Inggris dan AS Siapkan Kesepakatan Teknologi Bernilai Miliaran Dolar

AKURAT.CO Inggris dan Amerika Serikat akan segera menandatangani perjanjian teknologi besar dalam kunjungan kenegaraan Presiden Donald Trump ke London. Kebijakan ini menandai upaya kedua negara untuk memperkuat kerja sama di bidang strategis.
Fokus utama perjanjian mencakup teknologi masa depan seperti kecerdasan buatan (AI), komputasi kuantum, semikonduktor, telekomunikasi dan eksplorasi ruang angkasa. Kesepakatan ini juga dipandang sebagai bagian dari strategi menghadapi persaingan global, terutama dengan Tiongkok.
Pakta ini juga menghadirkan sejumlah tokoh besar dari industri teknologi global. Nama-nama seperti CEO Nvidia Jensen Huang, CEO OpenAI Sam Altman dan CEO Blackstone Stephen Schwarzman dipastikan ikut terlibat.
Walau detail nilai perjanjian belum diumumkan, langkah ini disebut sebagai strategi untuk menghadapi persaingan dengan Tiongkok. Perang teknologi dan perdagangan yang dipengaruhi geopolitik menjadi latar belakang utama kesepakatan ini.
Baca Juga: Tarik Usulan Pejabat Kunci Perdagangan, Trump Dinilai Melunak ke Tiongkok dalam Perang Teknologi
Parlemen Inggris menjelaskan, tujuan utama dari pakta ini adalah menciptakan kepastian sektor teknologi. Selain itu, Inggris berharap kerja sama dapat memperkuat rantai pasok sekaligus menarik lebih banyak investasi dari AS.
Saat ini, Amerika Serikat tercatat sebagai mitra dagang tunggal terbesar bagi Inggris. Kontribusinya mencapai 18 persen dari total perdagangan dengan nilai sekitar £315 miliar (sekitar Rp7.069 triliun) pada tahun 2024.
Dari angka tersebut, ekspor Inggris ke AS diperkirakan mencapai £196 miliar (sekitar Rp4.398 triliun). Jumlah itu menyumbang sekitar 2 persen dari pendapatan nasional Inggris, sebagaimana dikutip dari TechRadar, Selasa (16/9/2025).
Investasi dua arah antara kedua negara juga mencapai nilai fantastis, sekitar £1,2 triliun (sekitar Rp26.929 triliun). Angka ini menegaskan pentingnya hubungan dagang AS dan Inggris di tengah kompetisi global.
Meski disebut sebagai Kesepakatan Kemakmuran Ekonomi, perjanjian ini masih bersifat tidak mengikat. Inggris memang memperoleh pemangkasan tarif, tetapi beberapa poin masih dinilai kurang menguntungkan dibandingkan kesepakatan era pra-Trump atau Uni Eropa.
Sebagai contoh, tarif impor otomotif memang dipangkas dari 25 persen menjadi 10 persen. Namun, tetap ada batas kuota sebesar 100.000 kendaraan yang bisa masuk ke pasar.
Ketua Komite Bisnis dan Perdagangan Commons, Liam Byrne, memuji peran Perdana Menteri Keir Starmer dalam mengamankan pakta ini. Ia menekankan bahwa kunjungan Presiden Trump bukan hanya simbol, melainkan penentu arah masa depan kerja sama Inggris-AS.
Byrne menambahkan, kesepakatan ini akan menjadi ujian apakah kedua negara bisa membangun masa depan yang lebih aman dan makmur. Jika tidak, keduanya berisiko tetap terjebak dalam perang tarif yang merugikan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK







