Akurat Logo

7 Wanita Terjebak Kencan Online Berbasis Islam, Pelaku Divonis 291 Tahun Penjara

Lufaefi | 18 Juni 2026, 12:44 WIB
7 Wanita Terjebak Kencan Online Berbasis Islam, Pelaku Divonis 291 Tahun Penjara
Ilustrasi Kencan Online Berbasis Islam (pinterest)

AKURAT.CO Aplikasi kencan daring kerap menjadi jembatan bagi banyak orang untuk menemukan pasangan hidup. Namun, di balik kemudahan tersebut, tersimpan pula risiko yang tidak boleh diabaikan.

Sebuah kasus yang terjadi di Amerika Serikat menjadi pengingat penting tentang perlunya kewaspadaan dalam menjalin hubungan melalui platform digital.

Seorang pria bernama Yahya Maly (30) dijatuhi hukuman total 291 tahun penjara setelah terbukti melakukan serangkaian kejahatan seksual terhadap tujuh perempuan yang dikenalnya melalui aplikasi kencan berbasis Islam. Vonis tersebut dijatuhkan oleh pengadilan di Missouri pada Selasa (16/6/2026).

Kasus ini menarik perhatian publik karena sebagian besar korban merupakan perempuan Muslim yang menggunakan aplikasi tersebut untuk mencari pasangan dengan latar belakang nilai dan komitmen keagamaan yang sama.

Menurut keterangan yang terungkap dalam persidangan, Yahya Maly membangun hubungan dengan para korban secara bertahap. Ia terlebih dahulu menciptakan kesan sebagai sosok yang religius, sopan, dan memiliki pemahaman keislaman yang baik. Pendekatan tersebut membuat para korban merasa nyaman dan mempercayainya.

Baca Juga: Hari Ini Tanggal Berapa Hijriah? Cek Kalender Islam 18 Juni 2026

Salah seorang korban mengaku berkenalan dengan pelaku yang menggunakan nama samaran "John". Selama masa komunikasi, keduanya kerap berdiskusi mengenai agama dan kehidupan. Namun, kepercayaan yang telah terbangun justru dimanfaatkan pelaku untuk melakukan tindakan kriminal.

Korban menuturkan bahwa pertemuan yang awalnya diharapkan menjadi langkah menuju hubungan serius berubah menjadi pengalaman traumatis. Dalam kesaksiannya, ia mengungkapkan bahwa pelaku melakukan kekerasan seksual serta memanipulasi korban dengan menggunakan dalih agama.

Di hadapan pengadilan, korban juga menceritakan bagaimana pelaku berupaya mengendalikan dirinya secara emosional. Pelaku disebut mengklaim bahwa mereka telah menjadi pasangan sah dan menggunakan berbagai tekanan psikologis untuk membenarkan tindakannya.

"Saat itu rasanya hidup saya sudah berakhir," ujar salah satu korban saat memberikan kesaksian.

Selama proses persidangan, tiga dari tujuh korban hadir untuk memberikan kesaksian langsung. Keterangan mereka membantu jaksa menunjukkan pola tindakan yang dilakukan pelaku terhadap sejumlah perempuan yang dikenalnya melalui dunia maya.

Kasus ini sekaligus membuka kembali diskusi mengenai pentingnya keamanan dalam penggunaan aplikasi kencan online. Para ahli keamanan digital menilai bahwa membangun hubungan secara daring tetap memerlukan kehati-hatian, termasuk melakukan verifikasi identitas, menjaga batasan privasi, serta menghindari pertemuan di tempat yang tidak aman.

Selain itu, para pengguna juga diingatkan untuk tidak mudah percaya pada seseorang hanya karena memiliki latar belakang agama, pendidikan, atau profesi tertentu. Kejahatan dapat dilakukan oleh siapa saja dengan berbagai cara untuk memperoleh kepercayaan korbannya.

Vonis 291 tahun penjara yang dijatuhkan kepada Yahya Maly secara efektif memastikan dirinya akan menghabiskan sisa hidup di balik jeruji besi. Putusan tersebut sekaligus menjadi bentuk keadilan bagi para korban yang telah melalui perjuangan panjang untuk mengungkap kasus tersebut.

Baca Juga: Bolehkah Ibu Tidak Menyusui Anak? Begini Penjelasan Hukumnya dalam Islam

Di tengah berkembangnya teknologi dan semakin populernya aplikasi pencarian pasangan, kasus ini menjadi pelajaran penting bahwa kepercayaan harus dibangun secara hati-hati. Hubungan yang sehat tidak hanya didasarkan pada kesamaan identitas atau keyakinan, tetapi juga pada rasa aman, penghormatan, dan integritas yang nyata dalam tindakan.

Peristiwa ini menjadi pengingat bagi masyarakat bahwa kewaspadaan tetap diperlukan dalam setiap bentuk interaksi digital. Kemajuan teknologi memang memudahkan orang untuk saling terhubung, tetapi perlindungan diri dan kehati-hatian tetap menjadi hal yang tidak dapat diabaikan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi