Akurat
Pemprov Sumsel

Bagaimana Ajaran Islam Memandang Kerukunan dalam Keberagaman? Ini Penjelasan Lengkap dan Langkah Nyatanya

Naufal Lanten | 21 Desember 2025, 16:45 WIB
Bagaimana Ajaran Islam Memandang Kerukunan dalam Keberagaman? Ini Penjelasan Lengkap dan Langkah Nyatanya

AKURAT.CO Keberagaman menjadi realitas yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia. Perbedaan agama, suku, budaya, bahasa, hingga cara pandang hidup hadir berdampingan dalam satu ruang sosial yang sama. Di tengah kondisi tersebut, muncul pertanyaan penting: bagaimana ajaran Islam memandang kerukunan dalam keberagaman, dan apa langkah konkret yang dapat dilakukan untuk mewujudkannya di lingkungan sekitar?

Pertanyaan ini relevan karena kerukunan bukan sekadar slogan, melainkan fondasi utama dalam menjaga stabilitas sosial, persatuan bangsa, dan kehidupan bermasyarakat yang damai. Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin memiliki prinsip-prinsip jelas dalam menyikapi perbedaan, tanpa meniadakan identitas dan keyakinan masing-masing.

Keberagaman sebagai Sunnatullah dalam Pandangan Islam

Dalam perspektif Islam, keberagaman bukanlah kesalahan atau penyimpangan, melainkan bagian dari sunnatullah—ketetapan Allah yang sengaja dihadirkan dalam kehidupan manusia. Perbedaan agama, budaya, bahasa, dan tradisi merupakan realitas sosial yang tidak bisa dihapus, tetapi harus dikelola dengan kebijaksanaan.

Al-Qur’an secara tegas menegaskan bahwa manusia diciptakan dalam kondisi yang beragam agar saling mengenal dan memahami, bukan saling meniadakan. Hal ini tercantum dalam QS. Al-Hujurat ayat 13:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ ۝١٣

Artinya:
"Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti."

Ayat ini menunjukkan bahwa perbedaan merupakan kehendak Allah yang mutlak. Tujuan keberagaman bukan untuk memicu konflik, melainkan untuk membangun relasi sosial yang saling menghormati dan harmonis.

Islam dan Prinsip Kerukunan dalam Kehidupan Sosial

Ajaran Islam memandang kerukunan sebagai bagian dari nilai kemanusiaan yang harus dijaga. Hidup berdampingan secara damai menjadi salah satu prinsip penting dalam membangun masyarakat yang beradab. Islam tidak mengajarkan pemaksaan keyakinan, apalagi tindakan yang merendahkan martabat manusia atas nama agama.

Salah satu nilai utama yang ditekankan Islam adalah tasamuh atau toleransi. Tasamuh bukan berarti mencampuradukkan akidah atau mengorbankan prinsip keyakinan, melainkan sikap menghargai perbedaan dan memberi ruang bagi orang lain untuk menjalankan keyakinannya.

Dalam praktik sosial, toleransi tercermin dari sikap saling menghormati, tidak mencela kepercayaan lain, serta mampu bekerja sama dalam urusan kemaslahatan bersama. Perbedaan pandangan, termasuk di internal umat Islam seperti penentuan awal Ramadan, menjadi contoh bahwa keragaman pemahaman dapat tetap berjalan harmonis selama dilandasi sikap saling menghargai.

Tantangan Keberagaman di Masyarakat Modern

Masyarakat modern menghadirkan tantangan tersendiri dalam menjaga kerukunan. Perbedaan tafsir keagamaan, pengaruh media sosial, serta menguatnya narasi eksklusif dapat memicu prasangka dan konflik jika tidak disikapi dengan bijak.

Penafsiran agama yang sempit berpotensi melahirkan sikap merasa paling benar dan menutup ruang dialog. Padahal, Islam menempatkan kemaslahatan sebagai inti ajaran. Segala bentuk kekerasan, ujaran kebencian, dan diskriminasi atas nama agama bertentangan dengan nilai Islam yang menjunjung tinggi keadilan dan kemanusiaan.

Di sinilah pentingnya membangun pemahaman agama yang moderat, terbuka, dan kontekstual agar keberagaman menjadi sumber kekuatan, bukan sumber perpecahan.

Peran Pendidikan Islam dalam Menumbuhkan Sikap Toleran

Pendidikan Islam memiliki peran strategis dalam membentuk karakter masyarakat yang toleran. Pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai proses transfer ilmu, tetapi juga sebagai proses memanusiakan manusia.

Melalui pendidikan yang inklusif dan menghargai perbedaan budaya, peserta didik diajak untuk memahami bahwa keberagaman adalah realitas yang harus diterima. Pendidikan yang demikian mampu mengurangi prasangka, menumbuhkan empati, serta membentuk generasi yang siap hidup dalam masyarakat majemuk.

Nilai-nilai seperti kejujuran, kesabaran, pengendalian diri, dan saling menghormati menjadi bagian dari kesalehan sosial yang perlu ditanamkan sejak dini, baik di sekolah, keluarga, maupun lingkungan keagamaan.

Langkah Konkret Mewujudkan Kerukunan dalam Keberagaman

Kerukunan tidak cukup dipahami secara konseptual, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Ada beberapa langkah konkret yang dapat dilakukan di lingkungan sekitar untuk menjaga harmoni sosial.

Dialog lintas keyakinan menjadi salah satu cara efektif untuk saling mengenal dan mengurangi kesalahpahaman. Dengan berdialog, setiap pihak memiliki ruang untuk menyampaikan pandangan tanpa rasa curiga atau permusuhan.

Selain itu, kegiatan sosial bersama seperti kerja bakti, penggalangan donasi, atau kegiatan kemanusiaan lintas agama dapat memperkuat ikatan emosional antarwarga. Interaksi positif semacam ini membantu membangun rasa kebersamaan dan solidaritas.

Dalam kehidupan sehari-hari, sikap sederhana seperti menghormati ibadah orang lain, tidak menyebarkan ujaran kebencian, serta menjaga tutur kata di ruang publik dan media sosial juga menjadi bagian penting dari upaya menjaga kerukunan.

Islam, Kerukunan, dan Persatuan Bangsa

Indonesia sebagai negara multikultural menjadi contoh nyata bagaimana keberagaman hadir dalam kehidupan masyarakat. Selain enam agama yang diakui negara, terdapat ribuan suku, bahasa daerah, dan kepercayaan lokal yang hidup berdampingan.

Dalam pandangan Islam, kondisi ini bukan ancaman, melainkan anugerah yang harus disyukuri. Kerukunan dalam keberagaman menjadi modal sosial untuk menjaga persatuan bangsa. Ketika setiap individu mampu menghargai perbedaan dan berlomba-lomba dalam kebaikan, masyarakat akan tumbuh menjadi lebih adil, damai, dan sejahtera.

Kesimpulan: Kerukunan sebagai Wujud Nilai Islam

Ajaran Islam memandang kerukunan dalam keberagaman sebagai bagian dari kemuliaan nilai kemanusiaan. Perbedaan adalah fitrah yang harus diterima, bukan dihapus. Kerukunan terwujud ketika nilai toleransi, keadilan, dan kemaslahatan diterapkan secara konsisten dalam kehidupan sosial.

Melalui dialog, pendidikan, dan praktik sosial yang inklusif, keberagaman dapat menjadi energi positif yang memperkuat persaudaraan dan persatuan. Jika nilai-nilai Islam tentang keberagaman benar-benar dihidupi, maka masyarakat yang damai dan harmonis bukan sekadar harapan, melainkan kenyataan.

Kalau kamu tertarik memahami isu-isu sosial dan keagamaan lainnya dari sudut pandang yang lebih luas, pantau terus artikel-artikel terbaru di AKURAT.CO.

Baca Juga: Biar Gak Salah Didik, Begini Cara Islam Ajarkan Anak Laki-Laki Akhlak dan Tanggung Jawab

Baca Juga: Hukum Merayakan Hari Ibu dalam Islam: Bolehkah atau Termasuk Bid’ah?

FAQ

1. Bagaimana ajaran Islam memandang kerukunan dalam keberagaman?

Islam memandang kerukunan dalam keberagaman sebagai bagian dari kehendak Allah atau sunnatullah. Perbedaan suku, bangsa, budaya, dan agama diciptakan agar manusia saling mengenal, memahami, dan membangun hubungan sosial yang harmonis, bukan untuk saling bermusuhan.

2. Apakah keberagaman bertentangan dengan ajaran Islam?

Tidak. Keberagaman justru sejalan dengan ajaran Islam. Al-Qur’an menegaskan bahwa perbedaan adalah fitrah manusia dan merupakan anugerah yang harus disyukuri. Islam mengajarkan umatnya untuk menghormati perbedaan tanpa harus mengorbankan keyakinan pribadi.

3. Apa dasar Al-Qur’an tentang keberagaman dan kerukunan?

Salah satu dasar utama terdapat dalam QS. Al-Hujurat ayat 13 yang menjelaskan bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal. Ayat ini menjadi landasan kuat bahwa tujuan keberagaman adalah membangun pemahaman dan persaudaraan.

4. Apa yang dimaksud dengan toleransi (tasamuh) dalam Islam?

Tasamuh adalah sikap toleran dalam kehidupan sosial, yaitu menghormati perbedaan keyakinan, pendapat, dan budaya orang lain. Toleransi dalam Islam tidak berarti mencampuradukkan akidah, melainkan menjaga hubungan sosial yang damai dan saling menghargai.

5. Mengapa kerukunan penting dalam masyarakat yang beragam?

Kerukunan penting untuk menjaga stabilitas sosial, mencegah konflik, dan memperkuat persatuan. Dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia, kerukunan menjadi modal sosial agar perbedaan tidak berkembang menjadi perpecahan.

6. Bagaimana Islam menyikapi perbedaan pendapat di internal umat?

Islam mengajarkan sikap saling menghormati dalam perbedaan pendapat. Selama perbedaan tersebut tidak menimbulkan permusuhan dan tetap menjaga persaudaraan, keragaman pandangan dianggap sebagai bagian dari dinamika kehidupan beragama.

7. Apa peran pendidikan Islam dalam membangun sikap toleran?

Pendidikan Islam berperan membentuk karakter yang menghargai perbedaan, menumbuhkan empati, dan mengajarkan nilai kemanusiaan. Pendidikan tidak hanya fokus pada ilmu pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan akhlak dan kesalehan sosial.

8. Langkah konkret apa yang dapat dilakukan untuk mewujudkan kerukunan?

Beberapa langkah konkret antara lain membangun dialog lintas keyakinan, terlibat dalam kegiatan sosial bersama, menghormati praktik ibadah orang lain, serta menjaga sikap dan ucapan di ruang publik maupun media sosial.

9. Apakah Islam membenarkan konflik atas nama agama?

Tidak. Islam menolak segala bentuk kekerasan, ujaran kebencian, dan tindakan yang merendahkan nilai kemanusiaan atas nama agama. Ajaran Islam menempatkan perdamaian dan kemaslahatan sebagai prinsip utama.

10. Bagaimana hubungan ajaran Islam tentang kerukunan dengan persatuan bangsa?

Ajaran Islam tentang kerukunan sejalan dengan upaya menjaga persatuan bangsa. Dengan menghargai keberagaman dan hidup berdampingan secara damai, masyarakat dapat memperkuat persaudaraan, keadilan, dan kesejahteraan bersama.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.