Pakar: Digital Forensik Bisa Bongkar Dugaan Manipulasi di Kasus eFishery

AKURAT.CO Investigasi digital forensik berperan penting dalam membongkar dugaan manipulasi yang merugikan investor, termasuk dalam perkara yang menjerat manajemen eFishery.
Ahli digital forensik Indonesia, Ruby Alamsyah, menilai, sejumlah kasus di sektor teknologi menunjukkan masih adanya celah regulasi dan pengawasan yang dapat dimanfaatkan oknum tertentu untuk membesar-besarkan kinerja perusahaan di hadapan investor.
“Ada celah yang dimainkan oknum, di mana sesuatu bisa terlihat besar, tetapi investor tidak mendapat gambaran utuh. Bahkan bisa dibuat seolah-olah transparan, padahal tidak,” ujarnya, Jumat (13/2/2026).
Ia menambahkan, digital forensik dapat membantu aparat penegak hukum menelusuri jejak elektronik, komunikasi internal, hingga perubahan data keuangan, sehingga menjadi dasar bagi jaksa untuk menyusun tuntutan maksimal.
Ruby menilai persoalan ini juga dipicu belum selarasnya regulasi dengan perkembangan teknologi digital.
Pengawasan yang belum komprehensif dinilai membuka ruang manipulasi yang berdampak pada kerugian investor serta terganggunya kepercayaan pasar.
Sidang Berlanjut di PN Bandung
Kasus dugaan manipulasi laporan keuangan di eFishery sendiri mencuat pada 2025 dan kini tengah bergulir di Pengadilan Negeri Bandung.
Perkara ini melibatkan dugaan penipuan serta penggelapan dana oleh jajaran manajemen.
Dalam persidangan lanjutan, mantan CEO eFishery, Gibran Chuzaefah, duduk sebagai terdakwa bersama Angga Hadrian Raditya selaku VP Corporate Finance and Investor Relation, serta Andri Yadi yang juga menjabat Direktur Utama PT Dycodex Teknologi Nusantara.
Baca Juga: Pengadilan Inggris Batalkan Status Teroris Palestine Action
Jaksa Penuntut Umum menghadirkan dua saksi dari divisi Corporate Finance and Investor Relation.
Salah satunya, Head of Corporate Planning Wirabhama Kirana, mengaku diminta menyesuaikan angka-angka dalam laporan keuangan yang akan disampaikan kepada auditor maupun investor.
Dalam persidangan terungkap adanya perbedaan data antara angka yang disampaikan kepada publik dan data internal tim keuangan. Saksi menyebut penyesuaian tersebut disebut telah diketahui dan disetujui manajemen.
Perkembangan perkara ini menyoroti betapa praktik penggelembungan data keuangan dapat dilakukan dengan relatif mudah jika pengawasan lemah.
Praktik semacam itu dinilai berpotensi mencederai iklim investasi nasional, terutama di sektor startup dan teknologi yang sangat bergantung pada kepercayaan investor.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK





