Akurat
Pemprov Sumsel

Militer AS Dilaporkan Gunakan AI Claude dalam Serangan ke Iran Meski Trump Melarang

Winna Wandayani | 5 Maret 2026, 18:25 WIB
Militer AS Dilaporkan Gunakan AI Claude dalam Serangan ke Iran Meski Trump Melarang
Claude AI (anthropic.com)

AKURAT.CO Militer Amerika Serikat dilaporkan masih menggunakan model kecerdasan buatan Claude milik Anthropic dalam operasi serangan ke Iran. Hal ini terjadi meski Presiden Donald Trump sebelumnya memerintahkan penghentian penggunaan teknologi tersebut oleh seluruh lembaga federal.

Dikutip dari Wall Street Journal, Rabu (4/3/2026), Claude dipakai oleh komando militer AS untuk berbagai kebutuhan operasional. Teknologi AI itu digunakan untuk analisis intelijen serta membantu menentukan target serangan.

Selain itu, Claude juga dimanfaatkan untuk melakukan simulasi skenario di medan perang. Penggunaan AI tersebut dilaporkan terjadi hanya beberapa jam setelah Trump mengeluarkan perintah penghentian penggunaan teknologi Anthropic.

"Perusahaan AI Kiri Radikal yang dijalankan oleh orang-orang yang tidak tahu tentang apa itu Dunia nyata," tulis Trump dalam unggahannya di platform Truth Social.

Konflik Pemerintah AS dan Anthropic

Ketegangan antara pemerintah AS dan Anthropic sebenarnya sudah berlangsung sejak awal 2026. Perselisihan dipicu oleh penggunaan Claude dalam operasi militer sebelumnya, termasuk misi terhadap Presiden Venezuela Nicolás Maduro.

Anthropic menolak penggunaan teknologinya untuk tujuan kekerasan, pengembangan senjata, atau pengawasan massal, karena bertentangan dengan kebijakan internal perusahaan. Sikap tersebut memicu kritik keras dari Pentagon.

Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, bahkan menuduh Anthropic bersikap arogan dan tidak mendukung kebutuhan keamanan nasional. Ia juga menegaskan bahwa militer AS tidak boleh bergantung pada kebijakan ideologis perusahaan teknologi.

Transisi dari Anthropic ke OpenAI

Pentagon mengakui bahwa menghentikan penggunaan Claude secara langsung bukan hal mudah. Pasalnya, teknologi AI milik Anthropic itu sudah terintegrasi dalam berbagai sistem militer.

Meski pemerintah AS memutus hubungan dengan Anthropic, layanan Claude masih akan digunakan sementara. Perusahaan tersebut diberi waktu hingga enam bulan untuk mendukung proses transisi ke teknologi lain.

Di sisi lain, OpenAI mulai mengambil peran tersebut. CEO OpenAI Sam Altman mengatakan perusahaannya telah mencapai kesepakatan dengan Pentagon untuk menyediakan model AI, termasuk ChatGPT, dalam jaringan sistem militer rahasia.

AI Semakin Penting dalam Operasi Militer

Kasus ini menunjukkan semakin pentingnya peran kecerdasan buatan dalam operasi militer modern. Sistem AI seperti Claude dapat membantu militer memproses data intelijen dalam jumlah besar dengan cepat.

Teknologi tersebut juga dapat digunakan untuk menentukan prioritas target dan mensimulasikan berbagai skenario pertempuran. Namun, penggunaan AI dalam perang juga memicu perdebatan etika terkait risiko kesalahan sistem dan pengembangan senjata otonom.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.