakan dengan prinsip tauhid.
Baca Juga: Kalender Jawa Bulan Mei 2025: Lengkap dengan Weton dan Hari Libur Nasional
Islam telah memberikan tuntunan tentang waktu dan sistem kalender melalui wahyu, sebagaimana ditegaskan dalam Surah At-Taubah ayat 36:
إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًۭا فِى كِتَـٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ...
Artinya: "Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi..." (QS. At-Taubah: 36)
Kalender Hijriah itulah yang diakui dalam Islam sebagai sistem penanggalan yang sah dan diberkahi. Maka, selama penggunaan kalender Jawa weton tidak menyalahi prinsip syariat, ia bisa dimaknai sebagai bagian dari identitas budaya lokal yang perlu dilestarikan dengan bijak.
Jadi, asal-usul kalender Jawa weton tidak bisa dilepaskan dari perjalanan panjang sejarah budaya Nusantara yang dipengaruhi oleh Hindu, Buddha, dan Islam. Dibentuk secara formal oleh Sultan Agung sebagai bentuk harmonisasi antara keislaman dan lokalitas, kalender ini menjadi warisan budaya yang kaya simbolisme.
Namun, perlu kehati-hatian dalam menggunakannya agar tidak melampaui batas-batas keimanan. Budaya boleh lestari, tapi keyakinan harus bersandar pada dalil yang pasti.
Sebagai generasi yang hidup di era informasi, penting bagi kita untuk terus mengkritisi dan memahami akar tradisi agar tidak terjebak pada praktik yang mereduksi makna tauhid. Kalender Jawa weton adalah bagian dari sejarah kita, tapi hendaknya ia tetap berada di tempat yang proporsional dalam kehidupan seorang Muslim. Wallahu A'lam.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









