Iran Wacanakan Tol Kapal di Selat Hormuz Dibayar Kripto, Ini Fakta dan Dampaknya

AKURAT.CO Iran mulai membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz setelah tercapainya gencatan senjata sementara dengan Amerika Serikat. Meski begitu, situasi di kawasan ini masih belum sepenuhnya normal dan aktivitas kapal tetap terbatas.
Di balik pembukaan tersebut, Iran mengisyaratkan kebijakan baru yang memicu kontroversi. Kapal yang melintas disebut akan dikenakan biaya sebagai syarat untuk melewati jalur strategis itu.
Tidak hanya itu, pembayaran tol tersebut direncanakan menggunakan mata uang kripto. Hal ini dinilai sebagai upaya Iran menghindari sistem keuangan global yang selama ini dibatasi oleh sanksi internasional.
Pemerintah Iran memberi sinyal kuat akan menerapkan tarif bagi kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz. Rencana ini sudah disinggung dalam dokumen parlemen yang dirilis pada awal April.
Sejumlah pejabat mengonfirmasi skema pungutan tersebut sedang disiapkan, termasuk potensi keterlibatan militer. Upaya ini dinilai sebagai strategi baru Iran dalam mengelola jalur strategis di tengah tensi geopolitik.
Besaran Tarif dan Metode Pembayaran Masih Abu-abu
Meski wacana tol sudah mencuat, implementasinya belum sepenuhnya jelas. Laporan sebelumnya menyebut ada pungutan sekitar US$1 (sekitar Rp17 ribuan) per barel minyak.
Namun, belum ada konfirmasi resmi apakah tarif tersebut akan diterapkan secara luas. Analisis perusahaan blockchain juga mencatat ada kapal yang dikenai biaya hingga jutaan dolar sejak pertengahan Maret.
Pembayaran disebut dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari yuan China hingga kripto seperti Bitcoin dan USDT. Meski begitu, belum ada bukti kuat penggunaan kripto secara masif dalam skema ini.
Mengapa Iran Memilih Kripto?
Penggunaan kripto bukan tanpa alasan. Selama bertahun-tahun, Iran menghadapi sanksi ekonomi yang membatasi akses ke sistem keuangan global, sebagaimana dikutip dari Fortune, Sabtu (11/4/2026).
Kripto menjadi alternatif karena tidak bergantung pada perbankan tradisional dan tidak dikendalikan satu negara. Meski transaksi bisa dilacak, aset digital relatif lebih sulit disita dibanding dana di bank.
Iran juga disebut telah mengembangkan berbagai cara untuk menyamarkan aliran dana kripto. Salah satunya melalui penggunaan jaringan dompet digital berlapis.
Dalam beberapa tahun terakhir, ekosistem kripto Iran tumbuh pesat dengan nilai mencapai miliaran dolar. Perkembangan ini kerap dikaitkan dengan upaya menghindari tekanan sanksi ekonomi.
Pemerintah Amerika Serikat merespons dengan menjatuhkan sanksi ke sejumlah platform kripto yang diduga terlibat. Otoritas AS juga menyelidiki penggunaan bursa global untuk mengakali pembatasan finansial.
Dampak ke Perdagangan Global
Jika diterapkan, kebijakan tol berbasis kripto ini berpotensi mengubah dinamika perdagangan energi global. Selat Hormuz sendiri dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Artinya, setiap kebijakan baru di jalur ini bisa berdampak langsung pada harga dan distribusi energi. Selain itu, skema pembayaran kripto lintas negara dapat menjadi preseden bagi negara lain yang terkena sanksi.
Rencana Iran ini tidak sekadar soal pungutan biaya, tetapi juga bagian dari strategi geopolitik dan finansial. Dengan memanfaatkan kripto, Iran berupaya menghindari sistem keuangan global yang selama ini didominasi Barat dan sulit diakses akibat sanksi.
Jika berjalan efektif, hal ini bisa mempercepat penggunaan kripto dalam perdagangan internasional, terutama di sektor energi. Bahkan, skema ini berpotensi ditiru negara lain yang menghadapi tekanan serupa untuk mengurangi ketergantungan pada sistem keuangan berbasis dolar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 8Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK





