Akurat Logo

DEMA STAINI dan DEMA STKQ Al Hikam Gelar Bahtsul Masail Kontemporer, Bahas Isu Kekinian Berbasis Turats

Lufaefi | 17 Juni 2026, 17:29 WIB
DEMA STAINI dan DEMA STKQ Al Hikam Gelar Bahtsul Masail Kontemporer, Bahas Isu Kekinian Berbasis Turats
Bahtsul Masail Isu Kontemporer STAINI X STKQ Al Hikam Depok (dok. STAINI)

AKURAT.CO Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) STAI Nurul Iman (STAINI) Parung Bogor bersama DEMA STKQ Al Hikam Depok sukses menyelenggarakan kegiatan Bahtsul Masail Kontemporer bertajuk “Menjawab Isu Kontemporer dengan Fondasi Turats” pada Ahad (14/6/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Aula STKQ Al Hikam Depok tersebut menjadi wadah penguatan tradisi intelektual Islam di kalangan mahasiswa dan santri.

Forum ilmiah ini dihadiri berbagai tokoh akademik, ulama, mahasiswa, dan santri dari sejumlah perguruan tinggi maupun pondok pesantren. Selain membahas persoalan-persoalan keislaman kontemporer, kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat silaturahmi akademik antar lembaga pendidikan berbasis pesantren.

Rangkaian acara diawali dengan pembukaan, pembacaan Surah Al-Fatihah, tilawah Al-Qur’an, serta menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Suasana khidmat dan penuh semangat mewarnai jalannya kegiatan sejak awal hingga akhir.

Baca Juga: STAI Nurul Iman Parung Bogor Jalani Asesmen Lapangan, Siap Bertransformasi Menjadi IAINI

Turut hadir dalam acara tersebut Ketua Yayasan Al Hikam, Prof. Arif Zamhari, Ph.D, Pengasuh Pondok Pesantren Al Hikam Depok KH. Yusron Shidqi, Lc., M.Ag., jajaran LBM PCNU, Ketua MWCNU Beji, Ketua Ranting NU Kukusan, perwakilan STAI Nurul Iman Ust. Mutholib, M.Ag., serta peserta dari berbagai kampus dan pesantren.

Dalam sambutannya, Prof. Arif Zamhari mengapresiasi inisiatif mahasiswa yang mampu menghadirkan ruang dialog ilmiah berbasis tradisi keilmuan Islam.

Menurutnya, forum seperti Bahtsul Masail memiliki peran penting dalam memperkuat budaya akademik sekaligus membangun kapasitas intelektual generasi muda Muslim.

“Forum semacam ini penting untuk terus dikembangkan sebagai ruang bertemunya khazanah keilmuan klasik dengan berbagai tantangan kehidupan modern,” ujarnya.

Sementara itu, KH. Yusron Shidqi menekankan pentingnya menjaga dan melestarikan warisan intelektual ulama melalui tradisi musyawarah ilmiah. Ia berharap kegiatan tersebut dapat melahirkan generasi yang tidak hanya memiliki kedalaman ilmu, tetapi juga mampu merespons persoalan sosial secara arif dan proporsional.

“Tradisi Bahtsul Masail adalah salah satu warisan penting ulama yang harus terus dihidupkan agar lahir generasi yang mampu memahami realitas zaman tanpa tercerabut dari akar keilmuan Islam,” katanya.

Mewakili STAI Nurul Iman, Ust. Mutholib menyampaikan bahwa kolaborasi antar kampus berbasis pesantren merupakan langkah strategis dalam memperkuat jejaring akademik sekaligus mendorong lahirnya ruang-ruang diskusi yang produktif.

“Sinergi seperti ini perlu terus dibangun agar mahasiswa memiliki ruang untuk mengembangkan kapasitas intelektual sekaligus memperkuat tradisi keilmuan Islam,” ujarnya.

Usai sesi sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan forum inti Bahtsul Masail yang dipandu oleh moderator. Forum diawali dengan penyampaian tasawwur mas’alah sebagai pengantar persoalan yang akan dibahas, sebelum peserta memasuki tahapan diskusi, telaah referensi, dan penyampaian argumentasi.

Selama forum berlangsung, para peserta tampak antusias mengikuti jalannya pembahasan. Berbagai pandangan disampaikan secara ilmiah dengan tetap menjunjung tinggi etika musyawarah dan tradisi keilmuan yang telah lama berkembang di lingkungan pesantren.

Baca Juga: Daftar Kampus yang Disebut Bergabung dalam BEM Bersatu, Ada dari Jakarta hingga Yogyakarta

Panitia pelaksana menyebut kegiatan ini merupakan bagian dari upaya menghidupkan kembali tradisi intelektual Islam yang berbasis pada kajian turats dalam menjawab berbagai persoalan kontemporer yang berkembang di masyarakat.

Melalui kegiatan tersebut, DEMA STAINI dan DEMA STKQ Al Hikam berharap kolaborasi akademik antar kampus dan pesantren dapat terus berlanjut melalui berbagai program keilmuan lainnya.

Bahtsul Masail Kontemporer 2026 menjadi bukti bahwa tradisi intelektual Islam tetap relevan dan mampu menjadi ruang dialog produktif dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.

Forum ini juga diharapkan menjadi titik awal lahirnya kerja sama yang lebih luas dalam pengembangan budaya literasi, tradisi musyawarah, serta pemikiran Islam yang moderat dan berakar kuat pada khazanah keilmuan ulama.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi