Mengapa Umat Islam Dilarang Mengunjungi Al Ula? Jejak Kaum Tsamud dan Hikmah dari Tempat yang Dihapus dari Rahmat

AKURAT.CO Di tengah tren wisata sejarah dan religi di Jazirah Arab, kawasan Al Ula di Arab Saudi kian ramai dibicarakan. Keindahan lembah berbatu, situs purba Madain Shalih, dan panorama padang pasir yang memesona menjadikannya destinasi populer.
Namun, di balik keelokan alamnya, Islam memandang Al Ula sebagai tempat yang penuh pelajaran pahit. Kawasan ini diyakini sebagai lokasi kaum Tsamud yang diazab Allah karena mendustakan Nabi Saleh.
Maka, berwisata ke sana bukan perkara sederhana—ada nilai keimanan dan adab yang harus dipahami sebelum melangkah.
Al-Qur’an mencatat kisah kaum Tsamud dalam berbagai surah, di antaranya Surah Al-A’raf ayat 73–79. Allah berfirman:
وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا ۚ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلٰهٍ غَيْرُهُ
“Dan kepada Tsamud, (Kami utus) saudara mereka, Saleh. Ia berkata: ‘Hai kaumku, sembahlah Allah, tidak ada Tuhan bagimu selain Dia.’” (QS. Al-A’raf: 73)
Kaum Tsamud dikenal sebagai bangsa yang makmur, mahir memahat gunung menjadi rumah, dan hidup dalam kemegahan. Namun, ketika Nabi Saleh menyeru mereka untuk menyembah Allah dan meninggalkan kesyirikan, mereka menolak.
Baca Juga: Hukum Kecanduan ChatGPT untuk Belajar Masalah Agama dalam Islam
Allah menguji mereka dengan unta betina yang keluar dari batu, sebagai mukjizat Nabi Saleh. Tetapi mereka malah menyembelihnya, sehingga azab pun turun menimpa mereka.
Azab itu datang dalam bentuk suara keras mengguntur yang menghancurkan mereka semua. Firman Allah:
فَأَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دَارِهِمْ جَاثِمِينَ
“Maka mereka pun diguncang gempa yang dahsyat, lalu mereka mati bergelimpangan di tempat tinggal mereka.” (QS. Al-A’raf: 78)
Sejak peristiwa itu, tempat tinggal kaum Tsamud menjadi simbol kehancuran dan kemurkaan Allah. Dalam hadis sahih riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah ﷺ ketika melewati perkampungan Tsamud dalam perjalanan menuju Tabuk, beliau menundukkan kepala dan mempercepat langkah. Beliau bersabda:
“Janganlah kalian memasuki tempat tinggal orang-orang yang telah diazab itu, kecuali sambil menangis, agar kalian tidak tertimpa seperti apa yang menimpa mereka.”
Hadis ini menjadi dasar utama larangan mengunjungi situs Al Ula dengan niat rekreasi atau kagum terhadap peninggalannya. Islam tidak menolak studi sejarah, tetapi mengingatkan agar ziarah ke tempat azab tidak dijadikan ajang hiburan, selfie, atau eksplorasi wisata tanpa renungan.
Larangan ini juga sarat dengan pesan spiritual. Dalam kacamata tauhid, kekaguman terhadap peninggalan manusia yang diazab Allah bisa menumpulkan kesadaran akan kebesaran-Nya. Nabi Muhammad ﷺ mengajarkan agar kita mengambil ibrah, bukan nostalgia. Allah menegaskan:
أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ
“Maka tidakkah mereka berjalan di bumi, lalu memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka?” (QS. Ar-Rum: 9)
Dalam konteks modern, pemerintah Arab Saudi kini mengembangkan Al Ula sebagai kawasan wisata dunia. Banyak turis berkunjung tanpa memahami dimensi keagamaannya. Di sinilah peringatan Rasulullah ﷺ kembali relevan.
Umat Islam perlu memilah antara pengetahuan sejarah dan keimanan. Mengetahui kisah Tsamud sah-sah saja, tapi menjadikan situs itu tempat berfoto dan bersenang-senang berarti mengabaikan pesan azab yang pernah terjadi.
Baca Juga: Erdogan Serang Israel, Turki Terbitkan Surat Penangkapan Netanyahu
Hikmah terbesar dari larangan ini adalah menjaga hati dari kekaguman terhadap dunia yang telah dilaknat. Setiap batu di Al Ula adalah saksi betapa kesombongan bisa menghapus rahmat Allah.
Maka, bila suatu hari kita mendengar promosi wisata ke sana, sebaiknya kita bertanya: apa tujuan kita datang ke tempat yang pernah dimurkai Tuhan?
Islam bukan menolak eksplorasi sejarah, tetapi menuntun arah niat. Ziarah yang penuh ibrah menghidupkan iman; wisata tanpa tadabbur justru menumpulkan nurani.
Dari kisah Tsamud dan lembah Al Ula, kita belajar bahwa keindahan bisa menipu, dan kemegahan bisa menjerumuskan. Yang kekal hanyalah mereka yang tunduk kepada Allah dan mengambil pelajaran dari masa lalu.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










