Update RUU Perampasan Aset, Dasco: Komisi III Masih Belanja Masalah

AKURAT.CO Nasib Revisi Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset hingga kini belum menemui kejelasan. Rancangan regulasi yang digadang-gadang memperkuat pemberantasan korupsi itu masih berada dalam tahap awal pembahasan di DPR.
Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, menyatakan bahwa DPR saat ini memprioritaskan penyelesaian dan sinkronisasi sejumlah regulasi pidana sebelum melangkah lebih jauh membahas RUU tersebut.
Menurut Dasco, pembahasan RUU Perampasan Aset memang sejak awal direncanakan dilakukan setelah rampungnya Undang-Undang KUHP dan KUHAP, serta dikompilasi dengan Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi (Tipikor).
“Kami sudah menyampaikan bahwa setelah Undang-Undang KUHP dan KUHAP selesai, serta dikompilasi dengan UU Tipikor, Komisi III DPR RI melakukan belanja masalah dan penyusunan draf naskah akademik serta RUU,” ujar Dasco di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (23/2/2026).
Masih Tahap “Belanja Masalah”
Ia menjelaskan, Komisi III DPR saat ini tengah menjalankan proses “belanja masalah”, yakni tahapan awal perumusan regulasi yang mencakup pengumpulan masukan, identifikasi isu strategis, serta penyusunan draf naskah akademik dan rancangan undang-undang.
Setelah tahapan tersebut selesai, DPR berencana membuka ruang partisipasi publik sebelum memasuki pembahasan formal di tingkat legislasi.
Baca Juga: PWI Pusat Buka Puasa Bersama Yatim Piatu, Perkuat Solidaritas dan Kepedulian Sosial
“Setelah itu selesai, kita akan adakan partisipasi publik, baru kemudian masuk ke pembahasan undang-undang,” kata Dasco.
Ia menegaskan, pembahasan RUU Perampasan Aset akan dilakukan secara bertahap dan hati-hati. Pasalnya, substansi aturan ini berkaitan langsung dengan sistem hukum pidana nasional dan strategi pemberantasan korupsi.
DPR, lanjutnya, ingin memastikan regulasi yang dihasilkan selaras dengan KUHP dan KUHAP terbaru serta tidak menimbulkan tumpang tindih dengan ketentuan dalam UU Tipikor.
RUU Perampasan Aset bukanlah wacana baru. Gagasan pembentukannya telah muncul sejak era pemerintahan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono, dengan draf awal yang disiapkan sekitar 2012.
Pada masa Presiden ke-7 RI Joko Widodo, RUU tersebut kembali masuk dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) dan beberapa kali disebut sebagai prioritas. Namun hingga kini, regulasi tersebut belum juga disahkan.
Kondisi ini membuat publik kembali mempertanyakan kapan aturan yang dinilai penting untuk mempercepat pemulihan kerugian negara dari hasil tindak pidana itu benar-benar bisa diberlakukan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 4Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 5Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 6Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 7Cara Cek Desil Online Oktober 2026 Pakai NIK KTP, Ini Link Resminya
- 8Kalender Jawa 16 Oktober 2026: Weton Jumat Legi Disebut Punya Karakter Unik
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









