Kenapa Orang Harus Mondok 40 Hari untuk Tahu Dunia Pesantren yang Sesungguhnya?

AKURAT.CO Seruan agar para pejabat atau tokoh publik “mondok 40 hari” di pesantren, seperti disampaikan anggota DPR Maman Imanulhaq, sebenarnya bukan sekadar sindiran sosial. Ada makna yang jauh lebih dalam di balik ajakan itu — baik secara spiritual, ilmiah, maupun psikologis.
Pesantren bukan sekadar tempat belajar agama, tapi juga ruang pembentukan jiwa, disiplin, dan kesadaran diri. Untuk memahami esensi pesantren, seseorang memang perlu “mengalami” kehidupan di dalamnya, bukan sekadar mengamatinya dari luar.
1. Mondok 40 Hari: Tradisi Spiritualitas Islam
Dalam khazanah Islam, angka 40 (arba‘īn) memiliki makna simbolik dan spiritual yang kuat. Banyak peristiwa penting dalam sejarah kenabian dan tradisi keilmuan Islam yang berkaitan dengan masa empat puluh hari. Allah berfirman kepada Nabi Musa:
وَوَاعَدْنَا مُوسَىٰ ثَلَاثِينَ لَيْلَةً وَأَتْمَمْنَاهَا بِعَشْرٍ فَتَمَّ مِيقَاتُ رَبِّهِ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً
“Dan Kami telah menjanjikan kepada Musa tiga puluh malam, lalu Kami sempurnakan dengan sepuluh malam lagi, maka sempurnalah waktu yang ditentukan Tuhannya empat puluh malam.” (QS. Al-A‘raf [7]: 142)
Dalam tafsir Ibn Katsir, angka empat puluh disebut sebagai masa penyempurnaan tazkiyah (penyucian diri) dan pembentukan spiritualitas. Bahkan Rasulullah SAW pun menerima wahyu pertama pada usia empat puluh tahun, usia yang dianggap matang secara ruhani dan intelektual.
Karena itu, dalam tradisi pesantren, “mondok 40 hari” bukan sekadar tinggal, tapi simbol perjalanan ruhani—riyāḍah an-nafs (latihan jiwa)—untuk menumbuhkan keikhlasan, disiplin, dan kesadaran spiritual.
2. Perspektif Psikologi Pesantren
Secara psikologis, 40 hari adalah durasi yang cukup untuk membentuk kebiasaan baru. Riset psikologi perilaku, salah satunya yang dilakukan oleh Phillippa Lally dari University College London (2009), menunjukkan bahwa rata-rata seseorang memerlukan sekitar 21–66 hari untuk menanamkan perilaku baru secara otomatis. Dengan kata lain, 40 hari adalah fase yang relevan secara ilmiah untuk transformasi kepribadian.
Ketika seseorang tinggal di pesantren selama 40 hari, ia bukan hanya mempelajari agama, tapi juga mengalami perubahan pola pikir (mindset reorientation). Ia belajar bangun sebelum fajar, shalat berjamaah, makan berjamaah, taat pada kiai, hidup sederhana, dan menekan ego. Semua ini membentuk mental ecology—lingkungan psikologis yang menanamkan nilai sabar, tawadhu‘, dan tanggung jawab.
Baca Juga: Tiga Kementerian Teken MoU Perkuat Infrastruktur Pesantren dan Perlindungan Santri
3. Pesantren sebagai Sekolah Jiwa
Pesantren adalah sistem pendidikan berbasis keteladanan moral (moral modeling) dan internalisasi nilai. Di sana, ilmu tidak hanya dihafal tapi dihidupkan. Santri belajar tentang adab sebelum ilmu—bahwa ilmu tanpa akhlak hanyalah kesombongan yang berseragam religius.
Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)
Pesantren menjadikan hadis ini sebagai fondasi pendidikan. Maka, seseorang yang tinggal 40 hari di pesantren akan menyadari bahwa inti pesantren bukan pada ritual semata, tetapi pada pembentukan karakter: bagaimana beradab kepada guru, menghormati teman, hidup mandiri, dan menerima nasihat tanpa gengsi.
4. Pesantren dan Proses Disrupsi Ego
Psikologi modern menyebut konsep ego disintegration sebagai momen di mana seseorang melepaskan kendali berlebihan atas dirinya untuk menemukan makna hidup yang lebih besar. Dalam konteks pesantren, proses ini terjadi secara alami.
Seseorang yang mondok akan dipaksa menghadapi keterbatasan: tidak semua keinginan terpenuhi, harus tunduk pada aturan, dan hidup sederhana. Tapi justru dari situ muncul kebahagiaan batin yang tidak tergantung pada materi—inner peace yang menjadi tanda kedewasaan spiritual.
Dengan kata lain, pesantren bukan mengekang kebebasan, tapi mengarahkan kebebasan agar selaras dengan nilai ilahiah.
5. Dari Luar Terlihat Kuno, dari Dalam Penuh Hikmah
Banyak orang yang melihat pesantren dari luar menganggapnya “tradisional” atau “kuno”. Padahal, mereka yang pernah tinggal di dalamnya akan tahu bahwa pesantren adalah laboratorium sosial dan spiritual yang sangat kompleks. Di sana, santri belajar disiplin seperti di militer, berpikir kritis seperti di akademi, sekaligus berempati seperti dalam komunitas sosial.
Karena itu, ajakan untuk “mondok 40 hari” adalah ajakan ilmiah sekaligus moral: agar siapa pun yang ingin memahami pesantren tidak hanya menilai dari tampilan luarnya. Ia perlu mengalami langsung denyut kehidupannya — bangun sebelum subuh, makan dengan nasi seplastik berempat, mengantre mandi, mencatat petuah kiai di kitab kuning, dan memaknai sabar dalam arti yang paling nyata.
Baca Juga: DPR Desak Evaluasi Trans7, Tayangan Dinilai Lukai Martabat Kiai dan Pesantren
6. Hikmah 40 Hari: Pembersihan, Pembiasaan, Pencerahan
Empat puluh hari di pesantren akan membawa seseorang melalui tiga tahap utama:
-
Tazkiyah (Pembersihan diri) – membersihkan hati dari kesombongan dan prasangka.
-
Ta‘wīd (Pembiasaan) – melatih jiwa dengan kebiasaan baik yang berulang.
-
Tajallī (Pencerahan) – menemukan makna hidup yang sejati melalui kesadaran spiritual.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
مَنْ أَخْلَصَ لِلّٰهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا ظَهَرَتْ يَنَابِيعُ الْحِكْمَةِ مِنْ قَلْبِهِ عَلَى لِسَانِهِ
“Barang siapa memurnikan niatnya kepada Allah selama empat puluh hari, maka akan tampak pancaran hikmah dari hatinya melalui lisannya.” (HR. Abu Nu‘aim)
Hadis ini menggambarkan transformasi spiritual setelah seseorang menempuh perjalanan ikhlas selama 40 hari. Dan di pesantren, proses itu terjadi setiap hari — dalam kesunyian malam, dalam ketaatan tanpa pamrih, dalam hidup bersama dengan sederhana.
7. 40 Hari untuk Menemukan Makna “Santri”
Jadi, ketika Maman Imanulhaq mengajak pimpinan Trans7 mondok 40 hari, ajakan itu bukan semata kritik, tetapi undangan untuk memahami dunia yang diisi oleh orang-orang yang hidup dengan logika keikhlasan, bukan logika keuntungan.
Pesantren tidak menuntut orang untuk menjadi santri secara formal, tapi mengajak setiap manusia untuk belajar nilai-nilai kesantrian: sabar, rendah hati, dan hormat pada guru. Karena pada akhirnya, santri bukan hanya mereka yang tinggal di asrama, tapi siapa pun yang menundukkan hati untuk belajar dan berbuat baik karena Allah.
Empat puluh hari di pesantren mungkin tak membuat seseorang jadi ahli agama, tapi cukup untuk membuatnya memahami bahwa ilmu yang sejati adalah akhlak, dan ibadah yang tertinggi adalah keikhlasan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










