Akurat
Pemprov Sumsel

Belanja Kesehatan Masyarakat Indonesia Cuma 3 Persen dari PDB, Jauh dari Negara Maju

Hefriday | 15 Oktober 2024, 19:02 WIB
Belanja Kesehatan Masyarakat Indonesia Cuma 3 Persen dari PDB, Jauh dari Negara Maju

AKURAT.CO Belanja kesehatan di Indonesia masih sangat rendah jika dibandingkan dengan negara-negara maju. 

Menurut Professor of Health Policy and Insurance Universitas Indonesia, Hasbullah Thabrany, yang menyatakan bahwa sektor kesehatan di Indonesia berpotensi besar untuk tumbuh, namun saat ini belum mendapat perhatian yang cukup signifikan. Menurut Profesor Hasbullah, saat ini belanja kesehatan di Indonesia hanya mencapai 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

“Healthcare ini buat Indonesia memang bagian yang menarik karena ini bagian yang sektor yang akan tumbuh di masa depan. Karena kita sampai saat ini dalam hal belanja kesehatan itu sangat rendah. Belanja kesehatan kita rata-rata cuma 3 persen dari PDB,” ujarnya pada Media Gathering IFG Conference 2024, Selasa (15/10/2024).

Baca Juga: Biaya Yang Harus Dikeluarkan Masyarakat Masih Tinggi Meski Ada JKN

Belanja kesehatan di Indonesia jauh tertinggal dibandingkan Amerika Serikat, di mana pengeluaran kesehatan mencapai 18% dari PDB. Perbedaan ini, menurut Hasbullah, disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya adalah kondisi subjektif dari permintaan terhadap layanan kesehatan. 

“Healthcare walaupun kita kasih operasi khusus butuh gratis, gak ada orang rebutan mau dioperasi,” katanya, menekankan bahwa permintaan akan layanan kesehatan bersifat kondisional, tergantung pada tingkat keparahan penyakit.

Hasbullah juga menggarisbawahi bahwa rendahnya belanja kesehatan berkaitan erat dengan keterbatasan akses ke layanan kesehatan, terutama di daerah-daerah terpencil. Mayoritas penyedia layanan kesehatan terkonsentrasi di kota-kota besar, sehingga masyarakat di daerah hanya mencari perawatan ketika kondisi sudah parah.
 
“Healthcare providers kita masih terkonsentrasi di kota-kota besar. Di daerah terpaksa ya kalau sudah serius berat baru datang,” jelasnya.

Selain itu, Hasbullah menyoroti tantangan lain dalam sistem asuransi komersial, yaitu risiko "moral hazard" dan "adverse reaction." Pada asuransi komersial, sering kali terjadi peningkatan permintaan layanan kesehatan akibat adanya jaminan. Orang yang sering sakit cenderung lebih memilih untuk membeli asuransi, yang akhirnya menaikkan biaya belanja kesehatan secara keseluruhan.
 
"Risiko moral hazard dari orang begitu dia dijamin, ya sudah lah saya pakai aja. Dan risiko adverse reaction, orang yang suka sakit yang akan beli asuransi," tambahnya.

Melihat berbagai permasalahan ini, Hasbullah menekankan bahwa perbaikan sistem kesehatan dan peningkatan belanja kesehatan sangat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia. Selain itu, penting bagi pemerintah untuk terus mengembangkan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang menurutnya relatif stabil namun masih memerlukan perbaikan dalam hal harga layanan yang disesuaikan dengan inflasi.
 
“Sekarang sudah punya JKN. Awal-awalnya juga orang enggak percaya. Kalau dia sudah mengalami JKN, dia rasakan pelayanannya kurang memuaskan,” ungkapnya.

Hasbullah juga mengingatkan bahwa sektor kesehatan akan terus mengalami kenaikan belanja, terutama dengan adanya perkembangan teknologi dan peningkatan populasi lansia. “Yang kedua terjadi aging population. Makin tua, dia makin dekat dengan penyakit. Yang ketiga terjadinya teknologi, perkembangan teknologi,” katanya, menutup pernyataannya dengan optimisme bahwa meskipun tantangan sektor kesehatan di Indonesia masih besar, ada harapan untuk pertumbuhan di masa mendatang.
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa