Rumah Prefab China Viral, Bisa Dipasang Sehari dengan Harga Setara Mobil

AKURAT.CO Rumah prefab atau rumah prefabrikasi buatan China semakin menarik perhatian di berbagai negara. Rumah ini diproduksi di pabrik, lalu dikirim dalam bentuk modul untuk dirakit di lokasi dalam waktu singkat.
Popularitas rumah prefab meningkat karena harganya jauh lebih murah dibandingkan rumah konvensional. Bahkan, beberapa model dijual mulai di bawah US$20.000 atau sekitar Rp362 jutaan dalam kondisi siap huni.
Salah satu kisah yang mencuri perhatian datang dari pasangan asal Amerika Serikat. Mereka membeli rumah prefab melalui platform Alibaba dan membagikan pengalamannya di kanal YouTube Grateful Off-Grid.
Dikutip dari China Daily, Senin (13/7/2026), rumah tersebut memiliki luas sekitar 71,5 meter persegi dengan fasilitas lengkap. Di dalamnya sudah tersedia kamar tidur, dapur, kamar mandi, serta jendela yang telah terpasang.
Setelah tiba di lokasi, rumah dirakit menggunakan bantuan derek. Proses pemasangannya hanya membutuhkan waktu satu hari hingga siap ditempati.
Harga awal rumah itu sekitar US$15.800 atau sekitar Rp286 jutaan. Namun setelah ditambah biaya pengiriman, tarif impor dan biaya lainnya, total pengeluaran mencapai sekitar US$28.689 atau sekitar Rp520 jutaan.
Meski begitu, biaya tersebut masih jauh lebih rendah dibandingkan harga rumah di banyak wilayah Amerika Serikat. Tak sedikit warganet yang menilai rumah prefab bisa menjadi solusi hunian bagi masyarakat dengan anggaran terbatas.
Produsen China kini menawarkan berbagai jenis rumah prefab, mulai dari tiny house, rumah kontainer lipat, kabin futuristik, hingga vila modular. Sebagian besar produk dirancang memiliki masa pakai sekitar 50 tahun dengan harga yang bervariasi sesuai ukuran dan tingkat kustomisasi.
Data ShelfTrend menunjukkan minat terhadap rumah prefab terus meningkat di Amerika Serikat. Kata kunci seperti tiny house, modular homes dan prefab homes mencatat ratusan ribu pencarian setiap bulan.
Lembaga riset Mordor Intelligence memperkirakan pasar rumah prefabrikasi global akan mencapai US$152,74 miliar atau sekitar Rp2.768 triliun pada 2026 dan terus bertumbuh hingga 2031. Permintaan yang meningkat membuka peluang besar bagi produsen China untuk memperluas ekspor ke Australia, Timur Tengah, Asia Tenggara, hingga Eropa.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








