Persaingan 5G Amerika Serikat dan Cina Memanas di Tengah Lompatan Menuju 6G

AKURAT.CO Persaingan teknologi 5G antara Amerika Serikat (AS) dan Cina terus meningkat di tengah persiapan menuju era 6G. Kedua negara sama-sama berusaha memperkuat posisi sebagai pemimpin global dalam jaringan komunikasi generasi baru.
AS menjadi negara pertama yang meluncurkan 5G pada 2018, diikuti oleh Korea Selatan pada 2019. Kehadiran Korea Selatan memicu tren Asia sebagai pusat pertumbuhan 5G yang lebih cepat dan canggih dibandingkan AS.
Hingga 2026, AS menargetkan 200 juta pelanggan 5G yang akan mencakup sekitar 72 persen pasar seluler domestiknya. Meski begitu, Cina, Jepang dan Korea Selatan kini mendominasi jaringan global berkat ekspansi besar-besaran.
Cina menempati posisi terdepan dengan membangun jaringan 5G terbesar di dunia. Keberhasilan ini didukung kebijakan pemerintah yang agresif dalam mendanai produksi dan pemasangan infrastruktur.
Eropa baru mulai mengadopsi 5G sejak 2020, dengan Inggris, Jerman, Italia dan Spanyol sebagai pelopor. Namun, keterlambatan transisi dari 4G membuat jumlah stasiun pangkalan di kawasan itu masih rendah dibandingkan Asia.
Di Timur Tengah, Arab Saudi memimpin dengan kecepatan data 5G tertinggi, disusul Kuwait. Wilayah ini menjadi salah satu yang paling cepat merasakan manfaat nyata jaringan 5G, sebagaimana dikutip dari Anadolu Agency, Selasa (30/9/2025).
Laporan industri memprediksi ada 4,5 miliar pelanggan 5G aktif secara global pada 2027. Di Eropa, teknologi ini diperkirakan menguasai hingga 85 persen pangsa pasar seluler.
Rivalitas AS dan Cina juga terlihat pada perebutan infrastruktur 5G. Huawei dan ZTE gencar melakukan ekspansi internasional, sementara AS menekankan keamanan dengan melarang perangkat asal Cina.
Inggris, Kanada dan Australia mengikuti langkah AS membatasi peralatan 5G Tiongkok. Meski demikian, perusahaan Cina tetap menguasai pembangunan jaringan di banyak negara Asia dan Timur Tengah.
Dari sisi teknologi, Qualcomm, Oracle dan Cisco berperan dalam chip dan perangkat lunak, tetapi belum mampu menyaingi dominasi Huawei di infrastruktur. Data paten pun menunjukkan Huawei unggul, diikuti Qualcomm, LG, Samsung, Ericsson dan ZTE.
Selain 5G, perlombaan kini bergeser ke 6G yang ditargetkan hadir pada awal 2030-an. Teknologi ini diyakini akan menghadirkan kecepatan lebih tinggi untuk mendukung kecerdasan buatan, Internet of Things (IoT), hingga sistem otomatisasi masa depan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK






