Di Tengah Tensi Geopolitik, OJK Sebut Sektor Jasa Keuangan RI Masih Kuat

AKURAT.CO Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai sektor jasa keuangan di negara ini tetap kokoh, didorong oleh kinerja intermediasi yang solid dan dukungan kuat dari likuiditas dan permodalan.
OJK menegaskan bahwa fondasi sektor keuangan Indonesia terus memperlihatkan kestabilan, memberikan keyakinan kepada para pemangku kepentingan.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar menggarisbawahi bahwa kondisi perekonomian global yang kondusif memberikan optimisme yang melebihi ekspektasi sebelumnya. Dengan demikian, sektor jasa keuangan Indonesia menunjukkan ketahanan yang mengesankan di tengah tantangan global yang terus berubah.
Baca Juga: OJK Beri Sanksi 89 Lembaga Jasa Keuangan per Maret 2024
"Dalam kondisi perekonomian global yang cukup kondusif saat ini, OJK merasa lebih optimis daripada ekspektasi sebelumnya," ujar Mahendra di sela konferensi pers Rapat DK OJK bulan Maret 2024 di Jakarta, Selasa (2/4/2024).
Meskipun demikian, situasi geopolitik global, terutama di Timur Tengah dan Ukraina, masih menjadi perhatian karena potensi dampaknya terhadap perekonomian dunia
Selanjutnya, meskipun pertumbuhan ekonomi di Amerika Serikat menunjukkan kekuatan dan melampaui proyeksi sebelumnya, tingkat inflasi tetap stabil.
Menanggapi hal ini, ia mengatakan bahwa Federal Reserve (The Fed) telah meningkatkan proyeksi pertumbuhan ekonomi AS dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) Maret 2024, namun tetap mempertahankan rencana penurunan suku bunga.
"Likuiditas diharapkan meningkat dengan rencana The Fed untuk mengurangi laju quantitative tightening," sambungnya.
Langkah serupa juga dilakukan oleh European Central Bank (ECB) dan Bank of England dengan memberikan sinyal penurunan suku bunga tahun ini. Sementara itu, Bank of Japan meningkatkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam delapan tahun.
Sementara itu, di China, beberapa indikator ekonomi menunjukkan performa di atas ekspektasi, dengan kebijakan fiskal dan moneter yang tetap mendukung.
Di dalam negeri, inflasi di Indonesia meningkat karena kenaikan harga pangan, namun inflasi inti tetap stabil, menandakan kemungkinan pemulihan permintaan di masa mendatang.
"Ini bisa menjadi tanda positif pemulihan konsumsi domestik, yang juga tercermin dari peningkatan impor barang konsumsi pada Februari 2024," jelas Mahendra.
Meskipun sektor manufaktur terus membaik, perlu diawasi agar peningkatan permintaan akan barang konsumsi tidak mengakibatkan penurunan surplus neraca perdagangan, terutama dengan kelanjutan kontraksi ekspor dan peningkatan impor.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 6Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 7Cara Cek Desil Online Oktober 2026 Pakai NIK KTP, Ini Link Resminya
- 8Kalender Jawa 16 Oktober 2026: Weton Jumat Legi Disebut Punya Karakter Unik
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









