Akurat Logo

Google dan YouTube Luncurkan Panduan Kesehatan Mental Remaja, Latih 2.500 Guru BK di Indonesia

Yusuf Tirtayasa | 16 Juni 2026, 19:48 WIB
Google dan YouTube Luncurkan Panduan Kesehatan Mental Remaja, Latih 2.500 Guru BK di Indonesia
Google dan YouTube Luncurkan Panduan Kesehatan Mental Remaja, Latih 2.500 Guru BK di Indonesia

AKURAT.CO Google dan YouTube bersama sejumlah mitra strategis resmi meluncurkan Buku Panduan Kesehatan Mental Remaja (Digital Wellbeing Guidebook) sebagai bagian dari penguatan program AKSI Digital. Inisiatif ini bertujuan membekali keluarga, guru, dan komunitas sekolah dengan keterampilan menjaga kesehatan mental serta keselamatan remaja di ruang digital.

Program tersebut dikembangkan melalui kolaborasi dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), dan Universitas Indonesia, serta mendapat dukungan penuh dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).

Peluncuran panduan ini juga terintegrasi dengan program peningkatan kompetensi resmi melalui BPSDM Komdigi dan DPAPP DKI Jakarta yang menargetkan pelatihan sekitar 2.500 guru Bimbingan Konseling (BK). Hingga saat ini, sebanyak 1.000 guru telah mengikuti pelatihan tersebut.

Dukung Implementasi PP Tunas

Program ini menjadi salah satu langkah strategis dalam mendukung implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Perlindungan Anak dalam Sistem Elektronik (PP Tunas).

Director of Government Affairs and Public Policy YouTube APAC, Celeste Campbell-Pitt, mengatakan YouTube saat ini telah berkembang menjadi salah satu sumber pembelajaran penting bagi generasi muda Indonesia.

“Di Indonesia, YouTube telah berevolusi menjadi sumber daya yang mendorong bangsa dalam kondisi pembelajaran terus-menerus, membuka dunia penemuan dan kemungkinan bagi generasi berikutnya. Dengan bekerja bahu-membahu melalui inisiatif seperti AKSI Digital, kita dapat memastikan generasi mendatang memiliki pengetahuan dan ketangguhan yang mereka butuhkan untuk berkembang di era digital,” ujar Celeste Campbell-Pitt.

Menurutnya, pendekatan YouTube dalam mendukung generasi muda adalah melindungi mereka saat berada di dunia digital, bukan menjauhkan mereka dari teknologi digital itu sendiri.

Panduan Praktis untuk Orang Tua dan Guru

Pakar Psikiatri Anak dan Remaja sekaligus salah satu tim penulis utama Buku Panduan Kesejahteraan Digital, Prof. Dr. dr. Tjhin Wiguna, Sp.KJ(K), menjelaskan bahwa buku tersebut dirancang menggunakan bahasa yang sederhana agar mudah dipahami berbagai kalangan.

Panduan itu membahas berbagai aspek penting terkait kesejahteraan digital remaja, mulai dari perkembangan psikologis di era digital, tantangan kesehatan mental yang muncul, hingga strategi pendampingan yang dapat diterapkan di rumah maupun sekolah.

“Buku saku ini disusun dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami agar dapat digunakan oleh berbagai kalangan, terutama orang tua, guru, dan masyarakat umum,” ujar Prof. Dr. dr. Tjhin Wiguna.

Ia menambahkan bahwa buku tersebut juga menekankan pentingnya komunikasi terbuka, pendekatan suportif, serta keteladanan orang dewasa dalam membangun kebiasaan digital yang sehat bagi remaja.

YouTube Tambah Fitur Keamanan untuk Remaja

Selain peluncuran panduan, Google dan YouTube juga memperkenalkan berbagai fitur yang dirancang untuk membantu orang tua mengelola aktivitas digital anak.

Beberapa fitur yang diperkenalkan antara lain pengatur durasi menonton Shorts dan pengingat waktu tidur (Bedtime Reminders) yang dapat disesuaikan sesuai kebutuhan pengguna.

Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya YouTube untuk meningkatkan kualitas rekomendasi konten bagi remaja melalui prinsip kualitas baru yang lebih mengedepankan konten edukatif, positif, dan sesuai usia.

Di saat yang sama, YouTube juga berupaya membatasi rekomendasi terhadap jenis konten tertentu yang dinilai berpotensi memberikan dampak negatif apabila dikonsumsi secara berlebihan oleh remaja.

YouTube Jadi Ruang Belajar Digital

Kepercayaan terhadap platform YouTube sebagai sarana pembelajaran juga tercermin dalam hasil studi Ipsos yang dirilis pada Agustus 2025.

Hasil survei menunjukkan:

  • 89 persen orang tua menyatakan anak mereka memperoleh manfaat dari YouTube untuk belajar.

  • 92 persen orang tua menilai YouTube membuat pendidikan lebih mudah diakses.

  • 82 persen guru menyebut YouTube membantu siswa memahami materi yang kompleks.

  • 96 persen guru di Indonesia telah mengintegrasikan YouTube ke dalam tugas dan metode pembelajaran.

Temuan tersebut menunjukkan peran YouTube yang semakin besar dalam ekosistem pendidikan digital Indonesia.

Pemerintah Dorong Ketahanan Digital Anak

Pemerintah menyambut positif kolaborasi lintas sektor tersebut sebagai upaya memperkuat perlindungan anak dan kesehatan mental generasi muda di era digital.

Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia, Meutya Hafid, menegaskan bahwa ruang digital saat ini telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari anak-anak Indonesia sehingga membutuhkan perlindungan yang lebih kuat.

“Dunia digital hari ini adalah rumah baru bagi anak-anak kita, di mana kita wajib menjaga pintu dan jendela agar mereka tetap aman di dalam ruang siber,” ujar Meutya Hafid.

Menurutnya, melalui PP Tunas dan peluncuran Digital Well-being Guide, pemerintah ingin membantu orang tua dan guru lebih percaya diri dalam mendampingi anak-anak menghadapi berbagai tantangan di dunia digital.

AKSI Digital Akan Diperluas

Melalui AKSI Digital, Google, YouTube, PDSKJI, RSCM, Universitas Indonesia, dan ICT Watch berupaya menjembatani teknologi global dengan pendekatan kesehatan mental dan literasi digital yang relevan dengan kebutuhan Indonesia.

Setelah tahap percontohan, seluruh mitra berkomitmen melakukan evaluasi serta memperluas jangkauan pelatihan dan materi edukasi ke lebih banyak keluarga, sekolah, dan komunitas di berbagai daerah.

Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat ketahanan digital generasi muda Indonesia sekaligus mendukung terciptanya ruang digital yang aman, sehat, dan produktif.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.