Bursa Asia Lesu Akibat Gonjang-ganjing Korsel, IHSG Malah to The Moon

AKURAT.CO Kisruh politik di Korea Selatan akibat deklarasi darurat militer yang mendadak membuat bursa saham Asia mengalami tekanan. Indeks Kospi anjlok hingga 2,3% pada perdagangan Rabu. Aset-aset terkait Korea Selatan juga tertekan sejak Selasa malam.
Sementara Indeks MSCI Asia Pasifik turun 0,5%, dengan pelemahan merata di pasar saham Australia, Jepang, dan China daratan. Meski begitu, nilai tukar won Korea berhasil bangkit yang sebelumnya sempat melemah.
Di tengah kekacauan tersebut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu (4/12/2024) sore ditutup menguat dipimpin oleh saham-saham sektor barang baku (basic materials).
IHSG ditutup menguat 130,74 poin atau 1,82% ke posisi 7.326,76. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 14,26 poin atau 1,64% ke posisi 883,59.
“Bursa regional Asia menguat di saat pasar dikejutkan dari pergolakan politik di Korea Selatan, dimana Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol secara tak terduga mengumumkan darurat militer pada Selasa (03/12) malam, dengan alasan upaya untuk mencegah partai oposisi mengganggu proses parlementer," sebut Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas melalui lansiran Antara di Jakarta.
Baca Juga: Didorong Sektor Barang Baku, IHSG Nanjak 1,82 Persen ke7.326,76
Dinamika Politik Korsel Panaskan Sentimen Investor
Seperti yang diketahui bersama, Presiden Korea Selatan, Yoon Suk Yeol mengumumkan darurat militer pada Selasa malam, yang kemudian dicabut dengan cepat. Langkah ini memicu ketegangan politik, dengan oposisi menyerukan pemakzulan terhadap presiden dan beberapa pejabat tinggi.
Bahkan Partai Demokrat Korea menuduh Yoon melakukan pengkhianatan karena dinilai mengumumkan darurat militer secara tidak sah. Ketidakpastian ini menambah keresahan investor di Asia yang sudah dihantui oleh melemahnya ekonomi China sekaligus prospek kembalinya Donald Trump sebagai Presiden AS.
Merespon hal tersebut Pakar Strategi Pasar Global di Invesco, David Chao memaparkan bahwasanya saat ini pasar akan tetap bergejolak karena kemungkinan perombakan kabinet dan proses pemakzulan yang tengah dievaluasi.
"Situasi tetap dinamis dan berkembang dan pasar dapat terus mengalami volatilitas karena kabinet yang ada kemungkinan akan dirombak dan kemungkinan proses pemakzulan dapat dievaluasi. Namun, perkembangan-perkembangan ini sepertinya tidak akan berdampak pada ekonomi dan pasar finansial," paparnya melalui lansiran Bloomberg.
Usut punya usut sebelumnya, Kementerian Keuangan Korea Selatan dikabarkan kembali meyakinkan investor dengan mengatakan siap menerapkan semua langkah yang diperlukan untuk menstabilkan pasar keuangan.
Tak hanya Kemenkeu, Bank of Korea (BoK) juga mengadakan pertemuan darurat pada Rabu pagi. Dimana bank sentral tersebut berjanji meningkatkan likuiditas jangka pendek dan menstabilkan pasar.
Merespon hal tersebut, Ekonom Citi, Kim Jin-wook melalui lansiran Reuters menanggapi bahwasanya dengan kacaunya perpolitikan dapat memiliki efek jangka pendek bagi pasar dan ekonomi dengan respons kebijakan yang proaktif. Sedangkan Ekonom Woori Bank, Min Gyeong-won menyebut ketidakpastian politik akan mengganggu minat investor terhadap aset Korea seperti saham dan obligasi pemerintah.
Sejumlah pihak menilai tindakan gegabah Yoon bisa merusak reputasi Korea Selatan sebagai negara demokrasi. Di mana ekonom menilai Yoon (presiden korsel saat ini) terlihat seperti seorang politikus yang terpojok, mengambil langkah putus asa untuk melawan skandal yang terus berkembang, hambatan institusional, dan tuntutan pemakzulan.
Meskipun begitu, beberapa ekonom menilai respon cepat yang diambil oleh Bank Sentral Korsel secara tidak langsung membantu membatasi dampak gejolak politik pada kawasan.
Nasib Kawasan Lainnya
Sementara itu, di China, bank sentral mengambil langkah untuk memperkuat yuan setelah mata uang tersebut melemah ke level terendah satu tahun. Namun, survei terbaru menunjukkan bahwa sektor jasa China masih tumbuh lambat, mencerminkan lesunya permintaan konsumen meski pemerintah sudah meluncurkan berbagai stimulus.
Bergeser sedikit ke bawah, Australia, dollar Australia tertekan hingga turun 1% setelah laporan menunjukkan pertumbuhan ekonomi negara tersebut tetap lambat hingga kuartal ketiga. Pasar keuangan global juga menunggu laporan kajian AS dan pernyataan Jerome Powell dari Federal Reserve untuk mendapatkan petunjuk, apakah suku bunga akan diturunkan kembali di bulan Desember?
Bergerak ke sektor lain, di tengah ketidakpastian global, harga minyak malah stabil pasca pencatatan kenaikan terbesar dalam dua minggu terakhir. Tak hanya minyak, harga Emas juga tetap bertahan karena banyak investor beralih ke aset aman di tengah gejolak politik di Korea Selatan dan Prancis.
Meskipun saat ini ada banyak sekali ketegangan politik baik di Asia maupun Eropa masih mempengaruhi pasar global, investor berharap respons cepat otoritas dapat membatasi dampak lebih luas. Namun, kewaspadaan tetap diperlukan untuk mengantisipasi volatilitas yang mungkin muncul di masa mendatang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 3Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 4Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 7Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 8Kalender Jawa 3 Juni 2026: Watak Weton Rabu Legi, Sosok Jujur yang Disukai Banyak Orang
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









