Trump Teken Perintah Eksekutif, Negara Bagian AS Dilarang Terapkan Aturan AI Sendiri

AKURAT.CO Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandatangani perintah eksekutif yang membatasi negara bagian dalam menegakkan regulasi kecerdasan buatan (AI) masing-masing. Kebijakan ini mendorong pengaturan AI terpusat di tingkat federal.
Trump menegaskan pemerintah federal ingin menjadi satu-satunya otoritas persetujuan AI. Menurutnya, standar tunggal akan menciptakan kepastian bagi industri dan inovator.
"Kami ingin memiliki satu sumber utama persetujuan," ujar Trump, dikutip dari BBC, Senin (15/12/2025).
Penasihat AI Gedung Putih, David Sacks, menyebut perintah tersebut memberi alat hukum untuk menolak aturan negara bagian yang dianggap memberatkan. Namun, pemerintah menegaskan tidak akan mengganggu regulasi terkait keselamatan anak.
"Ini akan memberikan alat administrasi Trump untuk mendorong kembali aturan negara yang paling memberatkan," kata David Sacks.
Kebijakan ini dipandang sebagai kemenangan bagi raksasa teknologi yang lama mendorong undang-undang AI nasional. Perusahaan menilai fragmentasi aturan berisiko memperlambat inovasi.
Pelaku industri AI berargumen regulasi negara bagian dapat menghambat investasi dan daya saing AS. Mereka khawatir AS tertinggal dari China dalam perlombaan teknologi AI.
Hingga kini, AS belum memiliki undang-undang AI di tingkat federal. Meski begitu, lebih dari 1.000 RUU AI telah diajukan di berbagai negara bagian.
Sepanjang tahun ini, sekitar 38 negara bagian mengesahkan hampir 100 aturan AI. California menjadi salah satu yang paling aktif mengatur transparansi chatbot dan mitigasi risiko model AI.
Beberapa negara bagian lain mengatur penggunaan AI untuk mencegah pelecehan, pelanggaran hak cipta, hingga penyalahgunaan gelar medis. Ragam aturan ini mencerminkan pendekatan lokal terhadap risiko AI.
Kebijakan Trump menuai kritik dari kelompok advokasi yang menilai peran negara bagian tetap penting. Mereka menilai larangan ini melemahkan perlindungan publik tanpa pagar pembatas federal yang kuat.
Sebaliknya, kelompok lobi teknologi menyambut baik langkah tersebut dan mendorong standar nasional yang jelas. Sejumlah pakar hukum menilai satu undang-undang federal lebih ideal, asalkan dirancang komprehensif dan efektif.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal







