Akurat
Pemprov Sumsel

MAMI Rekomendasikan Strategi Investasi Adaptif di Tengah Ketidakpastian Global

Hefriday | 12 Maret 2025, 16:33 WIB
MAMI Rekomendasikan Strategi Investasi Adaptif di Tengah Ketidakpastian Global

AKURAT.CO Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) mengimbau para investor untuk menyiapkan strategi investasi yang fleksibel dan terdiversifikasi.

Hal ini disebabkan meningkatnya ketidakpastian global akibat perang tarif, volatilitas pasar finansial, dan kebijakan moneter yang belum menentu.  

Investment Specialist MAMI, Dimas Ardhinugraha, menyatakan bahwa tekanan eksternal ini turut memengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia. 
 
"Kebijakan pemerintah saat ini berupaya menyeimbangkan antara upaya menopang konsumsi jangka pendek dan memastikan investasi sebagai pondasi pertumbuhan ekonomi jangka panjang," ujar Dimas, di Jakarta, Rabu (12/3/2025). 
 
"Kontribusi konsumsi terhadap PDB Indonesia sebelum pandemi berkisar antara 55–58 persen, sedangkan saat ini berada di kisaran 54 persen," sambungnya.
 
 
Ia menilai bahwa pemulihan ekonomi pasca pandemi yang tidak merata menjadi salah satu faktor pelemah konsumsi, sehingga mengancam pertumbuhan ekonomi jangka pendek.  
 
Sebagai respons terhadap kondisi ini, pemerintah telah mengadopsi berbagai kebijakan populis untuk menopang daya beli masyarakat.
 
Program-program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), kenaikan Upah Minimum Regional (UMR), peningkatan gaji Aparatur Sipil Negara (ASN), serta pembatalan kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) diharapkan dapat memberikan dorongan cepat bagi ekonomi nasional.  
 
Konsumsi masyarakat di Indonesia memiliki proporsi yang cukup tinggi, mencapai 74% dari pendapatan.  
 
"Investasi tetap harus menjadi prioritas utama untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Pemerintah menargetkan pertumbuhan investasi sebesar 8 persen agar target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen dapat tercapai," tegas Dimas. 
 
Salah satu langkah strategis yang diambil adalah pembentukan Danantara, yang diharapkan mampu mengoptimalkan pengelolaan aset negara.
 
Meski masih ada kekhawatiran mengenai transparansi pengelolaan, inisiatif ini dianggap sebagai bagian penting dari upaya meningkatkan investasi dalam negeri.  
 
Di sektor pasar keuangan, ketidakpastian global telah memicu tekanan pada pasar saham Indonesia yang mengalami penurunan tajam.
 
Di sisi lain, pasar obligasi menunjukkan daya tahan yang lebih baik, terutama berkat kebijakan Bank Indonesia (BI) yang memberikan ruang bagi pemangkasan suku bunga.  
 
Dimas menyoroti bahwa stabilitas nilai tukar rupiah dan pelonggaran likuiditas merupakan kunci untuk memulihkan kepercayaan investor.  
 
"Secara historis, pasar saham cenderung mencatat kinerja positif saat nilai tukar rupiah stabil atau menguat, serta kondisi likuiditas melonggar," ujarnya. 
 
Penurunan imbal hasil Sertifikat Rupiah Bank Indonesia (SRBI) telah mendorong investor untuk kembali melirik Surat Berharga Negara (SBN) sebagai salah satu instrumen investasi yang menarik.
 
Hal ini menunjukkan adanya pergeseran preferensi di antara investor, terutama di tengah fluktuasi kondisi pasar global.  
 
Meski demikian, Dimas mengingatkan bahwa risiko tetap ada. Dinamika pasar global yang tinggi dan persepsi terhadap kebijakan domestik dapat mempengaruhi sentimen pasar secara signifikan. 
 
"Investor harus memiliki portofolio investasi yang terdiversifikasi guna meminimalkan risiko, namun tetap "stay invested" untuk menangkap potensi pembalikan arah pasar," tambahnya. 
 
Di sisi eksternal, kebijakan tarif yang diumumkan oleh Amerika Serikat menambah tantangan bagi ekonomi global.
 
Meskipun pengenaan tarif sebesar 25% terhadap baja Indonesia ke AS memiliki dampak langsung yang terbatas mengacu pada fakta bahwa ekspor baja hanya mencakup 0,07% dari total ekspor risiko tidak langsung dari perlambatan perdagangan global tetap menjadi perhatian utama.  
 
Dimas menutup dengan menyoroti arah kebijakan moneter. The Fed diperkirakan akan memangkas suku bunga sebesar 50 basis poin tahun ini, sementara BI berupaya menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar dan pertumbuhan ekonomi. 
 
"Proyeksi MAMI untuk BI Rate sampai akhir tahun adalah di kisaran 5,25–5,50 persen," tukasnya.
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa