Nasaruddin Umar Berpotensi Maju Ketum PBNU, Apakah Terbentur Aturan Rangkap Jabatan?

AKURAT.CO Nama Menteri Agama Nasaruddin Umar mulai masuk dalam bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menjelang Muktamar ke-35 NU. Namun, peluang tersebut memunculkan pertanyaan mengenai ketentuan larangan rangkap jabatan yang selama ini berlaku di lingkungan PBNU.
Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf atau Gus Ipul mengatakan sejumlah nama telah diperbincangkan sebagai kandidat ketua umum. Selain Nasaruddin Umar, terdapat nama Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, KH Zulfa Mustofa, KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), KH Abdussalam Shohib (Gus Salam), KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), serta sejumlah tokoh lainnya.
"Nama-nama itu memang mulai disebut-sebut menjelang muktamar, termasuk Prof Nasaruddin Umar dan Gus Yahya," ujar Gus Ipul di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (15/7/2026).
Baca Juga: M. Nuh Ajak Warga NU Jaga Kerukunan, Muktamar ke-35 NU Diharapkan Jadi Reuni Penuh Kegembiraan
Masuknya nama Nasaruddin Umar menjadi perhatian karena saat ini ia masih menjabat sebagai Menteri Agama dalam Kabinet Merah Putih. Di sisi lain, hasil Muktamar ke-34 NU di Lampung menetapkan ketua umum PBNU tidak diperkenankan merangkap jabatan tertentu.
Meski demikian, Gus Ipul menjelaskan ketentuan tersebut masih dapat dibahas kembali dalam Muktamar ke-35 NU. Menurutnya, keputusan mengenai pemberlakuan aturan itu sepenuhnya berada di tangan peserta muktamar.
"Itu semua tergantung muktamirin. Ketentuan itu akan diterapkan pada muktamar ini atau muktamar berikutnya, semuanya menjadi kewenangan forum muktamar," katanya.
Ia menambahkan, seluruh aturan organisasi yang berlaku saat ini merupakan hasil keputusan Muktamar ke-34 di Lampung. Karena itu, perubahan terhadap aturan tersebut hanya dapat dilakukan melalui mekanisme muktamar.
Gus Ipul menegaskan proses pencalonan Ketua Umum PBNU terbuka bagi seluruh kader dan tokoh NU yang memenuhi persyaratan organisasi. Penetapan calon hingga pemilihan ketua umum sepenuhnya menjadi kewenangan peserta muktamar.
"Jam'iyah Nahdlatul Ulama memberikan kesempatan kepada siapa pun untuk memimpin NU pada masa yang akan datang," ujarnya.
Menurutnya, dinamika yang berkembang menjelang muktamar merupakan bagian dari proses demokrasi organisasi. Peta dukungan terhadap masing-masing kandidat baru akan terlihat ketika tahapan pencalonan resmi dimulai.
Dalam kesempatan yang sama, Gus Ipul memastikan Presiden Prabowo Subianto tidak akan mengintervensi proses pemilihan Ketua Umum PBNU. Ia menyebut Presiden memahami tradisi dan mekanisme organisasi Nahdlatul Ulama.
Baca Juga: Jelang Muktamar NU, Belum Ada Kandidat Penuhi Ambang Dukungan Muktamar ke-35
"Presiden memberikan kepercayaan kepada para muktamirin untuk menjalankan musyawarah sesuai tradisi Nahdlatul Ulama," katanya.
Muktamar ke-35 NU dijadwalkan berlangsung pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang. Forum tersebut akan memilih Ketua Umum PBNU masa khidmat berikutnya sekaligus membahas berbagai agenda strategis organisasi memasuki abad kedua Nahdlatul Ulama.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 2Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 3Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 6Drone Buatan Inggris Dipakai Ukraina, Rusia Mengancam: Semakin Terlibat, Semakin Tinggi Harga yang Harus Dibayar!
- 7Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 8BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 9Prabowo dan Jokowi Kompak di Peringatan HUT RI, Gerindra: Hal yang Wajar
- 10Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk







