Akurat Logo

Jelang Muktamar, Gus Rozin Serukan NU Menjaga Ruang Damai dan Kemandirian Organisasi

Lufaefi | 28 Juni 2026, 08:00 WIB
Jelang Muktamar, Gus Rozin Serukan NU Menjaga Ruang Damai dan Kemandirian Organisasi
Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah, KH Abdul Ghaffar Rozin (NU Online)

AKURAT.CO Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah, KH Abdul Ghaffar Rozin, mengajak seluruh elemen Nahdlatul Ulama (NU) menjadikan momentum menjelang Muktamar ke-35 sebagai ruang konsolidasi yang mengedepankan kedamaian, kejernihan berpikir, dan kemandirian organisasi.

Pesan tersebut disampaikan saat membuka kegiatan Muktamar Ilmu Pengetahuan (MIP) IV PWNU Jawa Tengah yang digelar di UIN Sunan Kudus, Sabtu (27/6/2026). Menurutnya, forum keilmuan tersebut memiliki makna lebih luas karena berlangsung pada fase penting menjelang agenda tertinggi organisasi NU.

Dalam sambutannya, Gus Rozin menekankan bahwa atmosfer intelektual dan dialogis yang hadir dalam MIP perlu menjadi inspirasi bagi pelaksanaan Muktamar NU mendatang.

“Muktamar yang akan datang adalah muktamar damai sebagaimana muktamar pagi ini,” ujarnya.

Ia menilai, NU perlu terus menjaga independensinya sebagai organisasi keagamaan dan sosial yang memiliki kebebasan menentukan arah gerak secara mandiri tanpa tekanan kepentingan jangka pendek maupun polarisasi internal.

Baca Juga: Alasan Lirboyo Layak Jadi Tuan Rumah Muktamar ke-35 NU

Gus Rozin juga mengingat kembali pesan Presiden keempat Republik Indonesia KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang pernah disampaikan dalam forum muktamar. Menurutnya, kedekatan dengan kekuasaan tidak boleh menjadi ukuran keberhasilan organisasi.

Pesan tersebut, kata dia, menjadi pengingat bahwa kekuatan NU selama ini justru lahir dari kemampuan menjaga jarak yang sehat dengan pusat kekuasaan sekaligus tetap hadir untuk kepentingan umat.

Selain menyoroti dimensi organisasi, ia mendorong warga NU untuk memperkuat tradisi keilmuan sebagai fondasi menghadapi perubahan zaman. Menurutnya, perkembangan ilmu pengetahuan dan sains modern tidak seharusnya dipertentangkan dengan karakter keagamaan yang selama ini menjadi identitas NU.

"Tidak perlu mempertentangkan jam'iyyah ijtima'iyyah dengan kemajuan-kemajuan modern,” katanya.

Ia menambahkan bahwa tantangan terbesar menjelang Muktamar bukan sekadar soal kompetisi atau perbedaan pandangan, melainkan bagaimana seluruh unsur organisasi tetap mampu menjaga nalar yang sehat dan hati yang bersih.

“(Yang perlu kita menangkan) yaitu pikiran dan hati yang jernih ketika berbicara tentang NU,” pungkasnya.

Baca Juga: Pengurus LTN PBNU Soroti Pembatalan Penetapan Lirboyo sebagai Lokasi Muktamar NU oleh Rais Aam, Pertanyakan Dasar Prosedural

MIP IV PWNU Jawa Tengah sendiri menjadi salah satu ruang pertemuan gagasan yang mempertemukan tradisi intelektual NU dengan perkembangan ilmu pengetahuan kontemporer. Forum tersebut diharapkan dapat memperkuat kontribusi warga NU dalam merespons tantangan sosial, pendidikan, dan peradaban di masa mendatang sekaligus menjaga suasana organisasi tetap kondusif menjelang Muktamar ke-35.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi