STOP Bullying! Ini Ancaman Dosa Bagi Orang yang Suka Mengintimidasi Sesama Muslim

AKURAT.CO Bullying atau perundungan bukan sekadar candaan yang berlebihan. Bagi orang yang menjadi korban, tindakan ini dapat meninggalkan luka psikologis, merusak rasa percaya diri, bahkan membuat seseorang merasa tidak aman dalam lingkungan pergaulan. Bentuknya pun beragam, mulai dari mengejek fisik, menghina keluarga, mempermalukan teman di depan umum, mengucilkan seseorang, hingga menyebarkan aib melalui media sosial.
Dalam Islam, perilaku merendahkan dan menyakiti orang lain bukan perkara sepele. Seorang Muslim diperintahkan menjaga kehormatan sesamanya, baik melalui ucapan maupun tindakan. Karena itu, kebiasaan mengintimidasi orang lain perlu dihentikan, bukan dibenarkan atas nama humor, keakraban, atau solidaritas kelompok.
Al-Qur'an secara tegas melarang perilaku saling mengejek dan merendahkan. Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 11:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ
Yā ayyuhallażīna āmanū lā yaskhar qaumun min qaumin ‘asā an yakūnū khairan minhum wa lā nisā’un min nisā’in ‘asā an yakunna khairan minhunna.
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, karena boleh jadi mereka yang diperolok-olokkan lebih baik daripada mereka yang mengolok-olok. Jangan pula perempuan-perempuan mengolok-olok perempuan lain, karena boleh jadi perempuan yang diperolok-olokkan lebih baik daripada perempuan yang mengolok-olok.” (QS. Al-Hujurat [49]: 11).
Baca Juga: Jangan Langsung Putus Asa! Ini Doa dan Amalan Saat Menghadapi Kekecewaan Berat dalam Hidup
Ayat ini memberikan peringatan bahwa seseorang tidak berhak merasa lebih tinggi dengan merendahkan orang lain. Orang yang dijadikan bahan ejekan mungkin memiliki kedudukan yang lebih baik di sisi Allah. Oleh karena itu, menghina fisik, kemampuan, latar belakang keluarga, atau kekurangan seseorang tidak dapat dianggap sebagai tindakan yang pantas.
Ancaman berikutnya berkaitan dengan kebiasaan menyakiti orang lain melalui perkataan. Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Ahzab ayat 58:
وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا
Wallażīna yu’żūnal-mu’minīna wal-mu’mināti bighairi maktasabū faqadiḥtamalū buhtānan wa itsman mubīnā.
Artinya: “Orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, tanpa kesalahan yang mereka perbuat, sungguh telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. Al-Ahzab [33]: 58).
Ayat ini menegaskan bahwa menyakiti orang beriman tanpa alasan yang benar merupakan perbuatan berdosa. Dalam konteks bullying, ancaman tersebut relevan ketika seseorang sengaja mempermalukan, mengintimidasi, atau menyebarkan tuduhan yang merugikan orang lain.
Rasulullah saw. juga mengingatkan pentingnya menjaga sesama Muslim. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, beliau bersabda:
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
Al-muslimu man salimal-muslimūna min lisānihi wa yadih.
Artinya: “Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya.”
Pesan hadis ini sangat jelas: identitas sebagai Muslim harus tercermin dalam perilaku yang membuat orang lain merasa aman. Menghina melalui komentar, mengancam teman, melakukan kekerasan fisik, atau mempermalukan seseorang di grup percakapan bertentangan dengan semangat ajaran tersebut.
Lantas, apa yang perlu dilakukan ketika menyaksikan bullying? Pertama, hentikan perilaku tersebut dengan cara yang aman. Kedua, jangan ikut tertawa, menyebarkan rekaman, atau memperluas penghinaan. Ketiga, dukung korban dan laporkan kejadian kepada pihak yang berwenang apabila perundungan terus berlangsung atau mengandung ancaman kekerasan.
Bagi pelaku, meminta maaf merupakan langkah awal, tetapi tidak cukup jika perilaku menyakitkan terus diulang. Ia perlu menghentikan perbuatannya, memperbaiki kerugian yang ditimbulkan, dan bersungguh-sungguh tidak mengulanginya.
Baca Juga: Bolehkah Memakzulkan Wakil Presiden dalam Islam?
Pada akhirnya, Islam mengajarkan bahwa kehormatan manusia harus dijaga. Bullying bukan bukti kekuatan, melainkan tindakan yang dapat melukai orang lain dan mendatangkan dosa. Menghentikan perundungan berarti melindungi martabat sesama sekaligus mewujudkan akhlak mulia yang menjadi bagian penting dari kehidupan seorang Muslim.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








